Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

ilustrasi - mie ayam pilihan orang Surabaya untuk menghabiskan waktu bersama sahabat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Mie ayam jadi pilihan orang-orang Surabaya untuk menikmati quality time bersama sahabat. Mengungkapkan emosi yang tak bisa diutarakan lewat kata-kata, hingga terurai bersama gurihnya rasa.

***

Bukan rahasia lagi kalau mie ayam jadi salah satu comfort food di Indonesia, yakni jenis makanan yang memberikan kenyamanan saat menyantapnya. Mie ayam juga dipercaya dapat membangkitkan mood atau pelipur lara saat sedih.

Seorang profesor pemasaran di University of South Carolina, Stacy Wood menemukan fakta menarik soal alasan orang memilih comfort food ketika mengalami gejolak dalam hidup. Melansir dari BBC, mereka biasanya cenderung memilih makanan yang belum pernah dicoba. Namun, hal itu terbantahkan ketika ternyata mereka lebih banyak memilih keripik kentang yang populer dibanding jenis makanan baru. 

“Mereka pikir orang dengan kehidupan stabil memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjajal makanan-makanan baru, tapi ketika situasi menjadi sulit, mereka justru tidak mengikuti aturan itu,” ujar Stacy dikutip dari BBC, Rabu (25/2/2026).

Perempuan, kata dia, juga cenderung menyantap comfort food ketika suasana hati mereka sedang tidak baik. Begitu pula Santi–bukan nama sebenarnya, perempuan asal Surabaya yang menjadikan mie ayam sebagai comfort food utama saat kehidupannya sedang tidak baik-baik saja.

Alasan sederhana orang Surabaya menyukai mie ayam 

“Aman, Ji?” ujar saya saat mengirimkan sebuah pesan ke Santi lewat WhatsApp, Senin sore (23/2/2026).

“Aman,” jawab Santi selang beberapa menit sembari mengirimkan post a picture (pap) berupa mie ayam.

Melihat pesan Santi, saya tahu jika jawaban ‘aman’ dari dirinya hanyalah formalitas dan ada makna mendalam di balik foto mie ayamnya itu. Kebiasaan ini saya ketahui sejak kami bermain bersama saat SMA.

Bagi kami, mie ayam adalah “obat penenang” dari segala masalah. Baik saat stres karena keluarga, masalah sekolah, kuliah, kerja, hingga tantangan menghadapi fase dewasa. Dulu, saat seragam kami masih putih abu-abu, kami suka ngandok di gerobak mie ayam langganan.

Setelah saya merantau waktu kami jadi berkurang, tapi setiap saya pulang ke Surabaya, Santi selalu mengajak saya makan mie ayam sekaligus quality time. Kami hampir tak pernah ngandok makanan selainnya, kecuali nasi goreng. Alasannya sederhana, karena harganya murah, mudah ditemui, dan rasanya yang familiar.

Mie ayam Surabaya mengutarakan yang tak bisa diutarakan

Baru-baru ini, Santi memang banyak mengalami masalah hidup. Beberapa minggu sebelum mengirim pap berupa mie ayam ke saya, ia cerita kalau adiknya mengalami married by accident (MBA). Sebagai seorang kakak, ia merasa serba salah.

Kecewa dengan diri sendiri karena tak bisa hadir sepenuhnya bersama adiknya sehingga ia harus mengalami masalah tersebut, sekaligus tak bisa melindungi adiknya yang terkena murka dari ayahnya.

Boro-boro mau membela, Santi justru kena imbas tak boleh pulang malam oleh ayahnya. Maksimal di bawah jam 21.00 WIB. Padahal, jam kerja Santi sering mengharu skan ia lembur. Alhasil, Santi memutuskan resign dan mencari pekerjaan yang lebih fleksibel.

Kamu nggak pulang ke Surabaya ta? Ajaken aku main, bebas soale aku saiki nganggur (Kamu nggak pulang ke Surabaya kah? Ajak aku main, bebas. Soalnya aku sekarang nganggur),” kelakarnya lewat pesan teks.

Meski tampak bercanda, saya harus menanggapinya dengan serius. Dari kejauhan, saya hanya bisa memvalidasi perasaan Santi dan mengingatkannya untuk makan. Saat itu saya tidak secara spesifik menyuruh Santi makan mie ayam, tapi ia selalu mengirim pap mie ke saya.

“Karena apa ya? Menurutku murah, bisa disantap setiap saat bahkan ada yang buka sampai malam, terus rasanya gurih, tidak terlalu manis dan asin jadi pas di lidah. Selebihnya ya karena aku senang makan mie ayam jadi mood-ku ikut happy,” jelas Santi saat saya tanya alasannya makan mie ayam.

Cocok dimakan saat badai pasti berlalu, lalang

Tak lama setelah itu, Santi mengabari saya bahwa ia sudah mendapat pekerjaan di Surabaya setelah mengirim puluhan lamaran. Saya bersyukur mendengar kabar baik darinya, tapi kemudian saya bingung kenapa dia masih mengirim pap mie ayam setiap kali saya tanya, sudah makan atau belum?

Jawabannya sederhana, “Begitulah gejolak hidup kawan, ada saja masalahnya.”

Kini, Santi memang bukan pengangguran tapi ia tergolong pegawai yang overworked and underpaid. Di Surabaya, fenomena pelik ini dapat dengan mudah dijumpai. Santi adalah salah satunya. Dengan rutinitas 10 jam bekerja, ia hanya mendapat gaji Rp2,3 juta (dibawah UMK Surabaya).

Mojok juga pernah menuliskan fenomena pekerja Surabaya yang bergaji tipis, tapi jam kerja lebih dari 8 jam, dalam artikel berjudul “Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan.

Nyatanya, pilihan makan mie ayam agar bikin hati tenang tak hanya dilakukan oleh Santi dan saya. Berliana yang juga guru di salah satu sekolah Surabaya berujar mie ayam adalah menu favoritnya untuk quality time bersama sahabat.

“Sejak kelas 12 SMA, zaman-zamannya sibuk UN, memilih karier, kejar kampus impian, makan mie ayam paling cocok dimakan bareng sahabat sambil membahas masalah hidup,” kata Berliana, “kebiasaan ini juga berlanjut hingga sekarang.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version