Di balik bunyi berisik ‘tas delman’ yang dipenuhi bag charms, ada cerita gen Z dan milenial yang berusaha memuaskan inner child mereka, sekaligus balas dendam terbaik untuk mengekspresikan diri.
***
Belakangan, bunyi “krincing-krincing” kerap terdengar saat saya sedang mengetik. Usut punya usut, bunyi itu berasal dari tas milik anak-anak magang yang bakal mewarnai hari-hari Mojok selama Agustus-November 2026.
Setelah menelisik lebih jauh, bunyi tersebut sebenarnya bukan berasal dari tas mereka melainkan aksesori ganci yang bersanding dengan lonceng kecil. Yang lebih mengejutkannya lagi, bag charms yang terpasang itu jumlahnya tidak kurang dari 3 items.
Tren ini juga sering saya temui di ruang-ruang publik. Karena terkesan berisik, orang-orang menyebutnya sebagai ‘tas delman’, sebab bunyinya mirip dengan lonceng kuda serta tampilannya yang bertumpuk-tumpuk.
Alasan gen Z dan milenial mengoleksi bag charms pun bermacam-macam. Ada yang tertarik karena bentuknya yang bagus dan lucu. Ada yang menjadikannya bentuk ekspresi diri. Ada pula yang mengoleksinya untuk “balas dendam” di masa dewasa. Seperti yang dilakukan Dian (26) dan Eiodia (31).
Sisihkan gaji demi koleksi bag charms
Dian merupakan seorang akuntan yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Kini, gajinya terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, ia selalu menyisihkan tabungannya sekitar Rp100 ribu per bulan hanya untuk mengoleksi bag charms.
“Itu sudah termasuk ongkos kirim ya,” kata Dian kepada Mojok, Minggu (20/9/2026).
Jumlah bag charms yang dia dapat dengan dana Rp100 ribu tak pasti. Tergantung jenis, anime, dan artist favoritnya. Jika ada 5 artist yang mengeluarkan items bersamaan, Dian tetap memilih untuk mengurasi sekitar 1-2 bag charms.
“Setiap kali ada acara komunitas seperti comifuro, comipara, creha, dan lain-lain, banyak sekali artist yang bikin design ganci lucu-lucu. Aku jadi konsumtif untuk beli, tapi aku selalu pilih yang aku suka,” kata Dian.
Meskipun ada orang yang menganggapnya boros—uang Rp100 ribu bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan primer, bagi Dian, jumlah tersebut masih terbilang impas untuk memenuhi inner child.
Dulu tak mampu beli bag charms
“Dulu saat SMA, aku pernah jualan macam-macam demi bisa kumpulin uang lebih untuk beli ganci,” kata Dian, “harga gancinya memang murah, tapi waktu itu kebetulan artist yang buka pre-order untuk fanmerch buatan mereka ada banyak,” lanjutnya.
Ketertarikan Dian dengan fan merchandise seperti bag charms dimulai sejak dia masih kecil dan menonton anime. Dari sana dia menyukai beberapa karakter di dalamnya. Misalnya, bag charms dengan karakter Sylus (Qin Che) yang dia pakai sampai sekarang.
Dalam permainan Love and Deepspace, Sylus memiliki kepribadian seorang pemimpin yang tegas, misterius, tapi diam-diam memiliki sisi lembut. Selain itu, ada Maomao, karakter utama dalam anime “The Apothecary Diaries” yang dikenal sebagai gadis cerdas, realistis, dan sangat terobsesi dengan dunia obat serta racun.

“Bag charms ini menunjukkan bagaimana sedikit personality-ku. Beberapa ganci juga jadi pengingat bahwa itu karya dari artist yang aku suka,” ucap Dian.
Selain itu, Dian berujar ada kebanggaan tersendiri saat dirinya memakai bag charms tersebut ke mana-mana. Apalagi, jika ada orang yang mengenali karakter bag charms-nya. Dengan begitu, Dian bisa menambah teman baru yang memiliki hobi serupa.
“Makanya pas sudah bekerja aku mulai menetapkan bujet, serta memilih dengan hati-hati agar tidak bablas juga main borong semuanya. Karena aku paham bahwa di ‘memori kecil’ ku dulu, bag charms bukan kebutuhan utama yang aku perlukan dan bisa kubeli dengan mudah,” tutur Dian.
Balas dendam karena dulu kena razia OSIS
Jika Dian harus mengumpulkan uang lebih dulu untuk membeli bag charms, Eiodia punya pengalaman yang berbeda. Eiodia yang juga suka mengoleksi bag charsm sebagai bentuk ekspresi diri, dulunya tidak bisa bebas memasang banyak ganci di tasnya.
“Awalnya dulu aku koleksi pin saat SMP, tapi semua koleksiku kena razia OSIS karena peraturan sekolah yang tidak memperbolehkan pemakaian perhiasan secara berlebihan atau aksesori di luar perlengkapan sekolah,” jelas Eiodia.
“Sejak itu aku mulai pakai satu sampai dua ganci yang berasal dari manga dan hadiah snack. Eh, ternyata aku suka karena unik, modis, dan mendukung karakterku yang sebenarnya introvert tapi lebih suka tampil cheerful dan girly biar gampang bergaul,” lanjutnya.
Alhasil, ketika Eiodia sudah dewasa dia merasa lebih bebas untuk mengekspresikan dirinya. Oleh karena itu, bagi Dian dan Eiodia, mengoleksi bag charms bukan sekadar untuk pamer tapi balas dendam untuk memenuhi inner child mereka.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA:Membayar Utang Masa Kecil: Cerita EXO-L yang Menabung Berbulan-bulan walaupun Situasi Ekonomi sedang Sulit atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan