Khanti Puji tak pernah pindah tempat tinggal. Ia masih setia dengan tempat kelahirannya yakni Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Menurut dia, Lasem adalah kawasan yang unik tapi jika ditanya untuk “menetap”, Khanti ragu.
***
Lasem dijuluki sebagai “Tiongkok Kecil” karena akulturasi budaya yang terlihat kental bahkan dari segi arsitektur bangunannya. Ada beberapa bangunan lama di Lasem yang kerap dijadikan tempat wisata sekaligus masih dihuni oleh peranakan Tionghoa.
Melansir dari YouTube Pusat Dokumentasi Arsitektur, komunitas Lasem Berdaya mencatat setidaknya ada 362 objek yang diduga sebagai cagar budaya. Mulai dari struktur jalanan, bangunan, dan situs.
Beberapa bangunan memiliki corak khas Tionghoa bercampur Jawa. Corak itu tak hanya disimbolkan lewat bangunan, tapi motif dan warna batik khas Lasem. Salah satu jenis batik tersohor dari Lasem adalah batik tiga negeri yang memiliki warna merah darah ayam, biru, dan cokelat.
Khanti Puji yang merupakan anggota pegiat komunitas budaya Lasem menjelaskan, merah menyimbolkan kebudayaan Tionghoa, biru sebagai budaya Belanda, dan cokelat yang berasal dari budaya Mataraman yang mencakup Hindu-Buddha serta Jawa. Hal itu menunjukkan kerukunan warga di tengah keberagaman.
Nilai toleransi yang kental di Lasem
Sejak lahir hingga usianya menginjak 25 tahun, Khanti mengaku perbedaan agama dan etnis tak pernah memicu konflik. Padahal, ia sering mendengar konflik di daerah-daerah lain, seperti yang terjadi di Kota Poso, Ambon, atau yang terbaru di Tangerang soal kendala perizinan rumah ibadah.
“Setelah aku bandingkan dari kota-kota lainnya, terutama hubungan antar masyarakatnya ya, Lasem itu terkenal dengan toleransi dan kerukunan tanpa sumbu di tengah perbedaan agama dan etnis,” ujar Khanti kepada Mojok, Senin (2/2/2026).
“Dan kebetulan dari silsilah keluarga keluarga Bapak Ibuku yang aslinya tinggal di Desa Sedangcoyo, Pegunungan Lasem itu memang jarang ada konflik,” ucap Khanti.

Sebagai informasi, Desa Sedangcoyo merupakan lokasi Vihara Ratanavana Arama yang dikenal sebagai salah satu pusat peribadatan dan ajaran Buddha. Sejak berdiri tahun 1998, vihara tersebut jadi destinasi penting khususnya perayaan Waisak.
Sekitar 2,2 kilometer dari vihara, terdapat Pesantren Kauman Lasem yang terletak di Desa Karangturi, Rembang. Beberapa ruangannya memiliki arsitektur khas Tionghoa bercampur Jawa. Tak jauh dari pesantren tersebut, terdapat sebuah Masjid Jami’ Baiturrahman yang merupakan pusat wisata religi.
“Keluarga Bapak dan Ibuku yang menganut ajaran Buddha masih belajar di sana. Kami juga hidup rukun dan berdampingan dengan umat muslim,” kata Khanti.
Tapi perekonomian sulit maju
Keunikan tersebut, kata Khanti, bikin Lasem bahkan lebih terkenal dibanding Rembang itu sendiri. Banyak orang-orang pergi ke Lasem untuk wisata. Meski begitu, wisatawan di Lasem lambat laun berkurang dan bangunannya terancam mangkrak.
“Seandainya peninggalan-peninggalan sejarah itu dirawat, mungkin bisa mendobrak wisatawan. Karena setahuku banyak rumah kuno yang dijual dan bahkan situs sejarah yang tidak terawat,” ucap Khanti.
“Kalaupun terpaksa mencari uang dalam jumlah banyak, mau nggak mau ya harus keluar dari Lasem karena kebanyakan orang di sini kerja di pabrik. Dan menurutku, hanya itu pekerjaan yang gajinya lumayan dan menjanjikan sejauh ini,” kata Khanti.
Namun, ada juga bisnis lain yang menurutnya lebih potensial yakni kuliner. Sebagian orang luar daerah barangkali belum banyak yang tahu kalau Lasem terkenal dengan berbagai resep kuliner legendaris, hasil dari akulturasi Tionghoa dan Jawa. Seperti lontong tuyuhan, sate srepeh, nasi gandul, yopia, hingga tauco.
“Nah kalau untuk usaha-usaha yang non kuliner, misalnya kriya, penjahit, dan batik, menurutku pasarnya lebih ke luar negeri sedangkan aku belum ada sih keinginan ke sana,” ucap Khanti.
Oleh karena itu, kata dia, jika ingin slow living di Lasem, Rembang minimal harus punya finansial sekitar 70 persen karena harga barang-barang dan makanan di Lasem sudah terbilang mahal. Untuk sarana hiburan, Lasem tak memiliki banyak mal modern melainkan punya wisata alam yang menarik.
“Tapi kalau mau menghindari hiruk pikuk kota seperti Jakarta dan menikmati hidup dengan tenang sembari merasakan keberagaman, Lasem barangkali cocok untuk tempat singgah,” ujar Khanti.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan