Seorang kakak (anak perempuan pertama) rela mengorbankan banyak hal dalam hidupnya karena menjadi tulang punggung keluarga. Itu karena ia harus menanggung orang tua miskin dan adik tidak tahu diri yang jadi beban. Namun, meski sudah mati-matian kerja keras, tapi tetap saja dihina keluarga sendiri.
***
Kalau dipikir-pikir, rasa-rasanya nyaris tidak ada yang bisa disyukuri dari hidup Mutia (30-an), nama samaran. Sebab, hingga usia kepala tiga, perempuan asal Jawa Timur itu nyaris tidak pernah bisa menikmati hidupnya sendiri.
Mutia lahir di keluarga miskin. Bapaknya kerja serabutan dengan penghasilan sangat kurang. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sedangkan Mutia masih punya dua adik yang harus dipikirkan juga keberlangsungan hidup mereka.
“Aku sempat berpikir, Pakde-ku mau membiayai aku kuliah itu syukur. Karena dengan ijazah S1, aku punya kesempatan kerja yang lebih baik,” ungkap Mutia saat bercerita, Senin (9/3/2026) malam.
Namun, setelah yang ia alami seiring dewasa, benar-benar tidak ada yang bisa disyukuri dari hidupnya.
Jadi tulang punggung keluarga, kerja keras pagi-siang-malam
Selepas lulus kuliah, tidak ada pilihan lain selain tuntutan agar Mutia lekas bekerja. Apalagi ia merupakan anak pertama (meskipun anak perempuan). Jadi dibebani pula tanggung jawab untuk menggantikan peran orang tua untuk mencukupi hidup.
Bertahun-tahun Mutia menjalani pekerjaan dobel. Kerja keras dari pagi, siang, sampai malam.
“Satu pekerjaan yang formal itu di sebuah instansi. Itu di pagi sampai sore. Selebihnya cari-cari sambilan lain,” kata Mutia.
Setidaknya sampai 2025, alur kerja Mutia kira-kira seperti ini: pagi buta membantu menyiapkan dagangan orang tua. Setelah itu berangkat ke kantor hingga sore.
Sore harinya, Mutia akan lanjut jaga sebuah stand jajanan viral milik orang sampai malam. Menjelang larut malam ia pulang, dan besok paginya akan mengulangi ritme yang sama.
Dibilang capek, jelas sangat capek. Tapi sebagai anak perempuan pertama yang dituntut menjadi tulang punggung, seperti tidak ada waktu untuk mengeluh.
Gaji tidak seberapa, tapi pikul beban gara-gara kemiskinan orang tua
Mutia mengaku, gajinya dari instansi sebenarnya tidak seberapa. Berkisar Rp2 jutaan.
Kalau untuk hidup sendiri, gaji tersebut bisa saja cukup. Masalahnya, ia harus memikul beban ekonomi keluarga gara-gara kemiskinan orang tua.
“Bapak memang jualan. Tapi kan nggak ngumpul uangnya. Jadi aku tetap harus menyisihkan uang buat kebutuhan orang tua. Kebutuhan sehari-hari, terus kalu mereka butuh untuk hal-hal lain,” jelas Mutia.
Belum menanggung biaya sekolah dua adiknya. Itu pun, adik nomor duanya benar-benar sudah diatur. Sudah dibiayai sekolah, dikasih uang jajan, tapi ujung-ujungnya bolos, bikin masalah di sekolah, hingga memutuskan berhenti di tengah jalan (putus sekolah).
“Adikku yang terakhir yang bisa sekolah sampai SMA. Terus kuliah dia memang dapat beasiswa (KIP Kuliah). Tapi sesekali kalau dia kehabisan uang, aku kasih,” kata Mutia.
Mati-matian kerja keras jadi tulang punggung keluarga, uang ludes buat adik tidak tahu diri
Seperti disinggung di atas, adik kedua Mutia memang benar-benar tidak tahu diri. Di saat adik terakhir mereka sibuk berjuang kuliah dengan beasiswa, adik kedua Mutia justru hidup mengacau.
Bagaimana tidak. Setelah putus sekolah, alih-alih membantu kerja agar mengurangi beban sang kakak perempuan, adik kedua Mutia hanya sibuk main-main. Lontang-lantung sana-sini. Kalau kehabisan uang, tinggal nodong ke Mutia.
“Sudah capek ngasih pengertian dia. Tapi memang dasar anaknya bebal dan tidak tahu diri,” kata Mutia.
Masalahnya tidak hanya itu. Adik kedua Mutia ini sudah dua kali terjerat kasus kriminal hingga masuk bui.
Sejujurnya, dalam dua momen tersebut, Mutia ingin lepas tangan. Membiarkan sang adik mendekam di balik jeruji besi untuk bertanggung jawab atas masalah yang ia buat.
Sialnya, ibu Mutia membujuk agar Mutia—sebagai seorang kakak (anak perempuan pertama) sekaligus tulang punggung keluarga—mau merelakan sebagian uangnya untuk menebus kebebasan sang adik.
“Aku kerja keras, siang-malam, nggak kenal capek, cuma buat membebaskan si tukang onar? Edan po! Tapi karena ibu bujuk-bujuk, ya aku relakan saja uangku,” ucap Mutia.
Adik ngebet nikah, orang tua tidak ada biaya, Mutia hanya seperti sapi perah
Entah kenapa adik kedua Mutia ini seperti tidak ada habis-habisnya berulah. Tidak lama setelah keluar dari bui yang kedua, ia ngebet nikah dengan perempuan yang belum lama ia kenal.
Mutia dan adik terakhirnya mencoba memberi pemahaman pada si pembuat ulah itu: kalau mau nikah, harus nata diri sendiri dulu. Minimal sudah bisa kerja mandiri. Tidak membebani seluruh biaya pernikahan ke keluarga.
“Tapi dasar arek pekok, tetap nikah, posisi belum kerja dan nggak punya uang. Orang tuaku juga nggak punya uang. Ujung-ujungnya, ya aku yang menanggung biayanya,” tutur Mutia.
Di titik itu, Mutia sempat menangis sesenggukan di hadapan adik terakhirnya yang baru saja lulus kuliah. Mutia merasa, di keluarga tersebut, ia tidak lebih dari sekadar sapi perah. Diperah terus sampai kurus kering.
Mengorbankan diri sendiri untuk keluarga tapi tetap dihina
Mutia merasa sudah mengorbankan banyak hal untuk orang tua sekaligus adik-adiknya. Waktu yang harusnya bisa ia gunakan untuk menikmati masa muda habis untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan kerja sekeras itu, Mutia harusnya sudah punya tabungan banyak. Nyatanya uangnya selalu ludes karena ada saja. Entah orang tua minta dibantu apa lah, adik kedua entah berulah apa lagi lah.
Dan yang cukup sensitif adalah: hingga usia kepala tiga, Mutia masih melajang. Tidak ada waktu untuk dekat dengan laki-laki, apalagi berpikir membina rumah tangga.
“Tapi saudara dan tetangga nggak melihat itu. Terutama Pakde. Karena dia membiayai kuliahku, dia menuntut balas: sudah dikuliahkan kok nggak jadi apa-apa. Kerja keras tapi nggak kaya-kaya,” ucap Mutia diselingi napas panjang.
“Jadi omongan saudara dan tetangga juga kalau aku perawan tua,” sambungnya.
Nyesek rasanya bagi Mutia. Karena banyak orang justru mengabaikan semua pengorbanan yang telah ia lakukan. Malah lebih fokus mencela kekurangan tanpa melihat keadaan.
“Melarikan diri dari rumah” meski awalnya berat
Setelah melewati pertimbangan panjang, sejak awal 2026 lalu Mutia memutuskan untuk “melarikan diri dari rumah”.
Karena tekanan demi tekanan, di satu sisi Mutia merasa terpancing untuk mencari satu pekerjaan yang lebih layak. Dengan gaji yang lebih besar.
“Aku dapat lah di Jawa Barat. Itu yang mendorong aku biar berangkat aja adik terakhirku. Karena awalnya kan aku merasa berat: kalau aku pergi, siapa yang urus orang tua nanti?” Kata Mutia.
“Tapi adik terakhirku itu bilang, mau sampai kapan aku begitu terus. Sementara sejak kecil saja kita nggak pernah merasa diperjuangkan oleh orang tua. Adikku bilang, aku berhak memperjuangkan bahagia untuk hidupku sendiri,” sambungnya.
Saking penginnya si adik bungsu agar kakak perempuan pertamanya itu bahagia, sang adik sampai mentransfer sejumlah uang dari gaji pertamanya sebagai pegangan di masa awal sang kakak bekerja di Jawa Barat.
“Aku nangis, terharu. Kalau sekarang, ya aku merasa lebih lega. Bebannya sudah nggak berat banget. Apalagi adik terakhirku setelah lulus kuliah sudah bisa kerja sendiri. Kami berdua akhirnya saling menopang beban, biar menjadi lebih ringan,” tutup Mutia haru.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
