Jasa “Servis” WC: Dianggap Jorok dan Bikin Anak Malu, tapi Cuan di Atas UMR Jogja

service WC, toilet, wc jongkok.MOJOK.CO

Tiga bulan terakhir, kos saya dilanda masalah pelik yang tak bisa dikompromikan. WC di beberapa kamar, termasuk punya saya, mampet secara massal. Klosetnya menolak buat disentor.

Ibu kos awalnya mengambil langkah standard dengan memanggil jasa sedot WC. Memang, masalah sempat mereda. Namun, “kedamaian” itu ternyata hanya bertahan kurang dari sebulan sebelum masalah serupa terulang kembali. 

ADVERTISEMENT

Setelah diusut lebih jauh, ibu kos akhirnya sadar bahwa pangkal masalahnya bukanlah kapasitas septic tank yang sudah penuh. Ia yakin ada penyumbatan parah di sepanjang jalur pipa. 

Kos kami memang campur, dihuni juga oleh beberapa pasangan suami istri yang sudah memiliki balita. Kecurigaan terbesar pun mengarah pada tumpukan popok bayi yang dibuang secara serampangan ke dalam lubang kloset.

Dari situlah Ibu kos memanggil Aan. Pria paruh baya ini aslinya adalah seorang pekerja serabutan yang lebih banyak menghabiskan umurnya sebagai kuli bangunan. Namun, jam terbang mengubah haluan kariernya. Beberapa tahun belakangan, ia menjadi spesialis saluran pembuangan. 

Ia bahkan kerap digandeng oleh jasa sedot WC untuk menangani kasus-kasus “kelas berat” di lapangan. Mulai dari membongkar septic tank yang ambrol, mengganti dudukan kloset, hingga memperbaiki instalasi perpipaan yang buntu total.

Pekerjaan servis WC lebih ribet dari sedot WC

Di kos saya, Aan awalnya mencoba mengambil jalan pintas yang paling sering dipakai. Ia memasukkan alat sembur bertekanan tinggi ke masing-masing kloset dengan harapan benda asing apa pun yang menyumbat bisa terdorong paksa menuju septic tank. 

Sayangnya, ia harus menghadapi arsitektur pipa kos yang kelewat rumit. Bayangkan saja, ada sepuluh kloset kamar mandi yang salurannya dipaksa bermuara hanya pada dua septic tank. Jalur pipanya bercabang-cabang, membentuk pola leher angsa, persimpangan L, hingga sambungan T yang ruwetnya tidak karuan.

Celakanya lagi, seluruh instalasi pipa itu tertanam mati di bawah lapisan cor semen yang tebal. Alat sembur secanggih apa pun tidak akan mempan jika hambatannya tersangkut kuat di tikungan pipa mati. 

Alhasil, Aan terpaksa mengambil langkah ekstrem. Bersama dua rekan kerjanya, ia membongkar lantai cor, memotong percabangan pipa lama yang sudah agak membatu karena tumpukan karang kotoran, dan membangun jalur baru dari awal. 

ADVERTISEMENT

Selama tiga hari penuh, saya menyaksikan mereka bergelut dengan lumpur hitam, tai yang mengendap bertahun-tahun, ditambah aroma busuk yang bahkan bisa bikin mata perih. 

Sering diejek “bau tai” dan “makan dari hasil ubek-ubek tai”

Di sela-sela waktu istirahat sambil mengisap rokok, Aan banyak bercerita tentang profesinya. Berurusan dengan kotoran manusia setiap hari membuatnya kenyang menelan stigma. 

Di lingkungan kampungnya, olok-olok (meski bernada bercanda) sudah jadi makanan sehari-hari. Ia sering dijuluki “pakar tai”, bahkan diledek bau badannya tidak akan pernah bisa lepas dari aroma jamban. 

Aan sendiri menanggapi semua ledekan tongkrongan itu dengan tawa lepas.

“Dibilang cari makan dari tai, yo ada benernya kan, Mas. Kan memang dapat uangnya dari beresin tai,” ujar tukan servis WC ini, minggu lalu, sambil sesekali tertawa.

Namun, ada satu momen yang sempat membuat hatinya sedikit tersentil. Suatu hari, anaknya yang duduk di bangku SMP pulang dengan wajah murung. Di kelas, ketika ada guru yang menanyakan profesi orang tua murid, teman-temannya serentak menyoraki sang anak dengan sebutan “bapaknya tukang ngubek-ubek tai”. 

Meski niatnya sekadar bercanda ala anak sekolahan, ledekan itu bikin anaknya tersinggung berat dan menanggung malu.

“Tapi ya saya nggak ambil pusing. Orang itu memang fakta kan, Mas.”

Diremehkan, tapi cuannya besar

Lantas, mengapa Aan tetap bertahan dan terkesan kebal terhadap semua cibiran merendahkan itu? 

“Ya tentu karena duitnya gede dong, Mas,” katanya.

Aan sadar betul bahwa dirinya hanyalah lulusan SD. Jika ia terus mengandalkan otot sebagai kuli bangunan di Jogja, upah maksimal yang bisa ia bawa pulang hanya berkisar antara Rp90.000 hingga Rp120.000 per hari. Namun, ketika ia banting setir menjadi spesialis servis WC, hitung-hitungannya jauh lebih besar.

Profesi yang dianggap kotor oleh masyarakat ini ternyata memiliki perputaran uang yang cukup besar. Untuk satu titik kerusakan atau penyumbatan, Aan bisa mematok tarif Rp250.000 hingga Rp300.000.

“Tergantung level kerusakan,” kata dia. “Ada yang cuma ganti pipa. Bongkar septic tank. Ada juga yang rombak saluran, kayak di kos ini, Mas.”

Dalam sehari, jika panggilan sedang ramai, ia sanggup menggarap dua sampai tiga lokasi. Artinya, pendapatan Aan selama dua hari mengurus kotoran manusia setara dengan upah seminggu bekerja sebagai kuli bangunan berpeluh keringat. 

Uang yang ia kantongi per bulan bahkan berada di atas UMR Jogja. Bagi Aan, biarlah profesinya dianggap jorok. “Yang penting ada duitnya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Profesi Suntik Sumur di Kampung, Sering Diremehkan Padahal Menjanjikan Cuan di Musim Kemarau Panjang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.