Mudik Lebaran tahun ini perasaan Nina campur aduk. Perempuan asal Surabaya yang baru bekerja selama 1 tahun di Jogja itu malas ikut kumpul bersama keluarga. Bukan apa-apa, ia tak ingin ditanya-tanyai soal kariernya di Jogja: yang lain sudah jadi orang, kamu ngapain malah ke desa?
***
Setelah keluar dari beberapa agensi kreatif di Surabaya dulu, Nina (24) akhirnya mendapatkan pekerjaan pengganti di Jogja. Baginya dulu, ia sama sekali tak terpikirkan untuk merantau tapi setelah mendalami agensi yang mau menerimanya di Jogja, Nina tak mau menutup peluang.
Nyaris tak peduli dengan apa kata orang soal ‘kenapa Jogja? Padahal, Surabaya lebih maju’ atau ‘kok jauh? Nggak bisa kah kerja di Surabaya saja’, Nina memilih memilah mana yang perlu ia pertimbangkan dan mana yang perlu ia buang.
“Aku berpikir Jogja tempat yang oke buat industri kreatif, which is kerjaanku di agensi juga ya. Jadi it is a good place buat belajar dan nambah pengalaman. karena rill di sini berkembang banget komunitas dan lingkungan kreatifnya,” jelas Nina saat dihubungi Mojok, Sabtu (28/3/2026).
Masalahnya, tak hanya orang-orang di sekitar yang mempertanyakan keputusan Nina. Kali ini, Nina tak bisa benar-benar menutup telinga saat orang tuanya ikut berpendapat, bahkan sempat menentangnya untuk pergi merantau.
“Pertama kali aku bilang mau kerja di Jogja mereka langsung menolak. Nggak ngebolehin bahkan ketika aku mau berangkat pun mereka masih melarang tapi aku nekat ae (saja),” jelas Nina.
Menghindar dari kumpul keluarga
Sebagai anak perempuan pertama yang berada di keluarga kelas ekonomi menengah, Nina mafhum dengan kekhawatiran orang tuanya. Apalagi, adik perempuannya juga masih sekolah dan Nina masih punya kewajiban untuk membantu ekonomi keluarga.
Alih-alih memilih mengikuti passion dalam berkarier, ia seolah dituntut untuk kerja apa saja bahkan kalau bisa daftar PNS—profesi yang masih dianggap oke bagi sebagian orang, karena tak harus merantau dan kesejahteraannya terjamin.
Namun, Nina tetap memilih mimpinya meski seringkali harus berdebat sengit dengan orang tuanya. Apalagi, saat momen kumpul keluarga seperti sekarang. Di mana ia mudik dari Jogja ke Surabaya.
“Aku selalu luangkan waktu balik ke Surabaya setidaknya 3 bulan sekali, saat hari besar atau long weekend. Cuman rasanya tahun ini agak campur aduk,” kata Nina.
Sebetulnya, Nina tak pernah ditanyai macam-macam oleh keluarganya seperti kapan nikah? Kapan ini? Kapan itu? Hanya saja, ada satu topik khusus yang sering mereka bahas yakni mengenai pekerjaan, yang sejatinya ingin Nina hindari.
Kalau pembahasannya sudah berlarut-larut, Nina lebih memilih diam atau menjawab seadanya. Bahkan kalau perlu ia berbohong ke keluarga besar, agar orang tuanya tak semakin khawatir atau menyuruhnya tinggal di Surabaya.
“Toh, orang sebenernya pengen tau saja. Nggak peduli-peduli amat,” kata Nina.
Ya dan tidak merantau ke Jogja
Karena tak berhasil membujuk Nina untuk “meninggalkan mimpinya” kerja di Jogja, orang tuanya mulai mencari topik macam-macam. Salah satunya, soal perubahan gaya berpakaian (outfit) Nina yang sekarang.
Guna menggambarkan situasi tersebut, Nina mengirimkan sebuah video kepada saya. Di video itu tampak pemuda yang diomeli ibunya setelah merantau dari Jogja, karena pakaiannya yang mirip dengan anak punk.
Siapa sangka, momen sederhana itu bikin Nina merenung dalam perjalanannya kembali dari Surabaya ke Jogja di dalam kereta. Ya, hidupnya memang banyak berubah dalam satu tahun terakhir. Bahkan dari hal-hal kecil seperti gaya berpakaian.
Dulu pun, ia begitu getol meniti karier di Jogja yang ia yakini sebagai kota industri kreatif. Namun, ia tak menampik, ada waktu di mana semangatnya turun dan kembali mempertanyakan keputusannya dulu.
“Sebenarnya antara menyesal dan nggak menyesal ya pindah ke Jogja, karena sekarang aku justru lebih tertarik sama opportunity work from anywhere (WFA). Aku lebih sering banyak berpikir, gimana karier ke depannya? Dengan umur segini worth it nggak ya buat cari tempat baru lagi? Atau ada nggak ya opportunity yang lebih?,” tanya Nina.
Meski begitu, Nina tak ingin terjerat dalam lingkaran setan. Sembari jalan, ia pelan-pelan mencari alternatif lain agar dirinya tak menyesal. Pun orang tuanya, yang Nina yakin, dalam lubuk hati mereka, ingin karier Nina sukses.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
