Sebagian orang memilih bertahan di tempat kerja meskipun tidak puas dengan beberapa hal. Fenomena ini dikenal dengan istilah job hugging. In this economy, pilihan ini tampak realistis daripada mengejar jabatan atau mencari peluang karier di tempat lain.
Survei ResumeBuilder.com menunjukkan sebanyak 45 persen dari 2.221 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat dapat dikategorikan job huggers. Survei ini dilakukan pada Agustus 2025.
Dari 45 persen tadi, mayoritas beralasan karena kondisi pasar kerja sekarang tidak menentu sementara yang lain khawatir dengan perkembangan kecerdasan buatan, sehingga peluang kerja baru semakin terbatas. Begitu pula yang dirasakan oleh Zaky* dan Eka.
Drama kantor yang bikin resah
Pukul 22.00 WIB. Zaky masih harus siaga melihat pesan WhatsApp dari atasannya. Ia diperintahkan untuk merevisi laporannya dan harus selesai malam itu juga. Meski sudah di luar jam kerja, Zaky hanya bisa membalas, “Siap”.
Laki-laki asal Bintaro itu mengaku sudah terbiasa dan memilih job hugging. Toh, perintah yang mendadak itu juga bukan yang pertama. Sudah 11 bulan lamanya Zaky bertahan di kantornya dengan budaya kerja yang demikian.
“Aku rasanya udah kebal dengar atasan yang ngomong seenaknya. Waktu rapat, aku cuma bisa senyum sambil nahan sesuatu di dada,” kata Zaky.
Sebagai pegawai yang bahkan belum setahun bekerja, Zaky sadar tabungannya masih belum cukup. Sehari-hari, ia hidup dengan gajinya sebesar Rp3 juta. Untuk menabung saja susah, karena ia tergolong generasi sandwich.
“Kalau mau resign, aku sadar nggak punya dana darurat yang cukup. Kos harus dibayar tepat tanggal 5, ibu nunggu uang transferan,” jelas Zaky yang lebih memilih jadi job huggers.
Job hugging atau pengangguran
Terlebih, Zaky paham sulitnya mencari kerja di masa sekarang. Dulu sebelum dapat pekerjaan yang sekarang, Zaky harus kelimpungan. Untuk mengirim surat lamaran saja, ia harus punya modal.
Misalnya, ia harus membayar Rp28 ribu untuk ongkos ojek online, Rp15 ribu untuk cetak CV dan foto, Rp20 ribu untuk makan di jalan, kemeja ia pinjam gratis dari kakaknya.
“Hasilnya? Selalu kata terima kasih, kami akan menghubungi kembali,” kata Zaky.
“Aku masih ingat duduk di halte setelah wawancara ketiga. Sandalku lecet di tumit kanan. Sisa uang di dompetku cuma Rp11 ribu dan baterai HP-ku tinggal 12 persen,” lanjutnya.
Tekanan di dunia kerja juga dirasakan Eka (24). Pegawai Badan Usaha Milik China alias BUMC ini mengaku harus bekerja selama 10 jam per hari bahkan lebih demi mencapai target. Jika target belum tercapai, Eka harus bersiap kena evaluasi di rapat. Selain itu, perusahaan tempat Eka bekerja juga sering tidak libur meski tanggal merah.
“Padahal dalam prosesnya ada hal-hal yang nggak sesuai, tapi kami diminta mengatasinya sendiri,” kata Eka.
Jika ditotal, gajinya juga tidak setara dengan UMK Surabaya (Rp5,2 tahun 2026) alias cuma Rp2,3 juta. Meski begitu, Eka tetap memilih bertahan sebagai job huggers daripada menjadi pengangguran.
Bahaya karyawan job hugging bagi perusahaan
Ketika karyawan merasa aman bekerja meski mendapat tekanan, fenomena job hugging justru bahaya bagi perusahaan. Jurnal Pengaruh Job Hugging terhadap Tingkat Kepuasan Kerja Karyawan menunjukkan, pekerja yang tidak memiliki tantangan baru dalam pekerjaannya cenderung kurang puas dan tidak termotivasi untuk melakukan inovasi.
Jangka panjangnya, mereka bisa mengalami stres, burnout, atau bahkan rasa terjebak. Ketika mereka bertahan di tempat kerja semata-mata agar merasa aman, karyawan akan membatasi diri untuk terlibat langsung dalam pekerjaan sehari-hari. Pada akhirnya, produktivitas organisasi pun bisa menurun.
Temuan lain dari jurnal Fenomena Job Hugging pada Generasi Milenial di Tengah Ketidakpastian Dunia Kerja mengungkap, keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan struktural dan ekonomi, tapi juga kualitas komunikasi internal.
Ketika komunikasi internal dirasakan secara adil, transparan, dan manusiawi, karyawan cenderung merepresentasikan perusahaan secara positif di ruang publik. Sebaliknya, komunikasi internal yang buruk berpotensi memperburuk reputasi perusahaan terutama di era digital.
Oleh karena itu, Fauzan Ahdi Wisyaputra dalam jurnal tersebut mengimbau organisasi untuk mengintegrasikan komunikasi internal yang berbasis transparansi, dialog, dan empati ke dalam strategi manajemen sumber daya manusia. Dengan begitu, reputasi organisasi bisa aman di tengah ketidakpastian dunia kerja.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
