Pandangan saya tertuju pada seorang perempuan berbaju ungu yang sibuk menawarkan aksesori kemerdekaan kepada para pengunjung di Pesta Rakyat Jogja. Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tersebut, kesejahteraan hidup seolah tak dirasakan lansia seperti dirinya.
Lansia jual aksesori kemerdekaan saat HUT ke-81 RI
Siti masih bekerja serabutan di usianya yang sudah lebih dari setengah abad alias mendekati lansia. Di tengah kerumunan orang yang mengikuti Pesta Rakyat Jogja, dia sibuk menawarkan aksesori bercorak kemerdekaan Republik Indonesia (RI), mulai dari bendera, bando, dan balon ajaib.
Untuk bando berwarna merah dan putih, Siti mematok harga Rp20 ribu, sedangkan untuk bendera dengan gambar garuda dan balon ajaib seperti lightstick dijual dengan harga Rp25 ribu.
Namun nyatanya, menjual aksesori kemerdekaan pada momen kemerdekaan RI tidaklah mudah. Banyak orang hanya melengos saat melewatinya, tanpa keinginan untuk melirik. Beberapa orang bahkan menolak penawarannya.
“Saya sudah jualan dari pukul 07.30 WIB sampai 11.00 WIB, tapi baru laku tiga,” ucap perempuan berusia 56 tahun itu saat ditemui Mojok di sekitar Gedung Agung, Jogja pada Senin (17/8/2026).
Sebagai penjual yang sudah berjualan selama 10 tahun, Siti paham, selain ada persaingan dagang, sebagian masyarakat lebih memilih hidup berhemat di situasi ekonomi sekarang.
“Sekarang orang-orang pada mikir, mereka lebih baik beli makanan atau baju daripada beli aksesori semacam ini. Sudah punya prioritas masing-masing,” jelas Siti.
Meski begitu, dia tetap yakin dengan peruntungannya pada momen kemerdekaan RI. Sebelum barang dagangannya habis, pantang baginya untuk pulang. Setidak-tidaknya, sampai pukul 14.00 WIB mengingat fisiknya yang tak lagi kuat.
Ikut suami jual aksesori kemerdekaan
Sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, Siti sempat menjual aksesori lain seperti bendera di acara pengajian atau acara selawatan. Penghasilannya pun lumayan, lebih laris ketimbang aksesori kemerdekaan yang dia jual selama beberapa hari terakhir.
Jika pembeli di acara pengajian sedang ramai, Siti bisa mendapat uang sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu dalam sehari. Menurutnya, angka penjualan tersebut sudah terbilang fantastis.
Namun sebagai pengecer, keuntungan itu bakal dia bagi dengan pemasok sekitar 20 persen. Artinya, Siti dapat memperoleh upah sebesar Rp100 ribu dalam sehari. Itu pun jika dagangannya laku keras. Meski tak banyak, Siti tetap bersyukur.
“Lumayan Mbak, buat bantu suami, sebelumnya saya cuma ibu rumah tangga,” kata Siti.
Tetap bekerja setelah pensiun
Suami Siti sendiri merupakan pensiunan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang sudah berusia 60 tahun. Sama seperti Siti, dia juga bekerja sebagai penjual aksesori kemerdekaan atau aksesori lain di sekitar Malioboro. Malahan, Siti yang mengikuti jejak suaminya.
“Pernah waktu itu ada acara pengajian di Jakarta, kami jual bendera. Atau kalau terdekat ya di sekitaran Bantul, Malioboro, Sleman, pokoknya tiap ada acara pasti kami ikut buat jualan,” ujar Siti.
Di usianya yang tak lagi bugar, Siti dan suaminya rela bekerja demi mengais sedikit pundi-pundi rezeki. Paling tidak, uang yang mereka hasilkan bisa untuk biaya makan. Lebih dari itu, Siti juga ingin menabung untuk memberi hadiah cucunya yang baru lahir.
“Saya semangat begini untuk cucu. Kalau ibunya kerja, saya yang mengurus. Kalau anak saya libur, ganti saya yang jualan,” ujar perempuan asal Jogja tersebut.
Tantangan aging population yang harus dihadapi
Realitas pahit yang dijalani Siti dan suaminya untuk menjual aksesori kemerdekaan di masa tua seakan mengamini peringatan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi. Oscar sempat mengimbau semua orang agar mulai memperhatikan kebutuhan lansia.
Hal ini krusial lantaran Indonesia bakal mengalami aging population atau penuaan penduduk, yakni fenomena yang terjadi ketika rata-rata usia penduduk bertambah seiring dengan angka harapan hidup yang naik atau angka kelahiran yang menurun.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan jumlah penduduk lansia di atas usia 60 tahun naik dua kali lipat pada tahun 2045 dibandingkan tahun 2023.
Pada tahun 2023, jumlah penduduk lansia adalah 30,9 juta jiwa atau 11,1 persen dari total 278,7 juta penduduk Indonesia. Sementara tahun 2045 diperkirakan naik menjadi 65,8 juta jiwa atau 20,5 persen dari 320,4 juta total penduduk tahun 2045.
“Di tataran global, situasi ini tidak jauh berbeda bahkan mungkin lebih memprihatinkan seperti fenomena Kodokushi di Jepang yaitu lansia yang meninggal membusuk dalam kesendirian dan kejadiannya cukup banyak sehingga telah menjadi permasalahan serius bagi Pemerintah Jepang,” kata Oscar dikutip dari laman resmi Kemenkes pada Selasa (18/8/2026).
Oleh karena itu, Oscar berharap, keluarga lansia dapat meningkatkan perannya lebih jauh dalam melakukan perawatan. Dengan begitu, lansia dapat sehat, mandiri, aktif, dan produktif, terutama di masa setelah pensiun.
“Saya juga mengajak semua pihak terkait untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan Lansia, melalui pelayanan kesehatan yang santun lansia baik di fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun rujukan, pemerintah maupun non pemerintah,” ujarnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
