Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Februari 2026
A A
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Ilustrasi - Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keputusan saya pindah dari Surabaya ke Jogja sering kali dipertanyakan banyak orang yang saya temui. Kok bisa, dari sebuah kota ber-UMK tinggi, memilih ke daerah yang UMP-nya tidak sebanding dengan biaya hidup? Karena sudah teramat sering disangsikan, saya akhirnya menyimpulkan: ternyata masih banyak orang yang salah paham tentang situasi kerja di Surabaya. Mengira kalau di Kota Pahlawan gaji saya lebih layak. 

Itu terjadi juga di beberapa kenalan saya yang masih atau pernah bekerja di Surabaya tiap berbincang dengan orang daerah lain. Pertanyaan kepada mereka selalu dimulai dengan nada kaget: “Loh, bukannya di Surabaya kamu bakal lebih sejahtera finansial?” Padahal belum tentu. 

Surabaya, sebagai salah satu level up city di Indonesia ternyata masih disalahpahami oleh banyak orang—khususnya yang belum pernah sama sekali merasakan kerja di sana. Branding Surabaya sebagai “kota industri dan perkantoran” sudah terlanjur kuat. 

UMK Surabaya besar, tapi gaji belum tentu

Mulai dari saya sendiri. Saya dulu bekerja di sebuah media online. Gaji saya ada di angka Rp2,5 juta. Tanpa BPJS. Itupun masih ada potensi dipangkas jika target bulanan tidak tercapai. Jauh dari gaji saya di Jogja pada bidang yang sama. 

Sejumlah teman (lulusan perguruan tinggi) yang masih kerja di Surabaya pun mengalami hal yang sama. Sebenarnya narasi “pusat industri besar, perkantoran besar, UMK tinggi” memang tidak salah. Namun, bukan berarti gaji yang diterima juga sama besar. 

Sejumlah teman, yang rata-rata kerja di sektor swasta, itu rata-rata mendapat gaji di angka Rp2 juta-Rp2,5 juta. Bahkan, beberapa kenalan yang lulusan SMA/SMK, mereka bisa menerima gaji di angka Rp1,5 juta. Tanpa BPJS, karier mandek.

Kenaikan gaji pun sangat pelan bahkan ada yang tidak beranjak sama sekali (gajinya benar-benar mandek segitu saja walaupun sudah kerja bertahun-tahun: rata-rata mereka sudah kerja sejak 2021). 

Sementara, merujuk Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/937/013/2025, UMK Kota Pahlawan di tahun 2026 ini sudah di angka Rp5.288.796 perbulan. Kalau saya terakhir—setalah bekerja dari 2021-2023—UMK Surabaya pada tahun 2023 Rp4.525.479 perbulan. Tapi gaji saya tetap istikamah di angka Rp2,5 juta. 

Surabaya banyak perkantoran, tapi sedikit yang bisa kerja formal

Surabaya banyak perkantoran, iya. Dalam bayangan orang-orang yang saya dan sejumlah teman temui, kerap menganggap kalau sudah bilang “sarjana kerja di Surabaya”, pasti kerjanya di sektor formal. 

Padahal belum tentu. Merujuk data BPJS Jawa Timur, pekerja di sektor formal justru hanya 38,3%. Sementara 61,7%-nya adalah pekerja sektor informal. 

Sialnya, sering kali pekerja sektor informal ini berada di posisi tidak diuntungkan: dapat kontrak jangka pendek, rentan PHK, gaji lebih rendah, tanpa jaminan sosial, bahkan sering overwork (overwork tapi underpaid). 

Tunjangan Hari Raya (THR), ini beruntung-beruntungan memang. Syukurnya, saya dulu selalu dapat THR satu kali gaji sesuai aturan UU Cipta Kerja. Setidaknya setiap lebaran saya masih bisa pulang kampung dengan saku sedikit lebih tebal. 

Namun, ada seorang teman perempuan yang mengaku tidak pernah menerima THR sama sekali semenjak kerja pada 2022-2024 (sebelum akhirnya memilih keluar untuk menikah). Ada juga yang THR-nya cuma puluhan ribu rupiah. 

Biaya hidup lebih murah, asal tahan dengan penderitaan

Soal biaya hidup, kalau dibandingkan dengan Jakarta, jelas lebih murah. Kalau dibandingkan dengan Jogja, ya tipis-tipis lah. 

Iklan

“Di Surabaya itu banyak makanan murah, enak-enak lagi,” begitu kata setiap orang setiap kali saya mengaku pernah kerja di Surabaya. 

Ini relatif. Begini, makanan enak, banyak. Surabaya surga kuliner memang. Tapi aspek harga juga harus dipertimbangkan. 

Kalau gaji cuma Rp2,5 juta atau bahkan Rp1,5 juta, jelas harus menahan diri untuk makan enak setiap saat. Misalnya saya. Saya dulu membatasi pengeluaran makan di Rp20 ribu perhari. Itu maksimal. Beberapa teman (yang asli Surabaya) jauh lebih beruntung karena kalau urusan makan masih bisa ikut rumah. 

Saya mencoba mencari-cari warung makan dengan harga murah. Harga Rp8 ribuan benar-benar masih ada, di gang-gang sempit perkampungan padat. Tapi memang harus kuat makan itu-itu mulu: sudah cukup enak lah untuk orang yang berkantong tipis. 

Begitu juga dengan indekos. Harga kos Rp400 ribu mungkin terdengar murah. Tapi bagi pekerja dengan gaji stunting, kalau bisa ditekan lagi biaya kosnya, lebih baik ditekan. Saya dulu ngekos di harga Rp200 ribu. Seorang teman bahkan sampai ngekos di harga Rp150 ribu (beneran ada, loh). Tapi ya harus siap-siap menderita: karena berharap apa dari kos semurah itu? 

Surabaya pusat hiburan, tapi tidak menghibur

Sebagai kota metropolitan, Surabaya memang dipenuhi gemerlap pusat hiburan. Sehingga, banyak orang beranggapan: ah kalau mau cari hiburan pasti tidak susah, tinggal pilih. Iya kalau yang dibayangkan hiburan melulu soal kegemerlapan ya. 

Di Surabaya, tercatat ada 20+ pusata perbelanjaan modern (mall). Belum kafe/coffee shop, restoran enak, hingga kelab malam, dan lain-lain. 

Siapa yang bisa leluasa mengakses? Tentu yang bergji UMK atau di atasnya. Kalau gaji stunting, pilihannya tinggal dua: klumbrak-klumbruk di kos (untuk menekan pengeluaran) atau di tempat-tempat hiburan kelas bawah seperti warung kopi pinggir kali, taman-taman kota, dan sejenisnya. 

Kalau nekat ke tempat hiburan yang naik level sedikit (misalnya jajan atau belanja di mall, atau sekadar nonton di bioskop), bukannya terhibur malah menderita: pas tahu kalau uang yang dikeluarkan seharusnya bisa buat makan untuk beberapa hari ke depan, beli bensin, atau beli paket data. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: biaya hidup surabayagaji surabayaindustri surabayakerja di surabayaloker surabayaSurabayaumk surabayaumr surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Edumojok

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Tunggu Aku Sukses Nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Mari Bertaruh, Kita Semua Memiliki Tante Yuli di Dunia Nyata

4 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.