Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Seorang TKI dan TKW di Pati dan Rembang “dituntut” harus menunjukkan kesuksesan simbolis dari hasil mereka kerja di luar negeri. Misalnya dengan membangun rumah besar nan mewah di desa asal mereka. Kalau tidak, pasti dianggap sia-sia jauh-jauh kerja ke Malaysia, Singapura, atau Taiwan. 

Alhasil, ada saja TKI dan TKW dari Pati dan Rembang—dua kabupaten tetangga di utara Jawa Tengah—yang terpaksa berlomba-lomba membangun rumah besar dan mewah di desa asal masing-masing. 

Walaupun yang terjadi kemudian adalah ironi: hanya bisa membangun, tanpa pernah bisa menghuni dan menikmati hasil jerih payahnya tersebut. Karena tuntutan hidup terus menumpuk tanpa sejenak memberi jeda. 

Pati-Rembang, pengirim TKI dan TKW terbanyak di Jawa Tengah

Pati dan Rembang tercatat sebagai dua daerah yang masuk dalam 20 besar penyumbang TKI dan TKW terbanyak di Jawa Tengah. 

Merangkum statistik kumulatif 2024-2025 dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Pati ada di urutan 8 dengan jumlah imigran ke luar negeri (TKI dan TKW) sebanyak 3.015 orang. Rata-rata menuju Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, 

Sementara Rembang ada di posisi 14 dengan jumlah sebanyak 1.880 orang. Daerah yang dituju meliputi Malaysia, Singapura, dan Taiwan. 

Ilustrasi – TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi. (Data penyumbang PMI terbanyak di Jateng 2024-2025. Generated by AI NotebookLM/Creator: Aly Reza)

Kerja di luar negeri menjadi TKI dan TKW, pilihan kala Rupiah tak ada artinya

Awalnya, para TKI dan TKW di Pati dan Rembang—dalam konteks narasumber Mojok—memutuskan kerja di luar negeri karena tuntutan hidup. Mereka merasa, kerja keras di luar negeri sebanding dengan upah yang bakal mereka terima. 

Sebenarnya tidak ada data spesifik yang mengudar bagaimana awal mula orang-orang di Pati dan Rembang memilih menjadi TKI dan TKW. Tapi secara umum, dari sumber akar rumput di dua daerah tersebut, konon sudah bermula sejak 1980-an. 

Namun, gelombang besarnya terjadi pasca krisis moneter (1998-2000-an awal), seperti dibeberkan Riwanto Tirtosudarmo dalam Mencari Indonesia: Demografi-Politik Pasca-Soeharto

Secara umum, pola migrasi masyarakat di pesisir utara Jawa berubah dari yang semula internal (merantau sebatas di luar daerah tempat asal) menjadi migrasi internasional (kerja ke luar negeri). Hal ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. 

Di Pati dan Rembang, seturut pengakuan narasumber Mojok, bahkan sampai ada agen penyalur. Di Pati bahkan dibangun Kantor Imigrasi resmi. Pada mulanya hanya Kantor Imigrasi Kelas II berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Tahun 2002. Kemudian beranjak menjadi Kantor Imigrasi Kelas I berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2020 tentang Peningkatan Kelas Kantor, melayani keimigrasian di wilayah eks Karesidenan Pati (Pati, Rembang, Blora, dan sekitarnya). 

Baca halaman selanjutnya…

Bangun rumah besar di desa tapi tak pernah dihuni, harus terus di luar negeri demi gengsi dan standar sukses tetangga yang terus berganti

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Exit mobile version