“Baik-baik saja” adalah seragam kantor toksik yang harus selalu dipakai hingga membuat mental kembang kempis dibuatnya.
***
Joko (35), bukan nama sebenarnya, termasuk orang yang masih menyukai pekerjaannya. Ia bekerja di salah satu kantor yang cukup keren di Jogja. Lingkungan kerjanya dari luar terlihat menyenangkan. Kantornya bagus, pekerjaannya sesuai kemampuan, dan penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Masalahnya, menjadi pekerja kantor bukan sumber masalah Joko. Orang-orang dan kebiasaan di dalamnya yang kadang membuat mentalnya kembang-kempis dan stres tak tertolong.
“Kalau ditanya benci sama pekerjaan, ya enggak. Aku malah suka pekerjaanku. Yang bikin capek itu suasananya,” kata Joko ketika kami berbincang.
Menurutnya, kantor toksik tidak selalu punya bos toksik saja. Kadang bentuknya jauh lebih halus. Bahkan, dari luar terlihat seperti budaya kerja biasa.
Bos kantor toksik hobinya menghubungi tengah malam
Jam kerja selesai bukan berarti urusan pekerjaan ikut selesai. Sebagai pekerja kantor, ponsel Joko beberapa kali masih berbunyi pada malam hari. Pesan dari atasan masuk ketika sebagian orang mungkin sudah rebahan atau menonton drama Korea.
“Pernah dapat chat jam sebelas malam?” tanyaku.
“Sering.”
“Terus dibalas?”
“Kalau enggak dibalas, besok ditanya. Kalau dibalas, ya akhirnya kerja lagi.”
“Padahal sudah di luar jam kerja?”
“Iya. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan, lama-lama dianggap normal.”
Menurut Joko, persoalannya bukan semata-mata karena ada pekerjaan mendesak. Yang melelahkan adalah perasaan harus selalu tersedia. Ia bahkan pernah sengaja mematikan notifikasi aplikasi percakapan kantor agar bisa tidur lebih tenang.
“Kadang aku cuma ingin tidur tanpa mikir besok bakal ada chat apa lagi.”
Rapat yang lebih mirip dengan ruang penghakiman
Rapat seharusnya menjadi tempat membahas pekerjaan. Namun bagi Joko, beberapa rapat justru terasa seperti ruang untuk mempertontonkan siapa yang bekerja paling baik dan siapa yang dianggap paling buruk.
Kinerja karyawan dibandingkan di depan anggota tim lain. Kesalahan yang sebenarnya sudah selesai pun kadang kembali dibicarakan.
“Yang bikin mental itu bukan dimarahinya,” ujar Joko.
“Lantas?”
“Dibanding-bandingkan.”
Ia kemudian bercerita bahwa membandingkan kinerja memang bisa menjadi cara untuk memotivasi. Tetapi ketika dilakukan berulang-ulang di depan orang lain, efeknya berbeda.
“Misalnya ada yang targetnya tercapai. Terus disebutkan, ‘Lihat si A bisa, kenapa kamu enggak?’ Sekali mungkin ya sudah. Tapi kalau berkali-kali, lama-lama kamu merasa memang enggak becus,” lanjutnya.
Masalahnya tidak berhenti ketika rapat selesai.
“Pulang dari kantor kepikiran. Besoknya ketemu orang yang sama, kepikiran lagi.”
Kesalahan sedikit namun diingat berkali-kali
Kesalahan adalah bagian dari pekerjaan. Setidaknya begitu yang sering kita dengar. Namun di kantor Joko, beberapa kesalahan kecil bisa memiliki umur yang jauh lebih panjang.
Kesalahan yang sudah diperbaiki masih bisa disebut lagi dalam pembicaraan berikutnya. Bahkan ketika sedang membahas persoalan yang berbeda.
“Jadi kayak punya rapor kesalahan yang enggak pernah ditutup,” katanya.
“Pernah sampai kepikiran resign gara-gara itu?”
“Pernah. Tapi resign itu gampang diucapkan, susah dilakukan.”
Kalimat itu mungkin terdengar klise. Namun bagi pekerja yang memiliki kebutuhan hidup, resign bukan sekadar perkara keberanian. Ada kebutuhan sehari-hari dan ketakutan kalau setelah keluar justru tidak mendapatkan pekerjaan baru.
Terlihat baik-baik saja adalah skill yang harus dipelajari di kantor toksik
Hal lain yang membuat Joko lelah adalah melihat bagaimana orang-orang di kantor belajar memainkan peran. Ada yang ikut tertawa ketika atasan bercanda. Ada yang berusaha selalu terlihat sepakat. Ada pula yang memilih diam meski sebenarnya tidak setuju.
“Menurutmu itu menjilat?”
“Sebagian iya. Tapi aku enggak sepenuhnya menyalahkan mereka.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin mereka sedang menyelamatkan diri.”
Joko memahami mengapa seseorang memilih mendekat kepada atasan, menjaga perkataan, atau pura-pura baik-baik saja.
“Kalau kamu tahu ngomong jujur bisa bikin posisi kamu enggak aman, ya lama-lama kamu belajar ngomong yang aman.”
Pada akhirnya, kantor mengajarinya satu keterampilan baru yakni menyembunyikan perasaan. Ditanya apakah baik-baik saja, jawabannya hampir selalu sama.
“Baik.”
Padahal belum tentu.
Tidak suka kantornya, tapi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya
Joko tahu keluhannya mungkin tidak akan mengubah banyak hal. Ia juga sadar, tidak semua persoalan yang ia alami bisa disebut sebagai pelanggaran atau sesuatu yang luar biasa. Sebagian justru berada di wilayah abu-abu; kebiasaan komunikasi, gaya atasan, kultur kerja, dan cara orang bertahan.
Namun, menurutnya, hal-hal kecil yang terjadi berulang-ulang itulah yang membuat mental terkikis.
“Kalau ditanya kenapa enggak resign, ya karena in this economy, punya pekerjaan itu kemewahan,” katanya.
Joko tertawa kecil ketika mengucapkan kalimat itu.
“Lucu ya?”
“Apanya?”
“Kita bisa enggak bahagia di pekerjaan, tapi tetap takut kehilangan pekerjaan itu.”
Barangkali itulah ironi terbesar menjadi pekerja hari ini. Kita bisa menyukai pekerjaan sekaligus membenci cara kita diperlakukan ketika mengerjakannya.
Kantor toksik juga tidak selalu berbentuk bos galak yang berteriak-teriak. Kadang ia hadir sebagai pesan tengah malam, rapat yang membuat malu, kesalahan lama yang terus diungkit, budaya membandingkan kinerja, atau ketakutan sederhana untuk mengatakan, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”
Dan karena kebutuhan hidup terus berjalan, banyak pekerja memilih bertahan. Bukan karena mereka baik-baik saja. Mereka hanya belum punya kemewahan untuk tidak baik-baik saja.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
