Kerja di Jakarta dengan gaji 5 juta perbulan disebut-sebut masih belum cukup bagi perantau. Bahkan, gaji 8 juta pun konon masih pas-pasan. Sebab, gaji besar setara dengan biaya hidup di Ibu Kota yang semakin hari semakin mencekik.
Namun, dari obrolan dengan tiga orang perantau di Jakarta, sebenarnya gaji 5 juta pun masih bisa dicukupkan untuk hidup di Ibu Kota. Masih bisa disisihkan pula untuk menabung. Itu kalau masih lajang dan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dari sendiri.
Sementara jika punya tanggungan keluarga, sebenarnya masih bisa dicukup-cukupkan. Asalkan, si perantau rela menjadi “gembel”: menekan kebutuhan pribadi demi bisa meng-cover kebutuhan tanggungan.
Hidup dalam kondisi serba pas-pasan, di tengah harga-harga yang semakin naik dan di masa ketika uang Rp100 ribu terasa seperti Rp10 ribu, memang memberi keresahan tersendiri. Akan tetapi, bagi tiga narasumber Mojok—pekerja sektor swasta di Jakarta (satu perempuan usia 27 tahun, satu laki-laki 27 tahun, dan satu laki-laki usia 30 tahun—ada yang lebih “mengerikan” dari sekadar persoalan tersebut.
Kerja di Jakarta merampas waktu perantau dan renggut usia orang tua
Tiga narasumber saya sama-sama mengamini: kerja di Jakarta benar-benar merampas waktu mereka untuk pulang.
Dua narasumber saya berasal dari Jawa Tengah. Sementara satunya berasal dari Jawa Barat. Bagi perantau asal Jawa Barat, masih sedikit lebih untung karena bisa pulang sebulan/dua bulan sekali.
Sementara bagi perantau asal Jawa Tengah, setahun paling banyak hanya bisa dua kali pulang. Kalau tidak, sering kali hanya bisa pulang di waktu libur lebaran.
Jarak yang cukup jauh membuat perantau asal Jawa Tengah cenderung merasa eman jika ingin pulang sewaktu-waktu. Karena waktunya habis di jalan, sedangkan di rumah hanya sebentar.
Oleh karena itu, mereka lebih suka mengambil momen “sekalian”: sekalian di libur lebaran yang cenderung lebih panjang. Sehingga mereka lebih jenak saat pulang.
Selain itu, jika toh bisa pulang sewaktu-waktu, mereka juga harus menghitung betul perkara ongkos. Eman saja kalau keluar ongkos mahal hanya untuk dua/tiga hari di rumah, sedangkan mereka masih butuh beberapa rupiah untuk hidup di Jakarta sampai tanggal gajian berikutnya. Alhasil, bagi mereka, lebih mending jika jatah ongkos pulang ditabung atau ditransfer saja ke orang rumah.
Konsekuensi dari jarang pulang ini cukup “mengerikan”: Jakarta merampas waktu mereka, di saat bersamaan waktu juga menggerogoti usia orang tua rumah.
Orang tua tiga narasumber Mojok memang masih hidup. Namun, mereka tidak menampik fakta, bahwa ketika mereka pulang—yang hanya setahun sekali/dua kali itu—mereka mendapati orang tua masing-masing sudah kian menua.
Gaji 5 juta mereka di Jakarta memang cukup. Tapi karena waktu mereka yang banyak terenggut sebagai perantau, mereka takut seperti apa yang pernah ditulis Mojok: saat anak-anak sibuk di perantauan, keburu orang tua pergi direnggut ajal.
Kerja di Jakarta merenggut nurani perantau
Pada awalnya, tidak ada yang aneh dengan Jakarta. Tiga narasumber Mojok berangkat dengan ekspektasi dan harapan-harapan yang ingin diwujudkan.
Sampai akhirnya, seiring waktu mereka menyadari, nurani mereka telah direnggut oleh realitas Ibu Kota. Mereka yang awalnya punya kepedulian besar pada orang lain, kemudian dibuat menjadi orang yang hanya berpikir untuk diri sendiri.
Ada beberapa contoh. Kalau mereka mencontohkan: pada akhirnya sulit bagi mereka untuk memikirkan nasib orang lain. Dalam urusan pekerjaan, yang penting adalah mengamankan posisi diri sendiri. Nasib orang lain bodoamat.
Sehingga tidak heran, sekalipun dalam satu divisi, bukannya saling menopang tapi yang terjadi justru bisa saling mencari kambing hitam.
Tiga narasumber Mojok memutuskan menjadi seperti itu karena mereka sudah terlalu banyak menonton adegan gamblang: bagaimana antarrekan kerja bisa saling menikam dari belakang.
Meraka pun pada akhirnya memahami: di tengah situasi ekonomi nasional yang tidak pasti, 19 juta lapangan kerja yang entah di mana, sekaligus kompetisi di kantor yang “mengadu domba”, tidak ada waktu untuk saling peduli satu sama lain.
Alhasil, susah menemukan hubungan dengan rekan kerja yang benar-benar tulis berteman. Menegaskan sebuah quote: Tidak ada teman yang benar-benar teman di tempat kerja. Maka, kerja, ambil gajimu, lalu pulang.
Adegan ketidakpedulian yang dipertontonkan sehari-hari
Tiga narasumber Mojok juga mengamini apa yang pernah saya temui dan saya tulis dalam, “Jakarta Kota Pembunuh Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan”.
Di jalan, saat ada seorang driver ojek online (ojol) jatuh terserempet, hanya satu saja orang yang mau menolong. Sementara sisanya, adalah orang-orang yang justru membunyikan klaksok keras dan bersahut-sahutan: berharap agar driver yang jatuh lekas bangun karena menghalangi jalan.
Bagi tiga narasumber Mojok, selebritis atau kreator konten yang suka bantu-bantu orang kesusahan itu hanya bagian kecil dari realitas sosial di Jakarta. Sebagian banyaknya adalah adegan-adegan “tanpa nurani” seperti cerita driver ojol di atas.
Banyak orang, terutama kelas menengah ke bawah, sudah tidak sempat menolong orang lain. Karena mereka juga harus fokus menolong diri sendiri dan keluarga sendiri.
Misalnya dalam kasus driver tersebut, di jam-jam pagi saat Jakarta sedang macet-macetnya, banyak orang diburu waktu agar lekas sampai di tempat kerja masing-masing. Atau kalau driver ojol ya harus menjemput dan mengantar customer tepat waktu.
Karena jika rutinitas harian itu tidak tepat waktu, maka ada konsekuensi yang tidak diharapkan dalam tempat kerja masing-masing. Kalau sekadar dimaki-maki atasan pasti sepele. Tapi kalau urusannya adalah SP atau ancaman disiplin lain?
Memikul beban ekspektasi
Tiga narasumber Mojok mungkin bisa berdamai dengan ekspektasi mereka perihal kerja di Jakarta yang tidak terpenuhi. Akan tetapi, mereka terbentur dengan ekspektasi orang rumah.
Sebab, kebanyakan orang—apalagi dari kampung—berekspektasi bahwa setiap orang yang kerja di Jakarta pasti pulang-pulang menjadi kaya.
Alhasil, ketika hidup mereka terkesan biasa saja—apalagi jika tidak memenuhi standar sukses seperti bisa membeli mobil—pasti akan menjadi bahan gunjingan oleh orang kampung bahkan di kalangan sanak saudara sendiri.
Itu kemudian memicu kehampaan dalam batin. Karena pada akhirnya merasa gagal dan tidak bisa diandalkan.
Senyum terampas dan kehilangan hidup normal
Atas kompilasi dari semua situasi di atas, tiga narasumber Mojok mengaku, senyum mereka perlahan-lahan pun mulai terampas. Hanya menyisakan tangis tertahan dan guncangan mental.
Amat sering mereka, di dalam kamar kos/kontrakan masing-masing, hanya bisa melamun menatap kosong langit-langit kamar. Saat itu isi kepala sudah berkecamuk dalam kecemasan tentang hari esok.
Mereka mengaku tidak bisa menikmati hidup, dengan situasi-situasi getir tersebut. Mereka merasa tidak hidup normal selayaknya manusia, tapi lebih mirip zombi.
Bagaimana tidak. Pagi berangkat kerja buru-buru, di kantor harus dalam mode siap ditelikung dan menelikung rekan sendiri, pulang bisa larut kalau lembut; kalau toh tidak lembur tetap saja siap berdesakan di dalam transportasi umum.
Setiba di kos/kontrakan sisa tubuh, pikiran, dan mental yang remuk redam. Lalu diserang kecemasan yang membuat susah tidur hingga dini hari. Sekali bisa tidur, sudah tergeragap karena bangun kesiangan dan harus mengulang rutinitas tak bernyawa itu lagi, lagi, dan lagi. Alhasil, gaji 5 juta di Jakarta yang sebenarnya cukup jadi luput disyukuri.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
