ADVERTISEMENT

Seporsi Kekalahan Sarjana di Jakarta: Kerja Keras Hidupi Orang Tua tetap Dianggap Sia-sia karena Gajinya Setara Lulusan SMA

sarjana kerja di jakarta.MOJOK.CO

Cari di Jakarta tak pernah muda, bahkan untuk para sarjana sekalipun. Saat sudah kerja banting tulang demi keluarga, tetap saja masih dihina hanya karena gaji setara lulusan SMA.

***

Pertengkaran hebat itu pecah di ujung telepon. Fadlan (bukan nama sebenarnya), dipaksa orang tuanya untuk ikut patungan menanggung utang kakaknya yang tiba-tiba menumpuk. 

Masalahnya, desakan itu datang di tanggal tua. Dompet Fadlan sedang benar-benar kosong. Niatnya jujur mengatakan tidak punya uang justru dibalas dengan rentetan makian yang merobek harga dirinya. 

“Pokoknya dibilang aku tuh di Jakarta ngapain aja kok sampai nggak punya uang buat nolong. Maksudku, ya, dia yang kena pinjol kok orang lain yang ikut repot,” ujarnya, sambil kesal, Selasa (23/9/2026) lalu.

Malam itu juga, dengan perasaan hancur, ia memutuskan cut-off. Ia menolak tahu-menahu lagi soal urusan finansial kakaknya yang berantakan.

Namun, bukan paksaan membayar utang itu yang meninggalkan luka paling dalam. Ada kata-kata lain dari orang tuanya yang terus terngiang dan membuat perjuangannya di ibu kota terasa sia-sia.

“Buat apa kuliah kalau gajimu setara anak SMA?”

Fadlan sendiri adalah lulusan S1 dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Semarang. Ia mengambil jurusan elite yang selama ini dikenal sebagai tempatnya anak-anak pintar. 

Ekspektasi keluarganya tentu melangit. Begitu lulus menjadi sarjana, ia diharapkan langsung mapan dan bisa mengangkat derajat ekonomi keluarga.

Kenyataannya, selama dua tahun bekerja di Jakarta, Fadlan nyaris tidak pernah menikmati jerih payahnya sendiri. Gajinya masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta. 

Setiap awal bulan, gajinya hanya numpang lewat untuk membayar sewa kamar kos, biaya makan sehari-hari, ongkos transportasi, dan tentu saja, transferan rutin ke kampung halaman. 

“Saat keluarga di kampung butuh uang, aku selalu mengusahakan. Bahkan kalau lagi sulit sekalipun,” tegas sarjana ini.

Nahasnya, segala pengorbanan itu seolah tidak pernah cukup. Ia berkali-kali dibanding-bandingkan dengan anak tetangganya di kampung yang hanya mengantongi ijazah SMA. Tetangganya itu kebetulan sudah bisa merenovasi rumah dan membeli sapi, standard sukses khas masyarakat perdesaan.

Puncaknya terjadi pada malam pertengkaran itu. Sebuah kalimat menohok keluar dari mulut keluarganya. 

“Ngapain capek-capek kuliah kalau gajimu sama kayak anak SMA?” kata Fadlan, menirukan kalimat yang menyakiti hatinya itu.

Bagi seorang perantau yang berdarah-darah memegang ijazah sarjana, kalimat itu adalah pukulan telak yang menghancurkan seluruh kebanggaannya.

Sarjana cari kerja di Jakarta tak semudah membalik telapak tangan

Orang di kampung tidak pernah tahu seberapa keras usaha Fadlan untuk sekadar bisa bertahan hidup di Jakarta. Mencari pekerjaan yang layak di ibu kota, kata dia, “tak ubahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.”

Sebelum mendapat pekerjaan tetap, Fadlan sempat menyambung hidup dengan menjadi freelance yang bekerja dari rumah. Ia menyebar puluhan hingga ratusan surat lamaran ke berbagai perusahaan, tetapi nyaris tidak ada satu pun yang memberikan balasan. 

Fadlan baru mendapat kepastian saat ia nekat berkeliling mendatangi job fair. Ia akhirnya diterima bekerja, meskipun kontrak yang disodorkan menawarkan gaji pokok di bawah standard UMR Jakarta. 

Saat itu, perusahaannya hanya menjanjikan penghasilannya bisa menyentuh angka UMR jika ia berhasil mencapai target dan mendapatkan bonus kinerja. Fadlan mau tak mau menandatangani kontrak itu, daripada nganggur. 

Ironi sarjana pengangguran di ibu kota

Meski sering dicibir keluarga, Fadlan mengaku dirinya masih sedikit beruntung. Ia setidaknya punya rutinitas dan slip gaji setiap bulan. 

Di kontrakannya, realitasnya jauh lebih menyedihkan. Ada belasan sarjana yang bernasib lebih buruk, luntang-lantung menyandang status pengangguran. Sebagian besar dari mereka akhirnya menyerah pada keadaan dan memilih menjadi driver ojol sekadar untuk bertahan hidup.

Fakta di lapangan memang sekeras itu. Ijazah tinggi tidak lagi menjadi jaminan untuk masuk ke dunia kerja layak. 

Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta yang dirilis bulan ini (September 2026) mempertegas ironi tersebut. Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mencatat ada 79.125 lulusan perguruan tinggi di Jakarta yang menganggur pada Agustus 2025. 

Rinciannya terdiri dari 50.274 laki-laki dan 28.851 perempuan, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di angka 6,06 persen.

Angka sarjana yang menganggur ini terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Sebagai perbandingan, pada Agustus 2024 jumlahnya tercatat di angka 56.146 orang, dan Agustus 2023 di angka 61.869 orang. 

Secara keseluruhan, total pengangguran di Jakarta pada Agustus 2025 menembus angka 330.335 orang. 

Kerja di Jakarta, gaji setara Kulonprogo

Angka-angka dari BPS itu, salah satunya, termanifestasi dalam cerita Tria. Perempuan asal Kulonprogo ini belum genap enam bulan merantau ke Jakarta. Ia datang menyusul suaminya yang baru saja diterima bekerja sebagai tenaga pengajar di sana.

Menurutnya, biaya hidup di Jakarta yang “brutal” membuat gaji suaminya hanya cukup untuk menyambung napas sehari-hari pasutri baru tersebut. Sadar akan kondisi finansial yang pas-pasan, Tria harus mencari pekerjaan untuk menambah pemasukan keluarga. 

Namun, cari kerja di Jakarta tak semudah itu. Berbulan-bulan lamanya Tria berstatus pengangguran.

Hingga akhirnya, sebuah tawaran kerja datang. Tria menerimanya tanpa pikir panjang, meski gaji yang disodorkan benar-benar mencekik, cuma Rp2,5 juta per bulan. 

“Bahkan sama UMR Jogja pun kalah tinggi, malah kayak rata-rata gaji di Kulonprogo. Jauh lah sama standard di Jakarta,” kata Tria.

Tria menelan gengsinya bulat-bulat. Ia menerima pekerjaan itu karena Jakarta tidak memberinya pilihan yang lebih baik. Baginya, di kota ini, banyak sarjana yang terpaksa memakan seporsi kekalahan setiap harinya, menukar ijazah mereka dengan gaji seadanya hanya agar bisa bertahan hidup sampai bulan berikutnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 September 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.