ADVERTISEMENT

Dari Batang Kerja di Jepang: Kenyang Dimarahi Bos hingga Pura-pura Sehat buat Kerja demi Kebahagiaan Ortu di Desa

Anak muda Kabupaten Batang nekat kerja di Jepang demi ekonomi keluarga MOJOK.CO

Butuh ketahanan fisik dan mental untuk kerja di Jepang. Tahan caci maki hingga pura-pura sehat pun harus dilakukan demi tetap bekerja. Sebab, itulah jalan yang harus ditempuh anak-anak muda Kabupaten Batang jika ingin membuat keluarga di desa sejahtera

***

Ketika lulus SMA, beberapa teman saya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pernah mencoba survive mencari penghidupan di kabupaten ini. Namun, upah perbulan yang masih di bawah standar UMK membuat beberapa dari mereka menyerah. 

Jika mengacu data Badan Pusat Statistika (BPS), UMK Kabupaten Batang ada di angka Rp2,7 jutaan. Namun, praktiknya, tidak sedikit yang harus menerima upah di bawahnya. Pada akhirnya, kerja di Jepang menjadi pilihan yang diupayakan, meski harus mengeluarkan modal dulu untuk mengikuti Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). 

Semenjanjikan apa kerja di Jepang?

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor, memang mendorong anak-anak muda untuk mengambil peluang kerja di luar negeri. 

Kemenaker pun tengah gencar menyiapkan tenaga kerja profesional dengan keahlian khusus untuk ditempatkan di negara-negara mitra, salah satunya Jepang. Program ini mencakup pelatihan kompetensi dan keterampilan yang memadai bagi para peminat.

“Di Indonesia sekarang bonus demografinya besar, dan bagi mereka yang berminat ke luar negeri kami didik, kami latih, dan diberikan kompetensi dan skill yang memadai,” kata Afriansyah saat membuka Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Batch IV di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026), mengutip Republika.

Dalam konteks Kabupaten Batang, mengutip Tirto, Kemenaker juga telah memberikan kesempatan emas bagi para pemuda Kabupaten Batang melalui program pemagangan di Jepang. Tujuannya tidak lain untuk mengakselerasi peningkatan kompetensi tenaga kerja muda di daerah tersebut.

Bukan tanpa alasan kenapa Jepang menjadi salah satu tujuan. Sebab, Kemenaker menilai, di Negeri Sakura tersebut tenaga kerja Indonesia bisa ditempatkan di berbagai sektor strategis seperti otomotif, pabrik, pertanian, hingga pengemudi. Selain tentu saja yang paling pokok: besaran gaji yang menjanjikan

“Sebagai gambaran, di sektor otomotif ringan seperti teknisi bengkel ban, montir ganti oli, hingga perbaikan ringan, itu mampu mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp21 juta per bulan,” beber Afriansyah.

Dua teman saya asal Batang pun pada akhirnya tidak bisa tidak tergiur dengan bayang-bayang gaji besar tersebut. Di antara teman saya yang akhirnya berangkat ke sana adalah Egy (20) dan Darul (22). Usai menuntaskan LPK sejak 2024, mereka kemudian mendapat panggilan pekerjaan pada 2025. 

Egy bekerja sebagai tukang cat kapal batu bara. Sementara Darul bekerja di sektor perkebunan. Keduanya punya harapan dan alasan yang sama kenapa mengejar peluang kerja di Negeri Sakura: untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Gambaran kerja di Jepang: sakit tapi pura-pura sehat, tak tega lihat lansia dimarahi

Saat tersambung dengan saya melalui panggilan video pada Senin, (7/9/2026) malam, Darul langsung berkeluh kesah usai saya menanyakan kabarnya.

“Baik, alhamdulillah. Aku paksain sehat,” katanya sambil tertawa kecil.

Sebelum menjadi diaspora, Darul sebenarnya sudah pernah menjajal dunia kerja di tanah air. Namun, saat tiba di Jepang, ia merasakan betapa kultur dan tekanan kerjanya jauh berbeda. 

“Awal-awal kerja sering banget dimarahin sama bos. Ya, namanya di lingkungan baru, aku masih harus adaptasi dulu. Apes aja sih, dapet bos yang galak,” ungkap Darul yang saat saya hubungi malam itu tengah beristirahat.

“Jangankan makan, jeda istirahat kubuat ngerokok aja sering satu batang nggak habis,” imbuhnya, untuk menggambarkan betapa ketatnya ritma kerja yang ia jalani di Jepang. 

Darul ditempatkan di sebuah perkebunan di pelosok desa. Tidak hanya merasa melas dengan sendiri, Darul harus menjalani hari-hari dengan hati yang terasa tertusuk perih: menyaksikan mbah-mbah umur 80-an tahun masih harus bekerja. Dan lebih menusuk dari itu, mbah-mbah itu pun tidak luput dari murka bosnya karena kerjanya yang dinilai lamban. 

Lama-lama jadi kebal murka atasan

Pengakuan Egy pun tidak jauh berbeda. Pada masa-masa awal ia tiba di Jepang, ada dua hal utama yang membuatnya merasa gelagapan mengikuti. Satu, tentu ritme kerja yang ketat dan disiplin tinggi. Dua, perbedaan dialek yang membuatnya sempat kesulitan berkomunikasi.  

“Masih inget banget hari pertama tuh aku kena marah sama bos. Tapi lucunya, aku nggak paham. Soalnya dialek yang dia pakai belum aku pelajari sebelumnya. Jadi, waktu dia ngomel aku iya-iya-in aja omongannya,” ujar Egy. 

Seiring waktu, Egy pun menempa fisiknya untuk mengikuti ritme setempat. Selain itu, tidak luput ia berusaha menebalkan telinga dan mentalnya, karena murka atasan menjadi santapannya sehari-hari. 

“Lama-kelamaan jadi paham (dialek), dan karena udah terbiasa juga jadinya aku bisa mengikuti ritme kerja di sana. Ya, walaupun beberapa kali aku masih menganggap itu kadang marahnya di tahap nggak wajar,” beber Egy. 

Suasana rumah yang selalu dirindukan

“Penderitaan” kerja di Jepang tidak berhenti di jam kerja saja. Tapi bahkan saat mereka sudah kembali ke tempat tinggal. Tiap hendak tidur, apalagi setelah melalui hari buruk (kena marah bos), perasaan rindu ruman bisa menyerang sekaligus menyiksa batin. 

Siksaan rindu itu memuncak saat lebaran Iduladha tahun ini. Biasanya mereka bisa menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman, nyate atau bakar-bakar daging bersama. Tapi kini jarak mereka merentang jauh sekali dari keluarga. 

Pada mulanya setiap rindu yang datang terasa amat tidak tertahankan. Rasa-rasanya ingin menyudahi saja pengembaraan di Negeri Sakura, lantas pulang saja ke rumah orang tua. Namun, siksaan rindu tersebut pelan-pelan mereda kala Darul dan Egy mencoba menguatkan kembali tekadnya: Jauh-jauh ke Jepang karena memang ingin meningkatkan ekonomi keluarga. 

Menghubungi keluarga di rumah pun pada akhirnya cukup menjadi penawar. “Tiap hari capek. Tapi ketika lagi down aku selalu ingat sama keluarga di rumah. Lihat orang tua senyum tiap aku video call tuh benar-benar ngilangin rasa capekku,” ujar Darul. 

“Aku selalu kangen rumah. Tapi semakin ke sini, semakin kenal banyak orang Indonesia yang kerja di Jepang, jadi cukup teralihkan,” sementara begitu pengakuan Egy. 

Kerja di Jepang buat bayar utang, renovasi rumah, dan modal pulang

Kondisi-kondisi tidak mengenakkan selama kerja di Jepang pada akhirnya ditelan begitu saja oleh dua pemuda Kabupaten Batang tersebut. Karena hasilnya memang tidak berdusta: baru satu tahun, sudah bisa memberi kontribusi untuk keluarga di desa. 

Dengan gaji yang Darul terima, ia mengaku bisa mengirimkan “sedikit-sedikit” untuk orang tuanya di desa. “Alhamdulillah-nya semua hutang buat modal aku berangkat ke Jepang bisa lunas dari situ,” ungkap Darul. 

Sementara Egy, upah dari mengecat kapal batu bara kemudian kumpulkan dan diberikan kepada bapaknya untuk merenovasi rumah.

Meski gajinya jelas-jelas mensejahterakan, tapi Darul dan Egy mengaku tidak memiliki rencana untuk terlalu lama kerja di Jepang. Karena itu, selain mengirim sebagian upah untuk orang rumah, keduanya juga sama-sama menyisihkan untuk modal usaha mereka kelak jika mereka memutuskan pulang ke kampung halaman di Kabupaten Batang.

Mereka sadar, mereka masih harus sabar sedikit lagi. Pasti tiba masanya mereka bisa pulang—suatu hari nanti. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kabupaten Batang Memang Jadi Kawasan Industri, Tapi Bertahan di Sana Tak Bisa Sejahterakan Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.

Exit mobile version