Panti jompo date menjadi pilihan kencan pertama bagi sejumlah Gen Z di Jogja. Ada romantisme, kebermanfaatan, dan harapan-harapan sentimentil perihal sebuah hubungan.
***
Selepas gerimis yang membasahi Jogja pada Minggu (25/10/2026) pagi, Fiqi (24), pemuda asal Jogja, dengan bersemangat menyusul perempuan yang ia dekati menuju sebuah panti Jompo.
“Kami udah membuat janji akan ke panti jompo. Perempuan yang kudekati memang suka kegiatan-kegiatan sosial semacam itu,” ungkap Fiqi berbagi cerita.
Tidak hanya Fiqi dan perempuan yang ia dekati, momen tersebut juga diikuti oleh sejumlah pasangan lain. Dari situlah muncul istilah “panti jompo date”.
Kencan pertama yang anti-mainstream tapi romantis
Pada mulanya Fiqi merasa kebingungan untuk mengajak kencan pertama perempuan yang ia dekati. Sebab, setiap ide yang ia ungkapkan, pasti dianggap klise oleh beberapa temannya.
Di antara ide yang muncul di kepala Fiqi adalah: memberi bunga, mengajak makan, hingga menghabiskan akhir pekan di pantai (toh Jogja punya banyak pilihan pantai indah).
“Semua itu, bagi temanku, klise. Sampai akhirnya aku cerita, akhir pekan ini perempuan yang kudekati berencana ke panti jompo. Temanku menyarankan agar itu saja yang dijadikan agenda nge-date,” ungkap Fiqi.
Meski sempat ragu ide panti jompo date, Fiqi toh tetap menawarkan diri untuk ikut. Terlebih, dari obrolan bersama teman-temannya sesama Gen Z itu, Fiqi akhirnya tahu kalau selera Gen Z itu kadang di luar mainstream. Referensinya kerap kali berbeda dari keumuman.
Si perempuan menyambut hangat keinginan Fiqi untuk ikut. Memang, kegiatan di panti jompo tersebut lebih banyak berkutat pada aktivitas relawan dan para lansia. Namun, justru dari situlah momen-momen romantis tercipta.
Panti jompo date: romantis nan bernilai manfaat
Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh rombongan Fiqi. Orientasi utamanya: bagaimana membuat para lansia di panti jompo tersebut gembira dan bergerak (tidak hanya melamun).
Momen romantis tercipta tiap perempuan yang Fiqi dekati meminta bantuan. Di situlah kesempatan Fiqi unjuk diri.
Fiqi yang punya kecenderungan suka ngobrol, menggunakan kesempatan tersebut untuk berbincang santai dan penuh canda dengan sejumlah lansia. Ia ingin menunjukkan bahwa ia juga punya interest pada sesuatu atau aktivitas yang disukai perempuan yang ia dekati.
“Di momen lain, aku juga mencuri-curi pandang lah pas perempuan yang kudekati sedang melakukan apa. Lembut, tulus, penuh kasih sayang terhadap orang tua. Itu membuat hatiku berbunga-bunga. Kayak, ya aku milih perempuan yang tepat lah. Dia pasti juga akan berbuat serupa terhadapku dan keluargaku,” beber Fiqi.
“Kami juga terhubung dengan obrolan setelah dari panti, aku mendengar kesannya, dia juga menyimak ceritaku dari cerita-cerita yang kusimak dari lansia-lansia yang kuajak berbincang. Nyambung lah,” sambungnya.
Zuzur, itu adalah momen kali pertama Fiqi berkencan yang anti-mainstream. Dan momen itu memberinya kesan tidak terlupakan. Sebab, selain tetap bisa menjalin nuansa romantis, ia menyadari bahwa perempuan yang ia dekati adalah tipikal orang yang acap berpikir soal “kebermanfaat”: berbuat sesuatu yang bernilai.
“Dengan begitu aku tahu bahwa suatu saat kalau kami benar-benar terikat dalam sebuah hubungan, hubungan kami didasari pada nilai atau makna-makna itu,” tutur Fiqi.
Panti jompo date dan harapan menua bersama
Selain itu, kencan pertama ala Gen Z asal Jogja itu juga memberi sebuah refleksi perihal “menua” di hari depan.
Menua itu niscaya, tidak terhindarkan. Ada ragam cerita yang Fiqi tangkap dari panti jompo date tersebut. Misalnya, ada lansia yang merasa menua dengan kesepian. Ada lansia yang dengan kesadaran penuh memilih hidup di panti karena sudah tidak punya gairah hidup usai pasangannya meninggal, lalu menemukan pasangan baru di panti jompo.
Ada pula lansia yang memilih menua tetapi ingatan perihal pasangannya yang sudah pergi tidak lantas memudar. Bahkan, di sejumlah panti jompo, ada loh sepasang lansia yang memang memutuskan tinggal di panti. Alasannya: saat kepikunan menyerang, saat mereka merasa sudah tidak relevan di dunia luar, kala mereka merasa ditinggalkan oleh anak-anak yang sudah sibuk dengan dunia masing-masing, mereka masih tetap bisa menjalani sisa hidup berdua.
“Panti jompo date kayak menjadi gambaran, kesepian itu tidak menyenangkan. Sehingga, dalam konteks berpasangan, jangan meninggalkan satu sama lain lah. Kami bisa terikat dalam semangat itu,” kata Fiqi.
“Kalau bisa ya menua dan menuju maut bersama. Tapi kematian kan tidak terduga. Sehingga kalau toh dipisahkan kematian, tidak lantas saling melupakan,” lanjutnya.
Sepulang dari panti jompo date dalam kencan pertama itu, Fiqi lalu terinspirasi untuk menyusun agenda-agenda kencan anti-mainstream lain. Prinsipnya, tetap romantis, tapi punya nilai dan syukur-syukur bermanfaat. Tidak sekadar bermesra berdua. Karena Fiqi, dari persinggungan dengan perempuan yang ia dekati, akhirnya tahu bahwa energi cinta dan kasih sayang memang harus ditularkan. Energi itulah yang menyelamatkan kewarasan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pilihan Tempat Romantis di Jogja untuk Menikmati Hujan, Lebih Murah dan Estetik Versi Warlok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan