ADVERTISEMENT

Mencoba Menginap di Hotel Esek-esek Bandungan Semarang: Kamar Nyaman, Pelayanan Ramah, tetapi Suara Kamar Sebelah Tembus Dinding

Mencoba Hotel Bandungan Semarang: Pelayan Ramah, Fasilitas Lengkap. MOJOK.CO

Menginap di hotel yang terkenal dengan stigma negatif di daerah Bandungan, Semarang. Ternyata memiliki fasilitas lengkap dan pelayan hotel yang ramah.

***

ADVERTISEMENT

Memilih hotel untuk berlibur biasanya tidak jauh-jauh dari urusan harga, fasilitas, lokasi, dan kenyamanan. Namun, ada kalanya reputasi sebuah kawasan justru membuat seseorang penasaran untuk membuktikan sendiri seperti apa pengalaman menginap di dalamnya.

Rasa penasaran itulah yang membawa Ardian (28) dan istrinya, Laras (28) *bukan nama sebenarnya, mencoba salah satu hotel di Bandungan, Kabupaten Semarang. Keduanya sengaja memilih penginapan di kawasan yang selama ini dikenal memiliki stigma sebagai tempat singgah pasangan untuk urusan ranjang. Bukan karena ada keperluan khusus, melainkan sekadar ingin merasakan pengalaman yang berbeda saat berlibur.

Berawal dari keisengan memilih hotel di kawasan Bandungan, Semarang

Bagi Ardian, perjalanan bersama istri kali ini punya agenda kecil yang cukup unik. Mereka ingin mencoba menginap di hotel yang berada di kawasan Bandungan, Semarang, yang reputasinya telanjur lekat dengan aktivitas pasangan di luar urusan wisata biasa.

Keputusan itu sebenarnya tidak melalui pertimbangan yang rumit. Rasa penasaran muncul begitu saja, kemudian keduanya sepakat untuk mencoba.

“Awalnya iseng-iseng sama istri nyoba gimana rasanya menginap di hotel daerah Bandungan Semarang. Ya sudah akhirnya gas saja,” jelas Ardian ketika ditemui pada Minggu (1/11/2026).

Hotel yang mereka pilih sengaja disamarkan namanya. Menurut Ardian, bangunannya tidak terlalu memperlihatkan kesan seperti hotel yang selama ini diasosiasikan dengan aktivitas seksual. Hanya saja, lokasinya memang berada di wilayah yang dikenal masyarakat memiliki reputasi tersebut.

Hal ini menarik karena pilihan hotel tidak selalu ditentukan oleh fasilitas yang ditawarkan. Ada pula faktor rasa penasaran, persepsi masyarakat, hingga pengalaman yang ingin dicoba seseorang ketika berkunjung ke suatu daerah.

Disambut resepsionis ramah, staf mengantar sampai kamar

Setibanya di hotel, Ardian justru mendapatkan kesan pertama yang cukup positif. Proses check-in berjalan lancar. Resepsionis menyambut keduanya dengan ramah dan mempersilakan mereka menyelesaikan administrasi sebelum menuju kamar.

ADVERTISEMENT

Hal yang paling diingat Ardian adalah ketika seorang staf hotel mengantarnya sampai ke depan kamar. Kebetulan, kamar yang mereka pesan berada di lantai dua sehingga staf tersebut menemani perjalanan melewati lorong penginapan.

Di tengah perjalanan, staf itu beberapa kali melontarkan pertanyaan ringan. Salah satunya mengenai rencana Ardian selama berada di Semarang.

Pelayanan sederhana tersebut membuat Ardian merasa cukup dihargai sebagai tamu. Ia bahkan menganggap pengalaman diantar langsung sampai kamar sebagai sesuatu yang tidak selalu ditemuinya ketika menginap di hotel lain.

Kesan tersebut sekaligus sedikit menggeser bayangannya sebelum tiba di lokasi. Alih-alih menghadapi pelayanan yang canggung karena reputasi kawasan, ia justru mendapatkan sambutan yang ramah.

Kamar sederhana dengan kasur empuk dan pencahayaan nyaman

Setelah sampai di kamar, Ardian mulai memperhatikan fasilitas yang disediakan. Ukuran ruangan memang tidak terlalu luas, tetapi menurutnya justru memberikan suasana yang lebih intim bagi dirinya dan Laras. Kasur menjadi salah satu fasilitas yang paling disukai. 

“Permukaannya terasa cukup empuk sehingga nyaman digunakan untuk beristirahat. Pencahayaan kamar juga tidak terlalu terang atau menyilaukan mata,” terangnya.

Bagi Ardian, dua hal tersebut cukup menentukan kenyamanan selama menginap. Ia tidak merasa membutuhkan ruangan yang luas atau dekorasi berlebihan selama kebutuhan dasar untuk beristirahat terpenuhi.

Kondisi kamar mandi pun mendapatkan penilaian positif. Ketika pertama kali masuk, ia mendapati ruangan tersebut dalam keadaan bersih dan terawat. Perlengkapan mandi yang disediakan juga cukup lengkap, termasuk pasta gigi dengan merek yang menurutnya bukan produk asal-asalan.

Namun, bukan berarti tidak ada kekurangan. Ardian menyayangkan hotel tersebut tidak menyediakan kopi dan teh yang layak dinikmati tamu. Di dalam kamar hanya tersedia air mineral dan teko pemanas air. Meski begitu, kekurangan kecil tersebut tidak sampai membuat pengalaman menginap mereka terasa buruk.

Suara dari kamar sebelah menjadi pengalaman yang tak terduga

Ada satu pengalaman yang membuat Ardian dan Laras kembali teringat pada reputasi kawasan tempat mereka menginap. Pada malam pertama, beberapa suara dari kamar lain sesekali terdengar hingga masuk ke kamar mereka.

Ardian tidak menjelaskan secara terperinci aktivitas yang berlangsung di kamar sebelah. Namun, ia mengakui bahwa suara tersebut cukup mengingatkannya pada stigma yang selama ini melekat pada kawasan Bandungan.

Sambil cekikikan ketika menceritakan pengalaman tersebut, Ardian menganggapnya sebagai bagian paling unik dari percobaan menginap kali ini.

“Untungnya, gangguan itu tidak berlangsung terus-menerus. Pada malam berikutnya, saya dan Laras tidak lagi mendengar suara serupa,” katanya sambil tertawa.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kamar yang nyaman belum tentu menjamin privasi sepenuhnya. Terlebih ketika bangunan penginapan memiliki jarak antarkamar yang berdekatan atau kemampuan peredaman suara yang kurang memadai.

Kenyamanan tetap menjadi pertimbangan dalam pilihan hotel

Pengalaman Ardian dan Laras memperlihatkan bahwa reputasi kawasan tidak selalu bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kualitas penginapan. Pada akhirnya, tamu tetap membutuhkan pelayanan yang baik, fasilitas memadai, kebersihan, serta privasi.

Bandungan sendiri merupakan salah satu kawasan tujuan wisata di Kabupaten Semarang yang memiliki ekosistem usaha akomodasi cukup berkembang. Publikasi data Kabupaten Semarang yang bersumber dari Dinas Pariwisata mencatat, pada 2021 terdapat 13 hotel berbintang, 196 hotel nonbintang, dan 17 pondok wisata di seluruh kabupaten. Angka tersebut bukan jumlah hotel khusus Bandungan, tetapi menunjukkan besarnya ekosistem penginapan di wilayah tersebut.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Semarang mencatat tingkat penghunian kamar hotel pada Desember 2025 mencapai 23,85 persen. Rata-rata lama menginap tamu tercatat 1,07 malam, dengan rata-rata lama menginap di hotel nonbintang sebesar 1,01 malam.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan menginap singkat memang menjadi bagian dari aktivitas perhotelan di Kabupaten Semarang. Meski demikian, data tersebut tidak mengidentifikasi tujuan pribadi para tamu maupun alasan mereka memilih hotel tertentu.

Penelitian Tuwuh Adhistyo Wijoyo, Guntur Suryaning H, dan Julian Andriani Putri (2023) dalam jurnal Garuda mengenai kepuasan tamu di Hotel Griya Persada Bandungan juga menempatkan kualitas produk dan pelayanan sebagai aspek penting dalam pengalaman menginap. Penelitian yang melibatkan delapan informan tersebut menemukan sejumlah aspek pelayanan yang masih perlu ditingkatkan, terutama responsivitas dan empati terhadap konsumen.

Pada akhirnya, pengalaman Ardian dan Laras menjadi pengingat bahwa pilihan hotel tidak selalu harus mengikuti stigma yang berkembang di masyarakat. Sebuah penginapan tetap dinilai dari apa yang benar-benar dirasakan pengunjung ketika berada di dalamnya.

Bagi mereka, hotel yang sempat membuat penasaran itu ternyata menawarkan kasur empuk, kamar mandi bersih, dan pelayanan ramah. Hanya saja, ada suara-suara dari kamar sebelah yang sesekali ikut menemani malam mereka.

Barangkali, itulah pengalaman liburan yang tidak masuk dalam daftar fasilitas hotel, tetapi justru menjadi cerita paling sulit dilupakan setelah pulang dari Bandungan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kekonyolan saat Pertama Kali Nginep Hotel, Syok Mandi Air Hangat hingga Bingung Cara Checkout dan Buka Pintu Kamar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.