Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Ilustrasi - Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pertama kali merantau ke Jogja menjadi momen tidak mudah bagi Akbar (24). Sebab, kerja palugada sebagai waiters merangkap tukang bersih-bersih di sebuah coffee shop, dia hanya menerima gaji sebesar Rp10 ribu perhari. 

***

Berpakaian serba rapi, Akbar menemui saya di bilangan Ngaglik, Sleman, pada Minggu (22/2/2026) malam, selepas tarawih. Dia Baru saja pulang dari meeting dengan sejumlah klien untuk keperluan iklan di bulan Ramadan. 

Akbar kini bekerja di bidang marketing sebuah brand olahan herbal di Jogja. Dari yang Akbar ceritakan, gajinya jauh lebih baik ketimbang masa-masa awalnya merantau ke Jogja pada awal 2024 silam. 

Alhamdulillah, Mas, sekarang kusyukuri dan kujalani aja,” ujarnya saat saya ucapkan syukur karena pekerjaannya terbilang lancar. Gaji juga sudah ada di angka Rp3 jutaan. 

Merantau ke Jogja, tak tahu mau kerja apa

Kalau mau rasional, harusnya Akbar mencoba bertarung di Surabaya-Sidoarjo terlebih dulu setelah lulus kuliah, kalau mau cepat dapat pekerjaan. Akan tetapi, pemuda asal Sidoarjo itu merasa butuh tantangan. 

Entah kenapa, saat itu Jogja begitu menarik baginya. Dalam bayangannya, Jogja sebagai episentrum industri kreatif, menyediakan peluang kerja yang luas. 

“Walaupun sebenarnya juga belum tahu, memang mau kerja apa waktu itu,” kata Akbar sembari terkekeh mengenang masa-masa penuh kenekatan tersebut. 

Memang banyak industri kreatif yang berkembang di Jogja. Sektor swasta juga banyak. Masalahnya, belum tentu mudah keterima kerja. Rasanya susah sekali mendapat pekerjaan

Karena sebelum berangkat merantau ke Jogja, Akbar sudah mengirim lamaran kerja ke sejumlah tempat yang membuka lowongan. Tapi sampai tiba di Jogja pun dia masih terancam luntang-lantung. 

Kerja sesaat terus luntang-lantung (lagi)

Untung saja Akbar sempat diterima kerja di sebuah lembaga penelitian situs cagar budaya. Gajinya sudah Rp3 jutaan. Dia pun bisa menyewa kos di daerah Kota Jogja, walaupun untuk harga sewa yang murah. 

Hanya saja, pekerjaan itu tidak berlangsung lama bagi Akbar. Sebab, setelah tiga bulan, kontraknya tidak diperpanjang. 

“Saat itu untungnya aku punya tabungan dari kerja tiga bulan. Dapat pesangon juga. Lumayan buat makan, walaupun memang harus diirit-irit sampai dapat pekerjaan lagi,” kata Akbar. 

Kerja di coffee shop Jogja, gaji Rp10 ribu perhari

Dalam kesulitan itu, Akbar menghadap seorang senior kampusnya di Surabaya dulu yang ternyata punya usaha coffee shop di Jogja. Berharap dia bisa dipekerjakan, sementara waktu sampai dia dapat pekerjaan baru. 

Kata Akbar, saat itu situasinya sebenarnya agak berat bagi senior kampusnya tersebut. Sebab, dia sudah punya beberapa karyawan. Selain itu, saat-saat itu omzet coffee shop sedang tidak bagus dalam beberapa bulan terakhir. 

“Tapi karena dia kasihan sama aku, akhirnya aku ditampung. Cuma dia memang nggak berani ngasih gaji sebagaimana karyawan asli situ,” kata Akbar. 

Akbar hanya akan menerima gaji sebesar Rp10 ribu untuk pekerjaannya sebagai waiters. Akan tetapi, si senior memberi keleluasaan Akbar untuk makan setidaknya dua kali di coffee shop tersebut. 

“Ya nggak apa-apa, Mas. Lumayan, paling nggak saya bisa makan gratis. Uang Rp10 ribu buat bensin. Dengan begitu, uang sisa kerja tiga bulan sebelumnya bisa kusimpan buat jaga-jaga bayar kos,” kata Akbar. 

Kerja palugada sampai kelelahan, gengsi balik ke kampung halaman

Awalnya memang waiters. Akan tetapi, seiring waktu, pekerjaan Akbar di sebuah coffee shop di Jogja itu tidak hanya berkutat pada mengantar pesanan dan membersihkan meja. Tapi palugada. Apapun yang bisa dikerjakan di coffee shop tersebut akan dia kerjakan. 

Meski sebenarnya itu bukan tugas dari si senior. Melainkan karena Akbar merasa berterima kasih saja. Sebab, di tengah kondisi serba tak pasti yang dia alami, masih ada orang yang mau menolong: memberinya makan. 

“Sambil tetap cari kerja, Mas. Sambil nunggu. Dibilang capek ya capek. Tapi nggak apa-apa. Aku kan dari awal memang sudah nekat merantau ke Jogja, jadi harus mode survive,” ujar Akbar. 

“Kalau belum kunjung dapat pekerjaan, kenapa nggak pulang aja, balik ke Surabaya atau Sidoarjo, cari kerja di sana?” Tanya saya. 

“Gengsi.” Itu alasan terkuat Akbar. Pasalnya, dia berangkat ke Jogja dengan agak “omong besar” ke orang tua: bahwa dia akan dapat pekerjaan layak di Jogja, bakal jauh lebih berkembang. Jadi, sebelum itu kejadian, pantang pulang bagi Akbar. 

Rezeki datang saat sewa kos nyaris tidak terbayar

Bahkan ketika kondisi keuangannya makin kritis pun, Akbar masih pantang untuk pulang ke kampung halaman. 

Bagaimana tidak. Uang sisa kerja sebelumnya, yang diperuntukkan sewa kos, sudah menipis. Kalau bulan berikutnya tidak terbayar, bisa-bisa dia terusir karena tidak ada pemasukan selain gaji Rp10 ribu perhari yang dia dapat dari kerja di coffee shop Jogja itu

“Aku itu sempat kepikiran, mau numpang tinggal di mess coffee shop. Tapi sungkan lah. Di sana sudah buat karyawan lain. Lagi pula aku juga udah dikasih makan,” kata Akbar. 

Syukurnya, salah satu lamaran kerja Akbar tembus: menjadi marketing di sebuah brand olahan herbal di Jogja. Dia bernapas lega dan bahkan bisa bernapas lebih panjang: karena dia akhirnya kerja di sana hingga sekarang. Makin hari makin lancar. Gajinya pun Rp3 jutaan, lebih baik dari kebanyakan orang yang mengeluh gajinya di bawah UMR.

“Tapi aku sedang mikir untuk mulai nyambi jualan ini, Mas. Buat jaga-jaga. Jadi kalau pagi-sore kerja, malam jualan,” tutup Akbar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Risiko Dobel-dobel Jadi Pekerja Swasta di Jogja: Gaji Kecil untuk Kerjaan Nggak Ngotak, Resign Kena Denda kalau Bertahan Malah Di-PHK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version