Sudah 4 tahun ini Toha* (22) merantau dari Jambi ke Jogja. Selama itu pula ia melewatkan Lebaran di kampung halaman. Sebab, bagi anak rantau sekaligus karyawan bergaji imut (karjimut) seperti dirinya, mudik adalah beban finansial alih-alih tanggung jawab moral.
***
4 tahun yang lalu, Toha memutuskan merantau dari Jambi ke Jogja untuk kuliah. Lulus sarjana, ia tak langsung pulang ke Jambi karena mendapat kerja di Jogja. Di tengah kesibukannya itu, Toha juga harus menahan diri untuk pulang kampung.
“Aku merasa mudik tidak terlalu penting saat itu, karena masih menjadi mahasiswa dan belum ada pemasukan tetap. Aku juga merasa belum ada hal yang terlalu penting untuk pulang kampung,” ujar Toha saat dihubungi Mojok, Kamis (5/3/2026).
Toha paham mudik hanya akan menghabiskan waktu karena lamanya perjalanan untuk menyeberang pulau dari Jogja ke Jambi. Apalagi, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Toha takut akan membebani orang tuanya. Toh, setiap hari ia selalu memastikan untuk memberi kabar orang tuanya lewat WhatsApp.
“Untungnya, sejak Lebaran tahun pertama, orang tuaku tidak terlalu menuntut untuk pulang ke kampung halaman,” kata Toha.
Lelahnya perjalanan mudik yang jarang keluarga tahu
Namun, seiring bertambahnya usia, Toha tak memungkiri ada masa dirinya merindukan suasana rumah. Setelah lelah seharian bekerja untuk mencari uang di perantauan, rasanya Toha ingin kembali terhubung dengan orang-orang tercinta.
“Aku kangen masa-masa dimana kami sekeluarga kumpul,” ucap Toha.
Oleh karena itu, tahun ini Toha memutuskan pulang. Sebulan sebelum Lebaran, dia sudah ancang-ancang membeli tiket agar tidak ikut war. Tapi apa mau dikata, Toha tak bisa menghindari fenomena tiap tahun itu.
“Kenyataannya, walaupun aku beli jauh-jauh hari, orang-orang lebih gercep. Aku yang awalnya ingin duduk di kursi bagian depan, malah dapat kursi nomor 11 karena yang tersisa tinggal itu,” ucapnya.
Untuk mudik dari Jogja ke Jambi, Toha membutuhkan waktu kurang lebih 2 hari di dalam bus. Misalnya, kalau ia berangkat Rabu siang, maka tibanya bisa Kamis malam atau Jumat pagi tergantung angkutan penumpang. Tak pelak otot-ototnya jadi kaku dan lelah karena harus duduk berjam-jam.
“Biasanya busku nggak ada transit walaupun kadang ada juga bus yang diminta pindah. Jadi ya untuk meregangkan badan aku cuma bisa cari kesempatan pas dia berhenti di rumah makan,” kata Toha.
Baca Halaman Selanjutnya
Rela boncos untuk pertahankan gengsi
Menurut Toha, bus lebih efektif dibandingkan naik pesawat. Apalagi, jarak dari kampung halamannya ke kota terbilang jauh meski tidak bisa disebut pelosok.
“Kalau pakai bus bisa turun depan rumah, nah kalau pakai pesawat malah lebih ribet. Orang rumah jauh kalau mau jemput, apalagi bawa banyak barang,” jelasnya.
Rela boncos karena gengsi
Selain anti ribet, biaya untuk naik bus juga lebih murah dibanding pesawat. Untuk biaya pulang-pergi, Toha harus mengeluarkan uang sekitar Rp2 juta, sedangkan untuk pesawat bisa habis 2 kali lipatnya.
Namun sebetulnya, Toha tidak terlalu mempermasalahkan biaya transportasi. Malah, yang bikin dia stres adalah uang untuk bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) ke sanak saudaranya. Sebagai pekerja rantau dengan gaji imut (karjimut) di Jogja, Toha bisa menghabiskan biaya Rp4 juta lebih.
“Tetangga-tetangga atau keluarga kan tahunya kita sebagai anak rantau itu banyak uang, sukses lah hitungannya, padahal nggak tahu saja UMP Jogja berapa (Rp2,4 juta),” kata Toha yang bisa menghabiskan uang sekitar Rp6 juta untuk mudik ke Jambi.
Tak pelak, mudik menjadi beban finansial tahunan bagi Toha alih-alih tanggung jawab moral. Meski orang tuanya tidak menuntut dia pulang, bukan tidak mungkin tetangganya akan bertanya.
“Kenapa nggak mudik saat Lebaran?”
“Kamu nggak kangen keluargamu?”
“Pulang lah, mumpung Bapak Ibu masih ada.”
Padahal, tidak mudik bukan berarti Toha tidak rindu dengan keluarganya. Tidak berbakti kepada orang tua atau lupa dengan kampung halaman. Namun, banyak hal yang harus dia persiapkan, termasuk ketahanan finansial dan mental.
Oleh karena itu, Toha berharap keputusannya mudik tahun ini tidak sia-sia yakni dapat mengobati rasa rindunya sebagai anak rantau, sekaligus lelahnya menjadi karyawan gaji imut (karjimut) di Jogja walaupun harus mengeluarkan biaya lebih.
“Semoga mudik Lebaran tahun ini bisa melepas rindu dan menghilangkan rasa sedihku ketika mendengar suara takbir sendirian di kamar kos.” Kata Toha.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
