Sesal Tinggalkan Bali untuk Kerja di Nganjuk Gara-gara Ibu, Tak Disrawungi Tetangga karena Ekonomi

Pemuda desa tinggalkan pekerjaan di Bali untuk kerja di Nganjuk gara-gara ibu. Berujung menyesal tak bisa kejar standar sosial MOJOK.CO

Meninggalkan pekerjaan housekeeping di Bali untuk pulang ke Nganjuk menjadi pilihan yang disesali Yoga (bukan nama asli). Sebab, imbasnya tidak hanya pada keuangan, tapi juga hubungan sosial dengan saudara dan tetangga di desa. Sepanjang rumah masih jelek dan mobil belum terbeli, maka jangan harap akan di-srawungi. 

***

Pada 2024 Yoga mendapat panggilan kerja sebagai housekeeping di sebuah hotel di Bali. Tawaran gajinya lumayan besar untuk ukuran lulusan SMK seperti dirinya. Ia tidak menyebut angka. Tapi setidaknya jauh di atas standar gaji pekerja lulusan SMK di Nganjuk, Jawa Timur, tempat asal Yoga. 

Merujuk data BPS, UMK Nganjuk untuk 2026 ini ada di angka Rp2,5 jutaan. Namun, bukan berarti angka itulah yang diterima oleh pekerja-pekerja lulusan SMK di sana. Paling umum berkisar di angka Rp1,4 juta hingga Rp1,6 juta. 

Yoga sendiri saat ini bekerja sebagai housekeeping di sebuah penginapan kecil di Nganjuk. Rp,1,6 juta angka yang pemuda desa itu terima perbulan. Itulah bagian yang ia sesali dari kepindahannya dari Bali untuk pulang ke Nganjuk. 

“Gara-gara ibu aku terpaksa pulang,” celetuk Yoga saat berbincang dengan saya pada suatu pagi di penginapan tempatnya bekerja akhir pekan lalu. 

Pemuda desa menikmati kerja di Bali: derajat terangkat karena beli 2 motor

Yoga jelas menikmati masa-masa kerja di Bali. Secara, Bali adalah destinasi wisata internasional. Jauh berbeda dengan Nganjuk: kabupaten kecil di Jawa Timur yang panas dan nyaris tidak ada yang bisa Yoga nikmati.

“Yang bisa dinikmati di Nganjuk ya paling cuma nasi pecel Rp5 ribu. Kalau gaji, jauh lah dari gaji kerja di Bali,” ucap Yoga. 

“Apalagi di Bali aku nggak banyak keluar uang karena ada mess dan jatah konsumsi dari hotelnya. Jadi uangnya utuh,” sambungnya. 

Dari hasil kerja sebagai housekeeping di Bali itu, Yoga bisa mengirim sebagian uang untuk tambah-tambah kebutuhan hidup ibunya di Nganjuk. Bahkan, ia juga bisa mengkredit 2 motor sekaligus: motor untuk dirinya sendiri dan untuk sang adik. 

Seiring itu, cara pandang orang-orang desa terhadap keluarga Yoga—yang selama ini hidup serba pas-pasan—pun berubah. Setidaknya tidak lagi meremehkan karena jelas-jelas dari satu pekerjaan sudah bisa membeli 2 motor sekaligus. 

Terpaksa tinggalkan kerja di Bali gara-gara ibu

Tapi kenikmatan itu berubah setelah sang ibu memaksa Yoga untuk pulang saja ke Nganjuk. Permintaan itu cukup intens pada 2025. “Katanya ya kangen, kepikiran terus kalau aku di merantau jauh-jauh,” ungkap Yoga. 

Padahal, kata Yoga, komunikasinya dengan orang di rumah lancar. Baginya, setidaknya itu cukup mengobati kangen, karena Yoga di Bali juga bukan untuk senang-senang, tapi untuk kerja. Uangnya juga ia kirim untuk kebutuhan di rumah. 

Masalahnya, rasa kangen itu membuat si ibu malah menjadi kerap sakit-sakitan. Hal itu sangat mengganggu fokus Yoga saat bekerja. Akhirnya, sejak 2025 itu ia memutuskan untuk resign: dengan berat hati meninggalkan pekerjaan di Bali untuk pulang ke Nganjuk, kembali menjadi pemuda desa berduit pas-pasan lagi. 

Dan benar. Setelah ia pulang, ibunya memang sudah tidak sakit-sakitan. Namun, keuangan juga terasa jomplang. 

Pengalaman kerja yang Yoga miliki hanya di bidang housekeeping. Maka ketika pulang ke Nganjuk, maka ketika pulang ke Nganjuk, tidak pelak Yoga merasa kebingungan untuk mencari pekerjaan. 

Untungnya ada sebuah penginapan kecil yang membuka lowongan pekerjaan. Di situlah ia bekerja hingga sekarang, dengan gaji yang tentu jauh dari standar untuk memenuhi kehidupan hidup sekarang. 

Sesal ibu karena tetangga tak srawung gara-gara mobil belum terbeli 

Kondisi itu diikuti oleh cara pandang saudara maupun tetangga desa yang kembali ke setelan awal: memandang rendah keluarga Yoga.  Standar sosial orang di desaku, saudara-saudara mau sering main ke rumah itu ya kalau rumah kita bagus atau kita punya duit,” beber Yoga.

Yoga sebenarnya punya cita-cita merenovasi rumahnya agar lebih baik lagi. Ia juga punya keinginan kuat untuk membeli mobil. Tidak lain agar keluarganya disegani oleh tetangga atau saudara. 

Tapi tentu butuh waktu yang panjang untuk bekerja di luar daerah dengan gaji besar. Dalam hal ini ya kerja di Bali. Tapi gara-gara sang ibu merengek agar ia pulang, ya mau bagaimana lagi? 

“Ibu waktu itu bilang yang penting aku pulang, kerja di dekat-dekat saja biar tidak perlu jauh-jauhan dengan ibu. Tapi pas aku udah kerja di sini dan gaji nggak seberapa, ibu juga agak sedih karena rumahnya kembali jarang disambangi saudara. Beda waktu aku masih di Bali,” ujarnya. 

Dulu ketika masih kerja di Bali, bahkan ada saja tetangga atau saudara yang meminta ibu menanyakan ke Yoga: kira-kira ada pekerjaan untuk anak mereka tidak ya Bali? Karena terbukti dari kerja di sana Yoga bisa membeli 2 motor sekaligus. 

“Ya aku bilang ke ibu, seandainya ibu nggak ngerengek-ngerengek minta aku pulang, kalau aku masih kerja di Bali, mobil pasti kan kebeli. Sama tetangga disegani. Kalau sudah begini, ya mau bagaimana lagi. Kerja di Nganjuk ya cuma cukup buat kebutuhan dapur,” kata Yoga.

Sang ibu hanya terdiam. Sementara Yoga harus menjalani aktivitas bekerja siang-malam di penginapan tersebut dengan masih membawa penyesalan. 

“Kalau ada kesempatan lagi, aku bakal lebih memilih kerja di luar daerah lagi,” tutupnya, sebelum melanjutkan pekerjaan membersihkan kamar perkamar penginapan tersebut. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nestapa Pemuda Nganjuk 4 Kali Gagal Lolos Seleksi TNI-Polri, Gugur Gara-gara Makan Mie atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 1 September 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.