Sejak bekerja dan tinggal di mess per awal 2025 lalu, semakin ke sini Rofan (23) justru terdorong untuk pindah: sewa kos sendiri di Jogja. Alasan kuatnya adalah karena keberadaan seorang teman mess yang gemar ngasih makan “naga”alias judi slot ketimbang perutnya sendiri. Padahal gaji kerjanya tidak seberapa.
Rofan adalah pekerja di salah satu tempat penyewaaan alat-alat elektronik untuk event-event di Jogja. Dari sound system dan sejenisnya. Di mess, ia tinggal bersama setidaknya tiga orang pekerja lain. Dua seusianya, sementara satunya lagi mas-mas berusia menjelang 30-an.
Tinggal di mess sebenarnya merupakan strategi bertahan hidup Rofan. Pasalnya, dengan gaji Rp2 juta, terlalu tipis jika nantinya harus digunakan sewa kos—yang sekarang rata-rata harganya sudah dia angka Rp500 ribu ke atas. Namun, jika terus-terusan tinggal di mess, ia juga merasa dirugikan dengan kelakukan teman yang suka ngasih makan naga tadi.
Ngasih makan naga: pesugihan biar cepat kaya
Teman satu mess Rofan yang berusia menjelang 30-an tersebut panggil saja Panjul. Kata Rofan, bisa dibilang dia adalah salah satu pekerja senior. Gajinya sebenarnya juga tidak Rp2 juta pas, lebih sedikit lah.
Namun, selebih-lebihnya, kalau hanya sedikit, buat hidup saja susah. Buat beli bensin, makan minimal sehari dua kali, atau rokok. Begitu kata Rofan.
“Makan di Jogja kalau mau kenyang minimal ya Rp15 ribu sekali makan. Kalau cuma sekadar ganjel perut, angkringan dua nasi kucing masih bisa lah. Tapi ganjelnya sementara,” kata Rofan, Sabtu (13/6/2026). Apalagi di tengah situasi ekonomi seperti saat ini.
Akan tetapi, alih-alih berhemat, si Panjul ini justru gemar ngasih makan naga alias judi slot. Panjul mengaku ke anak-anak mess kalau ia pernah sekali jackpot hanya dengan modal tipis.
Itulah yang kemudian memotivasi Panjul untuk ngasih makan naga. Terutama di jam-jam menuju tengah malam, karena dulu ia mendapat jackpot di jam-jam tersebut.
“Bahayanya adalah, teman-teman yang seusiaku ini kan tergiur. Saat-saat ini mereka belum nyemplung aja. Kalau nanti nyemplung, wah, nggak ketolong semua,” kata Rofan.
Bagaimana mau ketolong, hampir setiap malam loh Panjul ini ngasih makan naga di layar ponselnya. Tapi jackpot yang pernah ia ceritakan itu tidak pernah terulang lagi.
Sebab, seringkali Rofan mendapati, hari masih pagi tapi si Panjul sudah pasang muka kesal. Katanya duitnya amblas semalam. Sialnya, jika sudah tahu begitu, bukannya berhenti, si Panjul malah semakin termotivasi untuk balas dendam: judi slot lagi di malam harinya.
Gaji Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot), rela kelaparan
Di lingkungan kerja Rofan, judi slot sebenarnya menjadi habit buruk yang menjangkiti sejumlah pekerja kelas menengah bawah: terutama di umur 25-an ke atas. Dan memang, pada 2024 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan bahwa jumlah pemain judi online (judol) di Indonesia telah mencapai 3,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, hampir 80% berasal dari kalangan menengah bawah.
Para pekerja lain yang waras bukannya tidak pernah mengingatkan. Termasuk kepada Panjul, bahwa cara kerja judi slot memang begitu: memberi semacam umpan pancingan (jackpot) di awal yang membuat ketagihan, tapi setelahnya hanya akan terus-menerus menyedot uang dari korban.
“Nggak, Pak, belum jackpot aja ini, kalau jackpot nanu kutraktir kalian.” Kata Rofan, begitu selalu yang diucapkan Panjul setiap kali ditegur.
“Panjul ini sudah di tahap mengkhayal, katanya kalau jackpot gede, mau buat beli ini lah, itu lah, buat modal nikah lah,” beber Rofan.
Ironisnya, demi ngasih makan naga, si Panjul kerap mengenyampingkan urusan perutnya sendiri: rela kelaparan. Bagaimana tidak, gaji Panjul kerja di sektor jasa di Jogja tersebut hanya Rp2 juta sekian. Setiap malam terus disetor ke mesin perjudian.
Bahkan belum pertengahan bulan pun sudah ludes duluan. Alhasil, siasat makannya adalah mengais-ngais recehan untuk makan di angkringan: sehari dua kali. Kalau tidak, misalnya ada event, ia bergantung penuh dari makanan yang memang disediakan.
Utang sana-sini dan minta dikasihani
Bedebahnya, kalau sudah tidak pegang uang sama sekali, maka ia akan minta dikasihani, terutama oleh anak-anak yang tinggal di mess.
Seringkali utang uang buat makan dan beli rokok ketengan. Seringkali pula, karena sudah tidak mampu beli rokok, akhirnya selalu minta rokok anak-anak lain.
“Aku hanya dua atau tiga kali ngasih pinjam. Karena buat makan kan. Tapi setelah itu nggak pernah ngutangi lagi. Ya nggak mungkin dibalikin,” beber Rofan.
Dalam situasi seperti itu pun, bukannya sadar bahwa habit judi slot lah yang merusak keuangan, Panjul justru makin delusional. Kata Rofan, setiap habis utang—baik ke Rofan maupun ke orang lain—dia pasti bilang begini: “Tenang, Pak, nanti kalau aku ada jackpot gede, pasti kubalikin.”
Masalahnya Rofan tahu belaka, jackpot yang dibayang-bayangkan si Panjul itu tidak akan pernah terjadi. Sebab, setelah ia pelajari, sistem judi slot memang hanya memberi kenikmatan jackpot sesaat. Sisanya hanyalah iming-iming semu.
“Kadang tiba-tiba dia (Panjul) pegang uang lagi, padahal kami nggak ngasih utang. Kutanya, duit dari naga tuh? Ternyata dia utang teman lama atau saudara. Kadang juga minta orang tuanya. Beneran,” jelas Rofan. Tidak sepenuhnya untuk kebutuhan primer, masih saja, uang hasil utang pun tetap dipakai buat slot.
Sambat tidak punya uang tapi tidak bisa berhenti dari judi slot
Belakangan ini, Panjul bercerita bahwa ia sebenarnya merencanakan hendak melamar pasangan. Masalahnya, ia tidak punya pegangan uang khusus untuk melamar, entah dalam dompet maupun tabungan di bank.
“Mangkanya aku berharap jackpot,” katanya yang sontak membuat Rofan menepuk jidat. Memang kalau sudah kecanduan judi slot, susah buat ditolong.
Ibu Panjul, berdasarkan cerita dari si Panjul, belakangan juga mempertanyakan: ke mana hasil kerja selama ini, kok tidak ada lebih-lebihnya buat ditabung?
Pertanyaan si ibu itu, masih dalam cerita Panjul kepada Rofan, berangkat dari situasi Panjul minta bantuan biaya lamaran dari sang ibu. Si ibu penasaran, jika Panjul sudah lama kerja, tapi kok masih sering utang sana-sini, urusan lamaran juga 80% dibebankan ke orang tuanya.
Jawaban Panjul: Ya gaji kerja di Jogja cuma Rp2 juta mau berbuat apa?
“Gaji Jogja kecil itu memang fakta, sementara di sini serba mahal. Tapi menurutku, variabel ngasih makan naga lah yang memperparah keuangan Panjul. Karena aku, semegap-megap apapun dengan gaji Jogja, masih bisa survive lah,” kata Rofan.
“Sudah tahu seperti itu, satu teman seusiaku di mess belakangan malah mulai tertarik slot juga. Dimulai dari pertanyaan, berapa sih angka jackpot yang katanya gede itu? Eh dijawab pula sama si Panjul yang terdengar menggiurkan,” sambungnya. Pindah sewa kos aja kali ya, syukur-syukur bisa cari kerjaan lain, biar aman dari utangan dan nggak sumpek menghadapi orang-orang tidak tertolong lagi. Begitu pikir Rofan belakangan ini.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gara-gara Slot, Suasana di Desa Tak Sehangat Dulu Lagi: dari Ronda Malam sampai Tahlilan, Tak Pernah Absen Main Judol Jahanam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
