Sebagai orang haven’t, alias tidak berpunya, keinginan menjadi mahasiswa baru (maba) memang tidak mesti mendapat “sponsor” dari orang tua. Pilihannya hanya dua: kuliah gratis dengan beasiswa atau tidak lanjut kuliah untuk bekerja. Dilema itulah yang dihadapi oleh Ardio (23) ketika berkeinginan untuk lanjut kuliah beberapa tahun lalu.
“Keinginanku kuliah waktu itu sebenarnya sederhana. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Aku pengin jadi perwakilan keluargaku yang bisa jadi sarjana,” ujar Ardio bercerita belum lama ini, Kamis (6/8/2026).
Namun, dengan alasan bukan orang haven’t (istilah populer di media sosial untuk menyebut orang tidak berpunya), orang tua Ardio langsung menyatakan tidak setuju. “Dari mana uangnya?!” Kira-kira begitulah kekhawatiran mereka.
Disuruh kerja saja, tapi nekat daftar kuliah
Orang tua Ardio secara terang-terangan memintanya lulus SMA langsung bekerja. Toh selama ini, pendidikan anak-anak muda di desa Ardio di Jawa Timur memang hanya mentok sampai SMA. Yang hanya selesai di SMP pun masih banyak.
“Kalau kata orang tuaku yang memang orang haven’t, orang susah itu nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting bisa nyari duit buat bertahan hidup,” ungkap Ardio.
Lebih dari itu, jika Ardio langsung kerja setelah lulus SMA, artinya melepas beban tanggungan orang tua karena tidak harus mengeluarkan biaya lagi untuk pendidikannya. Syukur-syukur, dengan Ardio bekerja, maka jika orang tua kesulitan secara ekonomi masih bisa mengandalkan Ardio.
Tapi tekad Ardio untuk kuliah sudah terlanjur bulat. Dan ia bertekad tidak meminta sponsor dari orang tua jika sepanjang masa kuliahnya nanti. Maka diam-diam ia mendaftar kuliah di sebuah PTN di Surabaya melalui jalur beasiswa KIP Kuliah.
Menanti masa jadi mahasiswa baru (maba), kerja di warung mie ayam dengan upah Rp30 ribu sehari
Sembari menunggu hasil pengumuman kuliah, Ardio “mengikuti” apa kata orang tuanya untuk menjajal bekerja. Saat itu Ardio ikut bekerja di sebuah warung mie ayam milik saudaranya.
Kata Ardio, orang tuanya saat itu tampak senang sekali, saat melihat Ardio meninggalkan rumah sejak jam 7 pagi untuk bekerja di warung mie ayam tersebut. Meski di sisi lain, Ardio sebenarnya tidak semangat-semangat amat karena mimpi menjadi mahasiswa yang terhalang dukungan orang tua.
“Tapi ya nggak apa-apa, waktu itu kuniatkan ya cari pengalaman lah, sambil nunggu pengumuman buat jadi mahasiswa baru (maba),” tutur Ardio.
Masalahnya, pekerjaan yang akhirnya Ardio jalani di warung mie ayam milik saudaranya tersebut terasa sangat tidak masuk akal. Ia justru merasa dieksploitasi habis-habisan.
Bagaimana tidak. Ardio harus merangkap banyak pekerjaans sekaligus: mulai dari meracik mie ayam, mengantarkan, membersihkan meja dan mangkuk kotor. Apalagi jika pelanggan sudah banyak
Durasi kerjanya pun sangat panjang. Berangkat jam 7 pagi untuk persiapan buka warung, dan baru pulang di jam 12 malam.
“Gilanya, dengan kerja sepanjang itu, dan sebanyak itu, aku sehari cuma dikasih upah Rp30 ribu sehari,” ujar Ardio dengan geleng-geleng kepala.
Badan remuk dan keputusan penuh perjudian
Baru beberapa hari bekerja di warung mie ayam itu, badan Ardio sudah terasa remuk. Sampai di rumah lewat tengah malam, Ardio langsung terkapar di kasur kerasnya.
Namun, rasanya belum nyenyak tidur, ujug-ujug sudah pagi lagi. Ia pun bangun dengan kondisi mata masih sepet dan sekujur badan yang masih terasa nyeri sana-sini. Tapi ia harus tetap berangkat kerja di jam 7 pagi.
Ardio tidak bertahan lama bekerja di warung tersebut. Meski belum ada kepastian apakah ia lolos seleksi sebagai maba penerima beasiswa KIP atau tidak, tapi ia sudah benar-benar tidak kuat. Akhirnya, belum sampai satu bulan bekerja, ia memutuskan berhenti.
“Itu juga keputusan penuh perjudian. Karena aku belum jelas bakal lolos kuliah atau nggak,” ucap Ardio.
“Tapi waktu itu aku juga mikir, ya walaupun nggak lolos beasiswa KIP Kuliah dan nggak bisa jadi mahasiswa, masa aku bakal kerja di warung mie ayam gila itu. Nggak lah. Cari kerjaan lain lah,” sambungnya.
Untungnya, tidak berjarak lama dari berhenti bekerja, pengumuman mahasiswa baru penerima beasiswa KIP Kuliah memberi kabar baik bagi Arido. Ia dinyatakan lolos: kuliah tanpa biaya. Di titik itu, orang tua Ardio tidak punya alasan lagi untuk menghalang-halangi karena ia bakal kuliah tanpa meminta biaya serupiah pun dari orang tuanya.
Hikmah: jadi orang haven’t tahan banting tanpa sponsor orang tua
Ardio sudah lulus kuliah sejak tahun 2025 lalu. Kini pun ia sudah bekerja di bidang ia sukai: teknologi digital.
Kalau dipikir-pikir, mie ayam gila itu di satu sisi memang membiasakan tubuhnya untuk bekerja keras dan tahan banting. Sebab, setelah akhirnya resmi menjadi maba, sebagai orang haven’t tanpa sponsor orang tua, ia harus benar-benar tahan banting untuk bertahan hidup di perantauan.
Setiap pekerjaan yang bisa menghasilkan uang tambahan, ia ambil. Kalau memang sedang tidak punya uang, ia bisa tahan lapar hingga makan hanya sekali sehari. Pokoknya wani perih kata Ardio, karena itu satu-satunya cara bagi orang haven’t sepertinya untuk bertahan hidup.
Mentalitas dan ketahanan tersebut pada akhirnya terbawa hingga ia bekerja. Meski sudah mendapat pekerjaan dengan gaji layak, tapi Ardio tetap tahan bercapek-capek mengambil sejumlah side job.
“Ya walaupun orang tua nggak biayai aku kuliah, tapi orang tua tetaplah orang tua. Mereka juga punya sisi baik. Jadi aku sekarang bisa ambil banyak kerjaan itu karena buat nabung dan sesekali ngasih ke orang tua buat hidup sehari-hari,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
