Perjalanan pulang ke Kulon Progo dari Jogja melalui Jalan Wates bukan sekadar urusan jarak dan waktu saja. Ada perasaan was-was namun juga dirindukan.
***
Bagi sebagian orang, akhir pekan adalah kesempatan untuk beristirahat setelah lima hari bekerja. Namun, bagi Maria (27), akhir pekan justru menjadi waktu untuk menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer dari Gamping, Sleman, menuju rumahnya di Glagah, Temon, Kulon Progo.
Perjalanan itu bukan perkara sederhana. Ada jalan yang harus diwaspadai, rasa lelah yang sesekali datang, hingga orang tua yang selalu menunggu kepulangannya.
Lima hari mencari penghidupan di Jogja, dua hari kembali ke Kulon Progo
Maria sudah terbiasa membagi kehidupannya di dua tempat berbeda. Pada hari kerja, perempuan berusia 27 tahun ini menjalani aktivitas pekerjaan di daerah Gamping, Sleman. Sementara itu, rumah dan kedua orang tuanya berada di Desa Glagah, Kapanewon Temon, Kulon Progo.
Rutinitas tersebut membuatnya harus menempuh perjalanan pulang setiap akhir pekan. Biasanya, Maria memilih berangkat pada Jumat sore setelah menyelesaikan pekerjaan. Kalau tidak memungkinkan, Sabtu pagi menjadi pilihan berikutnya.
“Saya harus pulang Jumat sore, atau paling tidak Sabtu pagi mruput. Jangan sampai pulang Jumat malam karena memang jalanan yang saya lalui cukup ekstrem. Apalagi dari jalan Wates ke barat itu sudah harus benar-benar waspada,” cerita Maria ketika dihubungi melalui WhatsApp.
Jarak rumah dan tempat kerjanya diperkirakan mencapai 40 kilometer. Dengan sepeda motor, perjalanan normal membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam. Ketika lalu lintas padat, waktu tempuhnya bisa bertambah menjadi dua setengah jam.
Bagi Maria, perjalanan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas. Namun, terbiasa bukan berarti selalu nyaman.
Melewati Wates dan Sentolo, perjalanan pulang yang butuh kewaspadaan
Ada alasan mengapa Maria menghindari perjalanan malam. Jalur yang menghubungkan Gamping dengan Temon mengharuskannya melewati kawasan Sentolo dan Wates sebelum sampai di rumah.
Menurut pengalamannya, ruas Jalan Wates menuju Sentolo merupakan salah satu bagian perjalanan yang membutuhkan kewaspadaan lebih.
“Di jalan Wates arah Sentolo itu memang cukup ndrawasi, mas. Apa ya, kayak butuh kewaspadaan sih kalau lewat jalan itu,” ujarnya.
Maria pernah mencoba jalur alternatif melalui Bantul. Sayangnya, pilihan tersebut tidak membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Jalannya cukup terjal, penerangannya lebih minim, dan suasananya cenderung sepi.
Alih-alih merasa lebih aman karena tidak terlalu ramai kendaraan, Maria justru merasa takut ketika melewatinya.
Pengalaman Maria bukan tanpa konteks. Pada Oktober 2026, Satlantas Polres Kulon Progo memetakan sejumlah ruas yang perlu diwaspadai karena memiliki risiko kecelakaan, termasuk Jalan Nasional Wates–Yogyakarta di wilayah Sentolo dan Jalan Nasional Wates–Purworejo di wilayah Temon.
Polisi menyebut kelalaian pengendara atau human error sebagai salah satu faktor dominan penyebab kecelakaan. Artinya, kondisi jalan yang secara fisik baik sekalipun tidak otomatis membuat perjalanan bebas risiko.
Maria sendiri pernah mengalami ban bocor pada malam hari, motor mogok tanpa penyebab yang diketahuinya, hingga kehujanan deras di tengah perjalanan. Pengalaman yang paling membekas justru ketika ia menyaksikan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan seseorang meninggal di tempat.
“Itu bikin traumatis sih karena kejadiannya persis di depan mata,” katanya.
Rp50 ribu untuk perjalanan pulang, belum termasuk kejadian tak terduga
Perjalanan rutin tentu membutuhkan biaya. Sebelum berangkat dari Gamping, Maria biasanya memastikan tangki sepeda motornya sudah penuh.
Ia mengalokasikan sekitar Rp30 ribu untuk mengisi bensin. Sementara itu, uang Rp50 ribu disiapkan untuk kebutuhan perjalanan, termasuk membeli makanan atau jajanan ketika berhenti sebentar.
“Pokoknya uang Rp50 ribu cukup kalau di jalan tidak terjadi apa-apa,” ujarnya.
Namun, perhitungan tersebut hanya berlaku ketika perjalanan berjalan normal. Ban bocor, kendaraan mogok, atau kebutuhan mendadak lainnya tentu bisa membuat pengeluaran bertambah.
Waktu tempuh pun tidak selalu bisa diperkirakan. Maria mengaku perjalanan yang biasanya memakan waktu dua jam dapat molor hingga tiga jam ketika akhir tahun tiba. Arus kendaraan wisatawan yang memasuki wilayah Kulon Progo dan pekerjaan perbaikan jalan menjadi beberapa hal yang menurutnya memengaruhi perjalanan.
Menjadi perantau dari Kulon Progo yang bekerja di Jogja ternyata tidak selalu menyenangkan, meskipun jarak kedua wilayah tersebut masih terbilang dekat. Ada ongkos yang harus disiapkan, waktu istirahat yang terpotong, dan risiko perjalanan yang harus dihadapi setiap pekan.
Ada bapak dan ibu yang selalu menunggu kepulangannya di Kulon Progo
Di balik perjalanan yang melelahkan itu, ada alasan sederhana yang membuat Maria tetap mengusahakan kepulangannya: kedua orang tuanya.
Sebagai anak terakhir, Maria merasa memiliki tanggung jawab untuk menemani bapak dan ibunya di rumah. Kakak-kakaknya sudah mempunyai rumah tangga masing-masing sehingga kedua orang tuanya lebih sering tinggal berdua. Karena itu, meskipun sesekali merasa lelah, Maria tetap berusaha pulang.
“Kalau biasanya sudah merasa lelah tetap tak paksakan pulang, mas. Soalnya kan saya anak terakhir. Kakak-kakak saya sudah pada punya rumah sendiri, jadi kalau tidak pulang kasihan bapak ibu di rumah cuma berdua,” tuturnya.
Kepulangannya juga selalu disambut dengan perhatian khas orang tua. Maria biasanya mengabari terlebih dahulu kapan akan sampai di rumah. Bahkan, ketika baru tiba, bapak dan ibunya sudah sibuk menanyakan berbagai hal.
“Kalau pulang, mereka yang sudah riweh nanyain, ‘Dah makan belum? Masih punya uang nggak? Gimana kerjaan?’ dan sebagainya,” cerita Maria.
Setelah sampai, ia biasanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama kedua orang tuanya di teras rumah. Setelah itu, barulah mandi dan masuk kamar untuk beristirahat. Rutinitas sederhana tersebut agaknya menjadi sesuatu yang sulit digantikan oleh kehidupan di tempat kerjanya.
Malas kembali ke Jogja, tetapi tagihan tidak bisa diajak kompromi
Jika perjalanan pulang selalu memiliki alasan emosional, perjalanan kembali ke Gamping pada Minggu malam justru menghadirkan perasaan sebaliknya.
Maria mengaku sering merasa malas ketika harus kembali ke Jogja. Apalagi setelah menghabiskan akhir pekan bersama keluarga, ia harus kembali menjalani rutinitas pekerjaan.
“Wah, itu mager banget sih. Jujur kayak malas sekali untuk balik ke Jogja. Tapi bagaimana ya, harus kerja juga. Biasanya cara mengusir malasnya itu dengan mengingat tagihan,” katanya sambil tertawa.
Maria sebenarnya tidak tertarik mencari pekerjaan di Kulon Progo. Menurutnya, Jogja menawarkan kesempatan berkembang, relasi, dan lingkungan kerja yang selama ini membuatnya nyaman.
Namun, ketika berbicara mengenai tempat tinggal, ia justru lebih memilih Temon. Selain ingin menemani kedua orang tuanya, Maria merasa kehidupan di Temon lebih tenang dan tidak sepadat Jogja. Kedekatannya dengan Bandara YIA juga menjadi bagian dari karakter wilayah yang membuatnya nyaman, meskipun ia sadar keberadaan bandara tidak otomatis menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitarnya.
Ketika ditanya apakah bersedia menetap di Kulon Progo jika memperoleh pekerjaan dengan penghasilan setara Jogja, Maria tidak langsung menutup kemungkinan tersebut.
“Nah, kalau itu bisa dipertimbangkan lebih lanjut,” jawabnya.
Merantau dari Kulon Progo ke Jogja, fenomena mobilitas yang tidak selalu tercatat
Fenomena orang yang tinggal di satu kabupaten, tetapi bekerja di wilayah lain sebenarnya bukan hal baru di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Long Form Sensus Penduduk 2020 yang dipublikasikan pada 2022 mencatat proporsi komuter di Kulon Progo sebesar 4,95 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya penduduk yang melakukan perjalanan rutin ke luar kabupaten untuk bekerja atau bersekolah. Sementara itu, proporsi komuter di Sleman tercatat sebesar 6,06 persen dan Kota Yogyakarta mencapai 9,16 persen.
Meski demikian, BPS mendefinisikan komuter sebagai penduduk yang melakukan perjalanan pergi-pulang setiap hari. Dengan demikian, rutinitas Maria yang pulang setiap akhir pekan tidak sepenuhnya tercakup dalam kategori statistik tersebut.
Gambaran mobilitas penduduk di Kulon Progo juga dapat ditemukan dalam penelitian Endah Fitriyani dari Universitas Gadjah Mada (2019) mengenai perilaku mobilitas nonpermanen warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport di Temon.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas penduduk berkaitan dengan perubahan pekerjaan, strategi penghidupan, serta kondisi sosial masyarakat. Meskipun objek penelitiannya berbeda dengan pengalaman Maria, kajian tersebut menunjukkan bahwa perubahan kehidupan dan kesempatan ekonomi dapat memengaruhi cara masyarakat Temon menjalani mobilitas antardaerah.
Bagi Maria, bekerja di Jogja bukan berarti harus meninggalkan Temon sepenuhnya. Ia justru ingin tetap memiliki kesempatan berkembang melalui pekerjaan dan relasi di Jogja, sembari mempertahankan rumah sebagai tempat tinggal bersama kedua orang tuanya.
Barangkali itulah alasan perjalanan pulang setiap akhir pekan masih terasa penting, meskipun harus melewati jalanan yang melelahkan dan mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit.
Pada akhirnya, perjalanan sekitar 40 kilometer dari Gamping menuju Glagah bukan sekadar rutinitas seorang pekerja yang ingin menghabiskan akhir pekan di rumah. Ada bapak dan ibu yang menunggu, percakapan sederhana di teras rumah, serta pertanyaan-pertanyaan kecil tentang pekerjaan dan uang saku yang membuat kepulangan terasa berarti.
Sebab, sejauh apa pun Maria mencari penghidupan di Jogja, Temon tetap menjadi tempat yang ingin ia tuju ketika pekerjaan selesai dan akhir pekan tiba.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bandara YIA Gagal dan Kulon Progo Tetap Miskin, tapi Kegagalan Ini Nggak Bisa Menjadi Alasan Jogja Harus Buru-Buru Membangun Bandara Baru Lagi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan