Pertengahan Mei 2026 ini, pemberitaan didominasi oleh kelesuan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Laporan terbaru Kementerian Ketenagakerjaan, misalnya, mencatat angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus merangkak, melanjutkan tren buruk tahun sebelumnya di mana lebih dari 88.000 pekerja kehilangan pekerjaan.
Di saat bersamaan, data Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan porsi pendapatan masyarakat yang habis untuk konsumsi terus membesar, menggerus porsi tabungan mereka.
Kelesuan ekonomi jelas bukan lagi menjadi narasi buat menakut-nakuti. Ini kondisi nyata yang menimpa kita semua.
Kalau gajimu terasa cuma numpang lewat, ya, kamu tidak sendirian. Namun, daripada sekadar pasrah, coba duduk sebentar untuk sedikit memahami apa saja yang perlu kamu tahu dan perlu kamu lakukan di tengah kondisi karut marut ini.
1. Benarkah ekonomi kita sedang lesu, atau cuma perasaan kita saja?
Benar, ini bukan perasaan kamu aja. Kelesuan ekonomi ini terekam jelas dalam data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Pertama, terjadinya penyusutan kelas menengah secara drastis. BPS mencatat jumlah kelas menengah anjlok dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi hanya 47,85 juta orang pada 2024. Artinya, hampir 10 juta orang “turun kasta” karena penghasilannya tak lagi sanggup mengejar biaya hidup.
Kedua, daya beli anjlok. BPS merilis terjadinya tren deflasi (penurunan harga) beruntun sejak pertengahan 2024 hingga 2025. Harga barang turun bukan karena stoknya melimpah ruah, tetapi karena masyarakat memang tak punya sisa uang untuk belanja.
Ketiga, gelombang PHK. Karena barang dagangan di pasar tidak laku, pabrik terpaksa memangkas karyawan. Kemnaker mencatat lonjakan tajam PHK dari kisaran 77.000 orang (2024) menjadi 88.519 orang (2025), dengan sektor manufaktur di Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai korban terbesar. Angka-angka ini menegaskan, hidupmu yang terasa susah adalah dampak langsung dari lesunya ekonomi makro.
2. Kenapa belakangan ini banyak PHK dan muncul fenomena “Makan Tabungan”?
Ini adalah efek domino dari lesunya ekonomi makro. Saat daya beli anjlok, barang perusahaan sepi pembeli. Untuk menghindari kebangkrutan karena harus terus membayar tagihan operasional dan utang bank, perusahaan mengambil jalan pintas: PHK karyawan.
Bagi pekerja, kebutuhan perut dan tagihan cicilan tak bisa ditunda. Akhirnya, mereka yang terkena PHK atau yang gajinya stagnan terpaksa mencairkan uang simpanan di bank untuk sekadar bertahan hidup. Inilah yang disebut “makan tabungan”.
Hal ini terbukti dari Survei Konsumen Bank Indonesia (BI). BI mencatat bahwa proporsi gaji masyarakat yang dihabiskan murni untuk konsumsi harian naik, menyentuh angka 75,3 persen. Sebaliknya, porsi uang yang bisa disisihkan untuk menabung merosot tajam, tersisa hanya sekitar 14 hingga 15 persen saja.
Lebih tajam lagi, data dari Mandiri Institute memperlihatkan bahwa indeks belanja dan tabungan kelompok masyarakat dengan saldo di bawah Rp10 juta terus merosot. Angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa membongkar celengan hari ini dilakukan bukan untuk gaya hidup semata. Ini adalah mekanisme bertahan hidup.
3. Di situasi serba tidak pasti begini, apakah pegang uang tunai (cash) paling aman?
Prinsip “uang tunai adalah raja” memang populer dalam ilmu ekonomi. Namun, menaruh 100 persen hartamu dalam bentuk uang tunai di tabungan biasa justru berbahaya. Uangmu akan tergerus inflasi, sementara bunga bank biasa yang tak sampai 1 persen per tahun akan habis dimakan biaya admin bulanan.
Meski begitu, standard Perencana Keuangan Bersertifikat (CFP) mewajibkan kamu memegang uang tunai sebagai dana darurat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus mengampanyekan pentingnya dana darurat yang mudah dicairkan. Porsi aman yang disarankan adalah 3 sampai 6 kali lipat dari total pengeluaran wajib bulananmu.
Lalu, ke mana sisa uang ditaruh? Banyak pakar keuangan menyarankan instrumen rendah risiko seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) atau Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. Instrumen ini menawarkan imbal hasil rata-rata 4-6 persen per tahun, cukup untuk melawan inflasi. Intinya, pegang kas secukupnya untuk jaga-jaga, sisanya amankan dari gerusan inflasi.
4. Gaji tidak naik, tapi kebutuhan jalan terus. Bagaimana cara menyiasatinya?
Ketika pemasukan tak bisa ditambah, satu-satunya cara adalah memotong pengeluaran. Aturan budgeting populer 50/30/20 (50 persen kebutuhan pokok, 30 persen keinginan, 20 persen tabungan) gagasan pakar ekonomi dan finansial, Elizabeth Warren, harus dirombak menjadi mode bertahan hidup. Banyak pakar menyarankan untuk menekan porsi “keinginan” (dibaca: lifestyle) hingga ke angka 10 persen, atau 0 persen jika perlu.
Namun, nasihat paling krusial dari semua perencana keuangan hari ini adalah: jangan membuat utang konsumtif baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat kredit macet (TWP90) pada pinjaman online terus membengkak di kisaran 2,7 hingga 2,9 persen, dan porsi penyumbang kredit macet terbesar adalah kelompok usia muda (19-34 tahun).
Di saat ekonomi lesu, meminjam uang dari pinjol legal–dengan batas bunga OJK mencapai 0,3 persen per hari (sekitar 9 persen per bulan)–adalah keputusan buruk. Jika gaji tak cukup untuk membeli barang impian, jangan dipaksakan. Alokasikan setiap rupiah uangmu untuk kebutuhan esensial yang menopang nyawa dan produktivitasmu, seperti makan, kesehatan, dan ongkos kerja.
5. Di tengah ekonomi yang lesu, apakah tepat untuk nekat pindah kerja atau buka usaha?
Pakar karier dan perencana keuangan sepakat: saat pasar sedang tiarap, turunkan toleransi risikomu. Jika kamu saat ini memiliki pekerjaan dengan gaji tetap, bertahanlah. Jangan pernah resign sebelum ada hitam di atas putih dari perusahaan baru.
Mencari pekerjaan formal saat ini sangat sulit. Data BPS menunjukkan struktur ketenagakerjaan kita rapuh, di mana nyaris 60 persen pekerja di Indonesia kini terserap di sektor informal (seperti buruh harian atau ojek online). Sektor formal tak mampu menyerap tenaga kerja. Bersaing di luar sana saat ini sangatlah berat.
Jika butuh tambahan penghasilan, carilah usaha sampingan dengan modal nyaris nol. Kementerian Koperasi dan UKM kerap menyarankan agar pelaku usaha pemula tidak langsung mengambil utang produktif (kredit bank) jika pasarnya belum pasti.
Jangan gunakan dana daruratmu untuk menyewa ruko atau menumpuk barang dagangan. Manfaatkan keahlianmu dengan menjadi freelancer, atau berjualan dengan sistem pre-order (PO) dan dropship. Tujuannya untuk menambah pemasukan tanpa mempertaruhkan kestabilan finansialmu yang sudah ada.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
