Melihat orang tua yang belum bisa menikmati menua tanpa memikul banyak beban menjadi seporsi kekalahan besar bagi seorang anak laki-laki. Menyisakan perasaan gagal karena masih begini-begini saja, kerja dengan gaji kecil pas-pasan.
Duduk bersandar di kamar kosan yang agak pengap, air mata Hedi (27) mengucur tidak terbendung dengan isak yang bersikeras ia tahan agar tidak meledak. Ia tidak ingin ada yang mendengar tangisnya malam itu, dari balik pintu kamarnya di sebuah kos murah di Surabaya, Jawa Timur.
Momen itu terjadi pada Mei lalu, saat usia Hedi sudah menginjak 27. Usia yang dulu ia bayangkan sudah mencapai banyak hal.
Ketika kenyataannya jauh dari rencana, masih begini-begini saja, belum jadi apa-apa, dan belum mencapai apapun, batinnya diserang sara bersalah terhadap kedua orang tuanya di kampung halaman di Bojonegoro, Jawa Timur.
“Aku masih struggle sebagai pekerja swasta dengan gaji kecil pas-pasan di Surabaya, saat banyak teman sudah bisa beranjak jauh,” tuturnya lirih.
Seporsi kekalahan anak laki-laki: kerja gaji kecil tidak sanggup bantu orang tua renovasi dapur-beli tv
Tumpukan rasa bersalah itu dipicu oleh banyak hal. Salah satu yang sangat memukul Hedi adalah perkara renovasi dapur.
Suatu kali saat mengangkat telepon dari rumah, Ibu Hedi mengungkapkan keinginan untuk memperbaiki dapur rumah. Cat mengelupas, genteng bocor, dan beberapa barang sudah waktunya diganti dengan yang baru.
Mendengar itu, Hedi hanya bisa merespons normatif: sekadar memastikan separah apa kondisinya sehingga harus segera direnovasi.
Di momen lain, pernah si Ibu bercerita kalau televisi di rumah sedang rusak. Membuat rumah terasa sunyi, tanpa siaran sinetron yang baisa ditonton Bapak dan Ibu Hedi.
“Dua kesamaan dari dua momen itu, Ibu bilang masih mengumpulkan uang, dicicil satu persatu. Dan aku, sama sekali nggak punya keberanian untuk bilang, ‘Kutransfer uang buat renovasi dapur dan memperbaiki tv, atau seharusnya ya membelikan tv baru.’ Aku nggak punya keberanian bilang itu,” ungkap Hedi.
Pasalnya, Hedi sendiri hidup dengan gaji kecil pas-pasan meski sudah bertahun-tahun kerja di Surabaya. Buat hidup Hedi sehari-hari di perantauan saja masih serba kurang. Nyaris tidak pernah ada uang lebih yang bisa ia sisihkan.
Kenyataan itu menjadi seporsi kekalahan bagi Hedi. Apalagi jika membandingkan dirinya dengan sejumlah teman yang pekerjaan dan keuangannya jauh lebih baik. Karena mereka sudah sampai di fase hidup: leluasa mengeluarkan uang untuk membelikan sesuatu untuk orang tua masing-masing.
Hanya bisa antar Ibu berobat, tapi menghindar saat membayar obat
Seporsi kekalahan Hedi—sebagai anak laki-laki yang seharusnya menjadi tumpuan orang tua saat mereka menua—terus bertambah sepanjang ia masih belum jadi apa-apa. Ia merasa menjadi anak gagal saat menyadari kalau untuk sekadar menanggung biaya berobat Ibunya saja ia tidak sanggup.
Sering ketika sedang teleponan dengan sang Ibu, Ibu Hedi mengaku sedang tidak enak badan. Entah kepala pusing, meriang, batuk berat, atau keluhan-keluhan lain.
“Seporsi kekalahan besarku adalah, aku cuma bisa meminta Ibu supaya cepat pergi berobat. Ya, aku hanya bisa meminta Ibu melakukan itu. Tapi aku nggak bisa berkata tegas bakal ngirim uang untuk biaya periksanya,” tutur Hedi lirih.
Begitu juga ketika Hedi kebetulan sedang pulang kampung ke Bojonegoro. Saat mendapati Ibunya tidak enak badan, Hedi hanya bisa sebatas memaksa mengantarkan Ibu ke klinik kecamatan.
“Aku biasanya cuma nunggu di luar. Aku cuma bisa mengantar, untuk menebus obat dan biaya periksa, ya tetap dari uang ibu sendiri. Aku nggak sanggup lihat pemandangan itu, jadi aku memilih nunggu di luar,” katanya.
Seporsi kekalahan besar anak laki-laki: merasa gagal karena orang tua menua dengan tetap bekerja
Lebih dari itu, rasa bersalah dan perasaan gagal Hedi lebih besar karena kenyataan kalau alih-alih bisa menua dengan tenang tanpa beban, orang tuanya masih harus tetap bekerja.
“Karena aku nggak bisa diandalkan. Bapak dan Ibu masih harus bersakit-sakitan, berpanas-panasan, di ladang dan pasar, agar kehidupan sehari-hari tetap terpenuhi,” beber Hedi.
Dulu sekali, ketika masih kuliah, Hedi punya ambisi besar untuk membahagiakan orang tua: membiarkan mereka menua dengan lebih banyak waktu bersantai di rumah, tidak perlu bercapek-capek lagi.
Hedi bahkan sering mengungkapkan ambisi itu di hadapan sang Ibu: “Buk, doakan saja. Nanti kalau Hedi lulus, terus kerja layak, sukses, Ibuk dan Bapak sudah nggak harus ke sawah atau pasar lagi. Nikmati hidup, biar Bapak dan Ibuk menikmati masa tua.”
Ketika ambisi tersebut ternyata masih sangat jauh dari kondisi Hedi hari ini, tidak pelak jika sedang sendiri di kamar kos atau berkendara menyibak keramaian jalanan Surabaya, ia bisa tiba-tiba menangis. Menangisi gaji kecil pas-pasan sebagai pekerja swasta, meratapi ketidakberdayaan mencari pekerjaan lain yang lebih baik, dan mengutuki diri sendiri karena masih gagal membuat orang tua menikmati masa tua tanpa memikul beban lagi.
Kalimat hiburan dari Bapak dan Ibu membuat semakin bersalah
Orang tua Hedi sebenarnya tidak pernah banyak menuntut dari Hedi. Bahkan berkali-kali menegaskan kalau mereka tidak ingin menua dengan menjadi beban bagi anak-anaknya.
Itulah kenapa orang tua Hedi malah berpikir, selama masih kuat, tetap bekerja di masa tua adalah pilihan. Mereka juga bahkan selalu bilang, hasil kerja Hedi ya untuk hidup Hedi sendiri. Sementara hidup orang tua biarlah dipikir orang tua.
Bagi Hedi, itu hanyalah kalimat hiburan agar Hedi tidak merasa terbebani. Karena kenyataannya, terus memikul beban di masa tua membuat Bapak dan Ibunya kelihatan sangat kepayahan.
“Tapi tetap saja, aku merasa bersalah karena masih menjadi anak gagal. Apalagi aku adalah anak laki-laki, yang seharusnya bisa mereka andalkan di masa tua mereka,” pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
