Seorang lulusan SMK, demi gengsi ke tetangga desa, mengaku ke orang tuanya kerja di Sidoarjo, Jawa Timur, dengan gaji 20 juta rupiah. Agar mulut tetangga dan saudara yang selalu meremehkan tersumpal, tidak merendahkan orang tua dan dirinya lagi dengan standar sukses yang berlaku.
Saya sebenarnya agak sangsi juga dengan narasi “gaji 20 juta” yang Wiwin (21) bicarakan. Terdengar tidak masuk akal untuk ukuran lulusan SMK (tanpa bermaksud merendahkan), di saat banyak pekerja lulusan S1 saja menerima gaji di bawah UMP.
Sekolah “pertukangan” jadi bahan olok-olok di desa
Wiwin hanya lulusan SMK di bidang “pertukangan” (Teknik Konstruksi dan Perumahan). Sejak awal sekolah di jurusan tersebut, ia sudah amat kerap direndahkan tetangga dan saudara.
“Masa mau jadi tukang saja ndadak sekolah segala. Udah langsung ikut bapakmu kan bisa,” begitu seloroh-seloroh tetangga atau saudara Wiwin.
“Nanti lulus sekolah berarti jadi tukang? Ya langsung ikut kerja bapakmu aja.” Bapak Wiwin memang seorang tukang kayu.
Sejujurnya Wiwin agak terganggu dengan seloroh-selorohan semacam itu. Walaupun, kalau ia cerita dengan bapak dan ibunya, keduanya selalu meminta Wiwin untuk mengacuhkan saja.
Lulusan SMK ngaku kerja di Sidoarjo gaji 20 juta biar tidak direndahkan
Lulus SMK pada 2022, Wiwin sebenarnya belum langsung dapat pekerjaan. Apalagi saat itu memang masih dalam situasi pandemi Covid-19. Alhasil, yang bisa ia lakukan adalah bantu-bantu sang bapak.
Jelas tidak akan luput menjadi olok-olok. Sebab, dengan membantu sang bapak menukang, seolah membenarkan seloroh para saudara dan tetangga: sekolah pertukangan ujung-ujungnya ya bakal bantu-bantu bapak jadi tukang kayu.
“2023 itu baru lah dapat kerja, berangkat sama teman, di pabrik pengolahan kayu di Sidoarjo. Di situ nggak tahu kenapa aku pengin nyumpal mulut-mulut tetangga,” ucap lulusan SMK, pemuda asal Jawa Tengah, itu.
Sebenarnya Wiwin dan orang tuanya tidak langsung membicarakan gaji kerja di pabrik pengolahan kayu Sidoarjo tersebut. Namun, suatu kali, sang ibu terpaksa bertanya kepada Wiwin melalui sambungan telepon: “Memangnya dapat upah berapa? Biar kalau ditanya saudara atau tetangga bisa jawab.”
Tersulut kesal, Wiwin langsung menjawab mantap dan meyakinkan: 20 juta rupiah perbulan. Ibu Wiwin jelas kaget: gede juga ternyata.
“Biar tersumpal mulut tetangga dan orang-orang yang menyepelekan kami. Karena kalau aku disepelekan terus, itu secara nggak langsung juga meremehkan orang tuaku,” ucap Wiwin.
Baca halaman selanjutnya…
Tetap tidak cukup buat penuhi standar sukses di desa












