Memasang gantungan kunci (ganci) di tas alias bag charms kini menjadi tren milenial hingga gen Z. Bahkan, mereka rela mengeluarkan uang lebih dari Rp2 juta untuk mengoleksi ganci sebagai ekspresi diri.
***
Belakangan, bunyi “krincing-krincing” kerap terdengar saat saya sedang mengetik. Usut punya usut, bunyi itu berasal dari tas milik anak-anak magang yang bakal mewarnai hari-hari Mojok selama Agustus-November 2026.
Setelah menelisik lebih jauh, bunyi tersebut sebenarnya bukan berasal dari tas mereka melainkan aksesori ganci yang bersanding dengan lonceng kecil. Yang lebih mengejutkannya lagi, ganci yang terpasang jumlahnya lebih dari satu.
“Ini tren ‘tas delman’ Kak atau Bag Charm Craze,” kata salah satu anak magang yang tergolong gen Z. Istilah itu muncul sebagai plesetan yang menggambarkan keramaian aksesori ganci, karena bunyinya mirip dengan lonceng di kuda dan tampilannya yang bertumpuk-tumpuk.
Ternyata, fenomena ‘tas delman’ ini tak hanya menjangkiti gen Z tapi juga Archie (31) dan Sinta (37). Bagi kedua milenial ini, ganci bukan sekadar pajangan atau fesyen semata, melainkan simbol untuk menunjukkan hobi, kepribadian, dan preferensi visual pemiliknya.
Satu ganci impor seharga Rp615 ribu
Sebagai karyawan swasta, Archie selalu menyisihkan gajinya demi mengoleksi ganci sebagai aksesori tas. Sejak kecil, dia memang hiperfiksasi dengan gantungan dan boneka, terutama barang yang berbentuk burung.
“Kalau bagus dan aku suka, aku pasti beli,” kata Archie kepada Mojok, Selasa (16/9/2026).
Bahkan, Archie rela menggelontarkan uang ratusan ribu demi satu ganci yang dia sukai. Salah satunya, Jellycat Strutton Pigeon Bag Charm seharga $40.00 USD atau sekitar Rp615 ribu.
Gantungan kunci tersebut adalah item eksklusif dari FAO Schwarz, sebuah jaringan toko mainan legendaris di dunia asal Amerika Serikat. Karena itu, Jellycat Strutton Pigeon Bag Charm sulit didapatkan di Indonesia.
“Akhirnya, aku harus impor dan cari jasa titipan terpercaya,” kata Archie. Artinya pula, Archie harus mengeluarkan uang lebih untuk jasa-jasa tersebut.
Habiskan uang jutaan rupiah demi tren ganci
Selain mengoleksi ganci jenis burung, Archie juga mengoleksi ganci dari permainan Genshin Impact yang khusus dibuat penggemar. Daya tariknya bisa dilihat dari desainnya yang khas, serta bisa dengan mudah dibeli di berbagai platform e-commerce.
“Sekarang sudah ada sekitar 10 fanmade keychain Genshin Impact, tapi jarang saya pakai di tas karena takut jatuh dan hilang. Paling masuk ita-bag saja biar aman dipakai waktu lagi event,” kata Archie.
Jika ditotal, sampai saat ini Archie sudah mengeluarkan uang sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta itu koleksi tersebut. Di luar itu, ia rela mengeluarkan uang sekitar Rp1 juta untuk memesan 5 ganci khusus dan fanart.
“Pernah waktu itu aku commission art ke beberapa seniman untuk dibuatkan ganci berkarakter One True Pairing (OTO) shipping yang jarang diminati penggemar,” jelasnya.
Tren ganci yang bikin milenial FOMO
Bagi sebagian orang, mengeluarkan uang sekitar Rp3 juta lebih untuk koleksi ganci di tas mungkin terbilang boros. Namun, Archie tak pernah menganggapnya demikian. Menurut dia, ganci bukan sekadar pajangan, tapi bentuk ekspresi diri.
“Hewan favoritku itu burung dara atau merpati, jadi wajar kalau aku mencari segala jenis benda atau hewan yang berhubungan dengan merpati termasuk membeli ganci ini,” jelas Archie.
Tak hanya Archie, Sinta mengaku sudah mengeluarkan total uang sekitar Rp2 juta untuk mengoleksi 30 ganci. Mulai dari Plushie K-Pop, pouch, blind box, card holder, carabiner, lip balm holder ganci, serta berbagai produk dari UMKM.
Meski terlihat kekanak-kanakan, Sinta merasa apa yang dia beli sudah cukup memenuhi kebutuhan emosionalnya dan masih berada di batas wajar tabungannya.
“Kalau ada anggarannya ya beli, kalau nggak ya nggak perlu dipaksakan,” kata Sinta.
Namun, Sinta tak menampik, jika ada ganci yang membuatnya kepincut, ia rela mengeluarkan biaya dan energi lebih. Apalagi, kalau sudah kepikiran berhari-hari. Perasaan itu cukup mengganggunya.
“Biasanya ganci dari merch K-Pop yang lumayan pricey dan harus jastip, sama ganci dari bazar-bazar UMKM yang limited. Kalau aku sudah suka banget, aku usahain custom atau datang pagi ke acara bazarnya biar nggak kehabisan,” tutur Sinta.
Tren ganci sebagai ekspresi diri
Hobi tersebut, kata Sinta, mulai dia gemari sebelum adanya tren kidult. Dulu, dia pasti memasang 2 buah ganci di tasnya. Seiring berjalannya waktu, koleksi gancinya pun makin bertambah sesuai dengan fungsinya.
“Waktu aku masih kerja, aku selalu punya gantungan kartu tap untuk KRL agar lebih mudah mengaksesnya. Terus waktu Covid jadi nge-trend gantungan hand sanitizer di tas. Nah, dari situ aku mulai menambahkan hiasan-hiasan di tas seperti tas belanja lipat yang bisa digantung,” jelas Sinta.
Lebih dari itu, sama seperti Archie, Sinta merasa bisa menunjukkan minatnya pada orang lain melalui ganci yang dia pakai di tasnya. Beberapa ganci bahkan menunjukkan karakternya sebagai fandom K-Pop.
“Ganci ini menunjukkan identitasku, apa yang aku suka bisa terlihat dari situ,” kata Sinta.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Gen Z Suka Jajan buat Self-Reward, Memang Redakan Stres tapi Harus Sadar Ancaman Finansial Masa Depan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
