Ironi Lihat Warga Bogor Kelaparan sampai Tak Mampu Beli Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

ilustrasi - warga bogor sebelum ada kebun sayur untuk makanan sehat dan bergizi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Berawal dari anak tetangganya yang terkena gizi buruk di Kabupaten Bogor, Britania Sari sadar sudah saatnya ia mengajak masyarakat sekitar untuk mendirikan kebun sayur. Mulai dari tetangga, posyandu, sampai sekolah. Perempuan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu yakin pentingnya mewujudkan ketahanan pangan saat ini.

Manfaatkan lahan kosong di Kabupaten Bogor

Tahun 2020, Sari dan suaminya pindah ke Kabupaten Bogor karena harga kontrakan di Tangerang Selatan yang semakin mahal. Setelah mengumpulkan berbagai informasi, keduanya pun sepakat untuk mencari kontrakan di Parung Panjang, Kabupaten Bogor. 

Selain lebih murah, mereka merasa beruntung karena dapat kontrakan yang punya pekarangan seluas 100 meter persegi. Meski tak terlalu besar, keduanya mengaku senang karena bisa menyulap lahan yang sebelumnya terbengkalai itu menjadi kebun sayur. 

Bagi Sari dan suami, kebun sayur itu tak perlu muluk-muluk. Cukup mengubahnya dengan sistem permakultur, yakni desain pertanian yang selaras atau menyatu dengan bumi. Sesuatu yang mereka pelajari dari Akademi Berkebun di Bogor. 

Britania Sari. MOJOK.CO
Britania Sari, pegiat kebun dan ketahanan pangan mandiri. (Sumber: UNJ)

“Intinya, apa-apa yang dihasilkan dari kebun tidak keluar dari kebun itu sendiri. Jadi semacam siklus. Misalnya, sisa organik nanti masih bisa dikomposkan atau diberikan untuk pakan ayam, terus berputar seperti itu, lalu hindari juga pestisida sehingga tidak menghasilkan sampah atau merusak bumi,” jelas Sari.

Dengan pengetahuan tersebut, Sari dan suaminya mulai menginisiasi gerakan sosial. Sari yang awalnya hanya menjalani hobi mengaku terenyuh ketika mendapati realitas di sekitarnya, bahwa masih ada keluarga yang tidak bisa membeli makanan sehat karena ekonomi yang terbatas.

“Ada satu peristiwa yang sangat menampar saya saat itu, ketika anak tetangga saya usia 9 tahun mengalami gizi buruk. Dia cuma bisa tidur di stroller, nggak bisa berdiri, nggak bisa bicara, nggak bisa pergi ke sekolah, beratnya cuma 8 kilogram,” tutur Sari.

“Padahal, rumahnya persis di depan gang kami. Saat itu saya merasa berdosa. Dalam artian, kemana saja kita selama ini?” lanjutnya.

Datang ke Posyandu, izin untuk buka kebun sayur

Sejak saat itu, Sari dan suaminya memulai gerakan sosial dengan memberikan pangan sehat kepada sejumlah kepala keluarga di lingkungan rumahnya. Namun, Sari sadar bantuan tersebut tak akan berdampak panjang kecuali mereka ikut melakukan aktivitas berkebun seperti dirinya. 

Ia pun mulai mengubah strategi dengan mengajak warga yang tertarik berkebun, beternak, maupun mengompos agar menerapkan sistem ketahanan pangan mandiri. Tak berhenti sampai di situ, tahun 2024, Sari juga menyasar Posyandu.

“Saya masih mendengar ada oknum tenaga kesehatan yang memberikan makanan atau minuman kemasan seperti sosis, bahkan susu formula apapun penyakitnya. Padahal, banyak keluarga prasejahtera binaan kami penghasilannya hanya Rp50 ribu dalam sehari,” kata Sari.

Oleh karena itu, ia meminta izin untuk memanfaatkan pekarangan Posyandu jadi kebun sayur. Dalam perjalannya, Sari sempat dicurigai sebagai kader partai yang hendak melakukan kampanye terselubung, padahal ia hanya ingin membantu.

“Untungnya saya kenal beberapa orang di sana. Saya akhirnya bilang, ingin membangun kebun sayur di halaman depan Posyandu. Nanti hasil panennya bisa dibagikan ke balita, ibu hamil, dan lansia. Mereka pun menerima,” kata Sari yang kemudian menjual hasil panennya seharga Rp10 ribu.

Dari Kabupaten Bogor merambah ke sekolah di Solo

Satu tahun berikutnya, Sari tak sengaja menjangkau sekolah. Awalnya, ia dihubungi langsung oleh kepala sekolah SD Kanisius Pucangsawit Surakarta untuk membantu menyulap lahan terbengkalai di sekolah mereka. Kebetulan, ia juga mendapatkan sponsor tunggal dari Kita Bisa.

Atas kolaborasi tersebut, Sari memanfaatkan lahan sekolah yang cukup luas dan menyulapnya jadi kebun sayur. Ia juga memberikan edukasi kepada siswa dan guru untuk menanam sayur, seperti bayam, kangkung, caisim, pokchoy, hingga timun.

“Hasil panen dari kebun sayur sekolah berupa daun gedi, daun bayam, dan telur diolah menjadi bubur manado dengan tambahan lauk tahu, teri krispi, telur rebus, sambal dabu-dabu,” jelas Sari.

Selanjutnya, makanan yang sudah jadi disajikan secara prasmanan. Nantinya, siswa akan belajar mengisi piring mereka sesuai dengan gizi seimbang, sekaligus berani mencicipi makanan baru, sampai belajar menakar kebutuhan perutnya sendiri sehingga tak ada makanan yang terbuang. 

Dengan begitu, Sari berharap program kebun sayur yang ia inisiasi dapat mengedukasi masyarakat sekitar, terutama kelompok marginal, “bahwa untuk bisa sehat, anak sehat, kita bisa dengan harga yang murah, asalkan berbasis pangan lokal.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Bogor untuk Wujudkan Ketahanan Pangan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version