Mall Kota Kasablanka (Kokas) jadi salah satu tempat paling membingungkan di Jakarta. Kokas selalu ramai, bahkan jadi lokasi main banyak orang, padahal nggak ada yang istimewa. Apalagi macetnya, nggak masuk akal.
***
Saat salah seorang teman saya akhirnya bekerja di Jakarta, saya dan teman-teman lain yang lebih dulu menjajaki Jakarta menyambutnya di Kokas. Alasannya mungkin saja karena Kokas dekat dengan Kuningan, Jakarta Selatan, yang menjadi tempat tinggalnya.
Namun setelah diingat lagi, saya dan kedua teman lain juga bertemu di Kokas beberapa waktu sebelumnya. Padahal, ada mall lain yang lebih strategis secara lokasi. Inilah yang memunculkan pertanyaan, kenapa Kokas bisa jadi tempat yang direkomendasikan untuk dikunjungi, padahal biasa-biasa saja?
Orang Jakarta “mati” di jalan mungkin bercermin dari kemacetan Kokas
Kokas merupakan salah satu mall yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Mall ini terdiri dari 6 lantai dengan beraneka tenant dan fasilitas, seperti pusat perbelanjaan umumnya. Ia terletak dekat dengan kawasan bisnis dan pemukiman yang membuat keramaiannya berlipat ganda.
Pertama kali ke Kokas, 11 Maret 2025 lalu, lokasi ini dipilih secara asal. Rekomendasi lokasi tiba-tiba memunculkan Kokas untuk menjadi tempat hangout paling oke bersama teman yang lama tidak ditemui.
Namun belum juga bertemu, saya pikir lebih baik tidak sekalian.
Dalam perjalanan dari daerah Kemang, saya justru menghabiskan lebih banyak waktu menunggu gerak kendaraan di Jalan Raya Casablanca—di hadapan Kokas—karena kemacetan panjang.
Kalau diperkirakan, Google Maps menyebut perlu estimasi 20 menit untuk sampai di lokasi. Maka, perlu waktu tambahan setara 20 menit untuk dapat benar-benar sampai di depan lokasi.
“Macet gila menuju sana,” kata Alifah (25) yang menyetujui kemacetan Kokas yang tidak masuk akal.
Menurut Alifah yang tinggal di Depok, terbiasa menembus jalanan padat merayap dari Depok menuju Jakarta Selatan, kemacetannya tetap tidak logis dan mengganggu. Ia bahkan bisa menyerah di jalanan menuju lokasi.
“Gila banget [macetnya], sangat mengganggu,” tambahnya.
Itulah yang saat itu saya rasakan, sayangnya putar balik berarti 40 menit tambahan perlu dihabiskan di jalan. Dari sini juga, Kokas merefleksikan “orang Jakarta” yang menghabiskan waktu di jalan.
Sudah tertahan di jalan, pemandangannya bikin sakit mata
Sama seperti Alifah, Lala (24) juga mengaku tidak tahan menghadapi kemacetan Kokas. Sialnya, kantornya berlokasi di sekitar sana, membuatnya harus melalui Kokas hampir saban hari.
Menurutnya, kemacetan ini juga disebabkan oleh pengendara yang tidak tertib. Sebab, tipikal macet ini diamati Lala berasal dari keharusan berlomba-lomba dalam menggunakan jalan bersama mereka yang parkir sembarangan dalam menunggu maupun menurunkan penumpang.
“Macet di sekitar sana tuh macet yang bergerak. Kurang tertib aja kayaknya ojol sama angkot yang kalau ngetem suka makan bahu jalan,” katanya.
Namun karena alasan yang sama juga, Lala bilang, matanya menjadi “sakit” melihat kondisi jalanan.
Masalahnya, bukan hanya pengendara yang ingin maju untuk segera sampai tujuan. Juga, ada kendaraan-kendaraan yang berdiam menghalangi. Alhasil, jadilah pemandangan itu yang menguasai indera penglihatannya.
“Mumet ya, karena pemandangan di jalan Kokas tuh penuh sama kendaraan,” bebernya.
Kokas, semuanya ada seperti Blok M
Namun, kemacetan seperti bukan halangan bagi para pengunjung setianya. Menurut Lala, ini bisa jadi karena Kokas yang serupa tapi tak sama dengan Blok M.
“Dia mirip-mirip auranya sama Blok M,” kata Lala.
Di sana juga, Lala bilang, ada berbagai kebutuhan yang tersedia. Mulai dari makanan, pakaian, sampai hiburan bisa ditemukan.
Justru, Lala menilai, dalam perbandingan mall yang sama-sama berlokasi di Jaksel, ia lebih unggul dari Blok M soal brand ternama. Dibandingkan dengan Blok M Plaza yang tidak terlalu bervariasi, Kokas diisi oleh brand yang sering dicari karena tren oleh banyak orang.
“One stop entertainment. Apa aja ada alias tenant dia tuh lengkap kan,” ulasnya.
Meski macet, Kokas jadi mall elite yang cocok untuk orang biasa
Dilihat dari berbagai kebutuhan yang tersedia, bagi Lala, ini mengalahkan kekurangan lokasinya yang macet parah.
Belum lagi, Kokas terbilang mewah dengan 6 lantai perbelanjaan dan 3 lantai parkir basement. Desain pusat perbelanjaan ini juga mengusung konsep interior Maroko dan memanfaatkan cahaya alami melalui atriumnya yang luas.
Dengan ini, bangunannya terlihat lebih luas dan nyaman untuk ditelusuri. Begitulah kata Lala soal teman-temannya yang bahkan telah menjadikan mall ini sebagai rumah keduanya. Sebab, kebutuhan apa pun dapat dipenuhi di sana.
“Teman-temanku banyak juga yang bilang Kokas tuh second home mereka karena, habis dari kegiatan apa pun, kalau mau nyantai, makan, atau cari barang pasti ke Kokas,” ujarnya.
Selain itu, tidak seperti Blok M yang segmennya seakan menyasar kelas menengah ke bawah dengan konsep terbuka, meskipun harganya terkadang juga masuk ke taraf menengah ke atas. Kokas juga tidak seperti Plaza Senayan yang tersegmentasi untuk orang-orang kalangan atas.
Kokas adalah mall yang isinya elite, tetapi juga ada penawaran bagi mereka yang biasa-biasa saja. Setidaknya, mereka yang tidak berasal dari kelas atas sekalipun, bisa mencicipi gaya hidup elite.
“Kokas menurutku nggak terlalu segmented ya, nggak high class banget, tapi juga nggak low class. Pas lah di tengah-tengah,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
