Menjadi psikolog di desa itu berat. Warganya masih percaya kalau gangguan kesehatan mental itu karena perkara klenik, kurang iman, sehingga saran dukun pun lebih dipercaya.
***
Farra (28) menyaksikan langsung bagaimana masa depan tetangganya hancur perlahan. Bukan oleh penyakit yang tak bisa ditangani, tetapi karena kejamnya stigma warga desa.
Anak laki-laki di kampung halamannya, di Gunungkidul itu, dulunya adalah anak cerdas, selalu langganan peringkat tiga besar sejak SD hingga SMP. Sayangnya, semua berubah drastis saat ia masuk SMA. Ia mulai sering mengurung diri, berbicara melantur, hingga kehilangan kontak dengan dunia luar.
Alih-alih membawanya ke tenaga medis untuk mendapat penanganan kejiwaan, warga desa–bahkan orang tuanya sendiri–dengan cepat menjatuhkan vonis kalau anak itu “ketempelan jin”.
Tak butuh waktu lama, cap “orang gila” melekat permanen pada dirinya, sampai sekarang.
Sebagai psikolog yang kini bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jogja, kenyataan ini membuat dada Farra sesak. Sehari-hari, ia adalah seorang psikolog profesional yang tugasnya mendengarkan, menganalisis, dan memulihkan trauma banyak klien di kota.
Namun, ia justru harus menelan pil pahit, tidak berdaya saat pulang ke rumahnya sendiri.
“Merasa ilmu yang aku pelajarin waktu kuliah itu mental semua, nggak guna aja rasanya,” ujar Farra, bercerita pada Mojok, Senin (14/9/2026).
Stigma pasien kesehatan mental di desa itu kejam, bikin psikolog ngelus dada
Meski belum pernah menangani anak tersebut secara formal dalam sesi konseling, Farra tahu betul ada yang salah. Setelah mengamati dan berdiskusi dengan rekan sejawat serta teman-teman psikiaternya, kesimpulannya mengerucut pada satu dugaan: anak tersebut kemungkinan besar mengalami depresi.
Kecurigaan ini sangat beralasan, sebab penurunan kondisi kejiwaannya terjadi tak lama setelah ibu kandungnya meninggal dunia. Kemungkinan, ada duka mendalam yang tak pernah tuntas diproses.
Namun, kata Farra, mengedukasi warga desa soal depresi ibarat berbicara pada tembok. Di pedesaan, literasi mengenai kesehatan mental sangatlah minim.
Bayangkan saja, siapa pun yang perilakunya menyimpang dari kewajaran sosial, akan langsung dimasukkan dilabeli “orang gila”.
“Stigma ini kejam banget, membabi buta,” kata Farra.
Jangankan mereka yang menderita skizofrenia atau depresi, anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu pun sering kali menjadi korban salah kaprah dan ikut dicap dengan sebutan yang sama.
“Bahkan di desaku itu ada ABK (anak berkebutuhan khusus), dia tuli, nggak bisa bicara lancar. Orang-orang jahat banget nyebut dia orang gila.”
Dianggap “kurang iman”, berujung rukyah dan penanganan oleh dukun
Ketidaktahuan ini melahirkan stigma turunan yang tak kalah menyakitkan. Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental hampir selalu dihakimi sebagai orang yang “kurang iman”, lupa beribadah, atau pikirannya kosong sehingga mudah dirasuki makhluk halus.
Alhasil, karena diagnosisnya berdasarkan klenik, metode penyembuhannya pun jauh dari nalar medis.
Salah satunya, Farra hanya bisa mengelus dada ketika melihat tetangganya–si anak tadi– itu diseret dari satu dukun ke dukun lainnya. Psikolog ini bahkan pernah mendengar tetangganya dipaksa berendam di sebuah umbul pada waktu-waktu tertentu.
“Tujuannya, menurut mereka itu, ya supaya jin yang nempel bisa terbawa arus air,” jelasnya. “Nyatanya, nggak ada hasil kan? Kondisi anak itu justru semakin memprihatinkan.”
Sebagai orang yang juga lahir dan tumbuh di lingkungan pedesaan, saya sangat memahami rasa frustrasi Farra. Cerita semacam ini bukanlah hal baru.
Dulu, saya juga pernah menyaksikan sendiri kejadian serupa di kampung saya. Ada seorang tetangga yang mengalami gangguan mental cukup parah.
Alih-alih dibawa ke puskesmas atau rumah sakit jiwa, orang tuanya justru diinstruksikan oleh orang pintar untuk “nebusi” tujuh pohon keramat. Di tengah malam buta, keluarga itu harus keliling membuat semacam kenduri dan meletakkan sesajen di tujuh pohon besar yang dikeramatkan di desa dalam semalam.
Menghabiskan banyak uang dan tenaga, ritual itu nyatanya sama sekali tidak menyembuhkan sang pasien.
Tak mau berobat karena gangguan mental di desa dianggap aib keluarga
Melihat rentetan pengobatan klenik yang tak masuk akal, Farra berkali-kali mencoba mendekati keluarga tetangganya itu. Ia menyarankan agar sang anak dibawa ke psikolog atau psikiater untuk mendapat penanganan medis, minimal obat penenang yang tepat.
Namun, niat baiknya selalu membentur pada gengsi orang tua. Nama baik keluarga katanya.
Keluarga tersebut biasanya menolak mentah-mentah. Bukan melulu karena masalah biaya, tetapi karena takut pada penghakiman masyarakat.
“Nanti apa kata tetangga?”
Nanti anak saya dibilang gila beneran kalau dibawa ke dokter jiwa.”
Begitu kilah mereka, kata Farra.
Pendeknya, kesehatan mental masih dianggap sebagai aib keluarga yang memalukan. Memang, klien Farra di kota pun banyak yang masih menganggap pergi ke psikolog sebagai aib. Namun di desa, tekanan komunal dan ketakutan akan gunjingan tetangga jauh lebih mencekik.
Mereka lebih memilih anaknya hancur perlahan di rumah daripada harus menanggung malu di mata warga.
Lagi-lagi, saya mengamini kepahitan yang dirasakan Farra. Keresahan tentang “aib keluarga” ini, bahkan, sering kali bikin saya miris sendiri.
Di desa saya dulu, demi menutupi rasa malu, sebuah keluarga memilih mengisolasi anak mereka yang mengalami gangguan jiwa akut. Tak diizinkan keluar rumah, tak diberi pengobatan yang layak.
Ketika kondisinya semakin parah dan tak terkendali, jalan pintas yang diambil amatlah kejam. Biasanya, anak itu dipasung hingga akhir hayatnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sudah 7 Tahun Belajar Jadi Dokter Gigi Masih Kalah sama Kepercayaan dan Omongan Tetangga Soal Kesehatan Gigi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
