Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Februari 2026
A A
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ilustrasi - TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang TKI dan TKW di Pati dan Rembang “dituntut” harus menunjukkan kesuksesan simbolis dari hasil mereka kerja di luar negeri. Misalnya dengan membangun rumah besar nan mewah di desa asal mereka. Kalau tidak, pasti dianggap sia-sia jauh-jauh kerja ke Malaysia, Singapura, atau Taiwan. 

Alhasil, ada saja TKI dan TKW dari Pati dan Rembang—dua kabupaten tetangga di utara Jawa Tengah—yang terpaksa berlomba-lomba membangun rumah besar dan mewah di desa asal masing-masing. 

Walaupun yang terjadi kemudian adalah ironi: hanya bisa membangun, tanpa pernah bisa menghuni dan menikmati hasil jerih payahnya tersebut. Karena tuntutan hidup terus menumpuk tanpa sejenak memberi jeda. 

Pati-Rembang, pengirim TKI dan TKW terbanyak di Jawa Tengah

Pati dan Rembang tercatat sebagai dua daerah yang masuk dalam 20 besar penyumbang TKI dan TKW terbanyak di Jawa Tengah. 

Merangkum statistik kumulatif 2024-2025 dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Pati ada di urutan 8 dengan jumlah imigran ke luar negeri (TKI dan TKW) sebanyak 3.015 orang. Rata-rata menuju Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, 

Sementara Rembang ada di posisi 14 dengan jumlah sebanyak 1.880 orang. Daerah yang dituju meliputi Malaysia, Singapura, dan Taiwan. 

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Ilustrasi – TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi. (Data penyumbang PMI terbanyak di Jateng 2024-2025. Generated by AI NotebookLM/Creator: Aly Reza)

Kerja di luar negeri menjadi TKI dan TKW, pilihan kala Rupiah tak ada artinya

Awalnya, para TKI dan TKW di Pati dan Rembang—dalam konteks narasumber Mojok—memutuskan kerja di luar negeri karena tuntutan hidup. Mereka merasa, kerja keras di luar negeri sebanding dengan upah yang bakal mereka terima. 

Sebenarnya tidak ada data spesifik yang mengudar bagaimana awal mula orang-orang di Pati dan Rembang memilih menjadi TKI dan TKW. Tapi secara umum, dari sumber akar rumput di dua daerah tersebut, konon sudah bermula sejak 1980-an. 

Namun, gelombang besarnya terjadi pasca krisis moneter (1998-2000-an awal), seperti dibeberkan Riwanto Tirtosudarmo dalam Mencari Indonesia: Demografi-Politik Pasca-Soeharto. 

Secara umum, pola migrasi masyarakat di pesisir utara Jawa berubah dari yang semula internal (merantau sebatas di luar daerah tempat asal) menjadi migrasi internasional (kerja ke luar negeri). Hal ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. 

Di Pati dan Rembang, seturut pengakuan narasumber Mojok, bahkan sampai ada agen penyalur. Di Pati bahkan dibangun Kantor Imigrasi resmi. Pada mulanya hanya Kantor Imigrasi Kelas II berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Tahun 2002. Kemudian beranjak menjadi Kantor Imigrasi Kelas I berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2020 tentang Peningkatan Kelas Kantor, melayani keimigrasian di wilayah eks Karesidenan Pati (Pati, Rembang, Blora, dan sekitarnya). 

Baca halaman selanjutnya…

Bangun rumah besar di desa tapi tak pernah dihuni, harus terus di luar negeri demi gengsi dan standar sukses tetangga yang terus berganti

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Tags: daerah dengan tki terbanyak di jatengdaerah dengan tkw terbanyak di jatengkerja di luar negeriPatipilihan redaksirembangrumah di desaTKItki patitki rembangtkwtkw patitkw rembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura
Urban

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO
Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.