ADVERTISEMENT

Orang Have Penghuni Kos Eksklusif Nyoba Nginep di Kos Murah, Cuma Semalam tapi Mual dan Tak Tahan

Orang have penghuni kos eksklusif coba-coba menginap di kos murah. Hanya semalam tapi mual dan tidak betah MOJOK.CO

Empat tahun menjadi penghuni kos eksklusif di Surabaya—dan seumur-umur tinggal di rumah bagus—membuat Nata (27) mual-mual ketika suatu malam coba-coba menginap di sebuah kos murah milik temannya. Mentalnya sebagai orang have langsung kena. 

***

Tidak lama setelah sidang skripsi pada 2022 silam, Nata (27) memutuskan untuk tidak ngekos lagi. Boyongan. 

Rumah Nata sebenarnya tidak jauh-jauh amat dari Surabaya. Berada di perbatasan Gresik dan Surabaya. Namun, semasa mahasiswa, karena ogah laju (pergi-pulang), ia memilih menyewa sebuah kos eksklusif tidak jauh dari kampusnya—sebuah PTN di Surabaya. 

“Pas udah sidang skripsi, ya udah aku kan nggak sering-sering ke kampus. Jadi sesekali PP udah nggak masalah. Aku langsung boyongan karena waktu itu udah jenuh sama kehidupan sekitar kampus. Jadi pengin rest lah, banyakin waktu di rumah,” tutur Nata, Rabu (9/9/2026). 

Namun, ada masa ketika Nata memilih untuk menginap di kos murah temannya, karena esok harinya akan mengikuti yudisium. Ia memang tidak bermaksud sewa kos harian, wong hanya semalam. Dalam pikirannya pula: ya itung-itung menghabiskan sisa waktu di Surabaya bersama teman baiknya tersebut, sebelum si teman baik kembali ke daerah asal. 

“Waktu itu temenku sebenarnya udah bilang, yakin mau nginep? Kosnya seadanya. Aku selama kuliah memang nggak pernah sih ke kosnya. Yang lebih sering malah dia yang ke kosku,” ungkap Nata. 

Saat itu Nata tidak peduli. Wong hanya menginap semalam saja kok. Sampai akhirnya ia tahu alasan kenapa temannya “agak melarang” Nata menginap. Sebagai orang have penghuni kos eksklusif, ia benar-benar “nggak ekspek” dengan betapa kacau situasinya. 

Penghuni kos eksklusif kaget dengan kos murah gara-gara kasur

“Ya beginilah kondisinya.” Saat si teman mempersilakan Nata masuk kamar kos murah di tengah perkampungan padat penduduk di Surabaya, Nata terhenyak dan menelan luda. Ia tidak mengira kalau kondisinya bakal jauh dari yang ia bayangkan. 

Sebenarnya ia sudah menurunkan ekspektasi: namanya juga kos murah, jelas jauh dari standar kos eksklusif ala orang have. Namun, kondisi kos murah tersebut masih jauh di bawah ekspektasi yang sudah ia turunkan itu. 

Gambarannya begini: hanya ada kasur lantai, bukan springbed empuk sebagaimana yang selama ini Nata gunakan. Tidak hanya itu, kasur lantai di kos murah itu sudahlah tanpa sprei, eh dipenuhi bercak-bercak ileran dan entah bekas apa lagi. Melihat pemandangan itu, Nata mengaku sudah mual-mual, tapi sebisa mungkin ia tahan demi tidak menyakiti hati temannya. 

Sempak dan baju kotor berserakan, jadi sarang nyamuk 

Perhatian Nata sempat teralihkan karena ia dan temannya akhirnya hanyut dalam sebuah obrolan panjang. Menjelang tengah malam, barulah lampu kamar dimatikan. Si teman langsung berbaring dengan begitu nyaman. Tidak butuh waktu lama bagi si teman untuk tertidur pulas sampai ngorok-ngorok. 

Sementara Nata harus berjuang membuang rasa mualnya. Mencoba sekeras mungkin untuk memejamkan mata. 

“Makin nggak bisa tidur karena ternyata pas aku berbaring, rasanya gatel-gatel, bau apek pula. Bukan menghina ya. Tapi asli, itu jadi pengalaman pertamaku menginap di kamar seperti itu,” ucap Nata. 

Tapi masa Nata mau protes. Apalagi selama ini ia juga tahu, temannya tersebut memang menjalani perkuliahan dengan sangat struggle karena keterbatasan ekonomi. Seingat Nata, ia hanya keceplosan perkara sempak dan baju kotor. 

“Reaksi spontan pas masuk kamar. Karena sempak dan baju kotor itu berserakan sembarangan e. Sementara selama ini aku kan nggak gitu. Kumasukkan ke keranjang khusus pakaian kotor, terus nanti tinggal laundry,” bebernya. 

“Aku spontan bilang, ‘Cuk, sempak mbok taruh yang bener’. Kata temenku waktu itu, loh yang gini-gini biasa,” sambungnya. 

Penghuni kos eksklusif tidak bisa tidur di kos murah karena gerah tidak tertolong

Tidur Nata benar-benar tidak nyenyak. Tantangannya tidak berhenti di perkara bau apek, gatal, dan rasa mual. Berikutnya ia harus berhadapan dengan kondisi gerah yang tidak tertolong. 

Suhu Surabaya memang segerah itu, bahkan ketika sudah malam hari. Tapi selama ini Nata bisa tidur pulas karena kosnya menggunakan pendingin ruangan.

Kos murah milik temannya jelas tidak punya AC. Yang ada hanya sebuah kipas angin kecil berdebu yang bunyinya sudah sangat berisik. “Cuma berisik bunyinya, tapi anginnya nggak kerasa. Aku nggak bisa tidur gara-gara itu, nggak mempan lah kipas angin kecil buat menyejukkan badan,” ucap Nata. 

Perkara kamar mandi dan sabun batang

Jika biasanya ia bisa banguk agak siang karena kenyamanan, pagi itu ia harus bangun lebih pagi karena tidak kerasan. Karena itu, ia memutuskan untuk bergegas ke kamar mandi, agar bisa lekas keluar mencari sarapan sebelum mengikuti yudisium. Ya sekaligus berpamitan dengan si teman karena nanti malam ia sudah tidak menginap lagi. 

Tapi perkara mandi pun, bagi orang have sepertinya, juga tidak mudah. Karena kamar mandinya luar, ia mau tidak mau harus antre dengan penghuni lain. Tapi setelah tiba gilirannya, ia juga tidak bisa langsung mandi. 

“Kamar mandi berlumut, air keruh. Aku udah kebayang bakal gatal-gatal. Mau sikat gigi aja takut mual, mohon maaf,” katanya. 

Apalagi setelah ia tahu kalau temannya tidak punya sabun cair. Niat awalnya Nata hendak memakai sabun milik temannya karena dalam bayangannya adalah sabun cair. Tapi karena yang ada hanyalah sabun batang, ia tidak bisa. Maka, ia pun memutuskan untuk tidak mandi. Ia hanya memaksakan sikat gigi dan membasuh muka saja. 

“Aku kemudian nggak tahan buat nanya ke temenku, kok betah selama 4 tahun tinggal kos seperti itu?” Kata Nata. 

“Orang nggak berduit (bukan orang have) hidupnya memang begini. Kamu aja yang terlanjur hidup dalam gelimang kenyamanan, sehingga nggak siap kalau harus menghadapi kehidupan kayak gini,” begitu jawaban si teman, yang entah dilandasi karena tersinggung atau kemirisan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Melamun di Rooftop Kosan: Jorok Tak Masalah, karena Sudah Muak Menjadi Workaholic di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version