Dian Maula (24) punya model healing yang dianggap aneh oleh kalangan teman-temannya pekerja di Jakarta. Ia memilih mengisi akhir pekan dengan menikmati suasana hiruk-pikuk kerja dari KRL ke KRL. Tapi di situlah ia merasa menemukan makna.
***
Sebagaimana hari-hari normal pekerja di Ibu Kota, rutinitas pagi (saat berangkat kerja) adalah bangun sepagi mungkin untuk kemudian berebut tempat di KRL. Lalu akan kembali berebut tempat saat perjalanan pulang di sore hari. Tidak terkecuali Dian Maula, seorang pemuda asal Jogja yang pernah mencicipi hiruk-pikuk kerja di Jakarta, tepatnya di Jakarta Barat (Jakbar), pada 2025 lalu.
Senin-Jumat selalu menjadi hari yang melelahkan bagi Dian. Terutama saat harus berdesak-desakan di dalam KRL. Tidak jarang ia menjerit dalam hati gara-gara napas sesak, tak bisa bergerak, hingga kaki yang terinjak-injak.
“Itulah kenapa, di kalangan teman-temanku, akhir pekan kayak jadi momen jeda dari KRL,” ucap Dian menceritakan kembali pengalamannya hampir satu tahun kerja di Jakarta Barat.
Berawal dari me time di kamar kosan yang ternyata membosankan
Dian berangkat ke Jakarta seorang diri. Tidak ada kenalan dekat yang ditemui di sana.
Di masa-masa awal menjadi pekerja Ibu Kota, Dian juga cenderung tidak mudah akrab dengan sejumlah teman kantornya. Salah satu faktornya memang karena mereka adalah tipikal pekerja yang hanya membatasi relasi pada urusan pekerjaan saja, tidak terhubung secara sosial-pertemanan di luar kantor.
Alhasil, Dian jarang punya kesempatan untuk keluar untuk sekadar nongkrong dengan teman kantor. Sementara kalau nongkrong sendiri, rasanya agak aneh karena terbawa habit jagongan dari Jogja.
“Kalau lihat story mereka, tiap akhir pekan pasti pada healing dengan cara masing-masing. Tapi umumnya memang buat olahraga atau ke tempat-tempat tertentu. Sementara aku kalau healing cukup me time di kamar kosan,” ungkapnya.
Dian merasa cukup dengan rebahan, menggulir media sosial, atau nonton tayangan YouTube, karena orientasi akhir pekannya adalah untuk merebahkan badan yang sudah remuk-redam usai tergencet-gencet di KRL selama lima hari kerja (pulang-pergi).
“Nah, tapi lama-lama ternyata bosan, sehingga aku merasa perlu healing keluar,” sambungnya.
Tidak sengaja healing di KRL tapi malah ketagihan
Hingga suatu hari di akhir pekan, tanpa tujuan yang jelas Dian memutuskan me time dengan asal saja naik KRL di rute kerjanya di Jakarta Barat.
Suasana KRL di akhir pekan tentu tidak sepadat hari-hari kerja. Meski memang masih ada banyak pekerja yang harus berangkat di akhir pekan—kala para pekerja kantoran lain tengah menikmati waktu healing entah bareng keluarga atau sendirian.
“Meski tetap berdiri, nggak kebagian tempat duduk, tapi yang penting nggak desak-desakan lah,” kata Dian.
Perjalanan pulang-pergi dengan KRL itu ternyata membuat Dian ketagihan. Ia merasa menemukan sisi lain Jakarta yang lengang dan tidak semrawut. Ia akhirnya bisa melihat Jakarta dan KRL tanpa keterburu-buruan.
Saat turun dari KRL, saat menghirup udara Jakarta yang sebenarnya tidak segar-segar amat, Dian justru menemukan sensasi jeda yang menenteramkan.
“Mungkin karena begini. Sebelumnya kalau turun KRL pasti langsung jalan cepat. Nggak bisa tarik napas. Tapi akhir pekan memungkinkan aku bisa menikmati setiap detail perjalanan. Dari menatap lanskap Jakarta dari jendela KRL, mendengarkan derap sepatu sendiri saat berjalan di peron, jadi ASMR haha,” beber Dian.
Pada akhirnya, Dian kemudian menjadikan perjalanan KRL di akhir sebagai model healing-nya. Awalnya rute kerja, lalu melebar ke rute-rute lain. Jadi kebiasaan.

Dianggap healing aneh kalangan pekerja Jakarta, tapi justru menemukan makna
Dian bukannya tidak pernah punya tujuan tertentu. Kadang ia pergi ke tempat tertentu. Tapi sifatnya hanya sebagai bonus. Sementara healing utamanya adalah saat di KRL.
Tidak pelak, saat beberapa teman kantornya—pekerja di Jakarta Barat—tahu kebiasaan Dian tersebut, Dian pun dianggap aneh.
“Orang libur, weekend, itu ya yang ada nggak mau berhubungan sama suasana-suasana kerja. Elu malah nyari-nyari orang kerja di KRL,” begitu salah satunya.
Jujur, Dian agak sulit menjelaskan. Termasuk ketika bercerita kepada saya pun ia agak bingung harus bagaimana memulainya. Karena entah kenapa, kebiasaan healing naik KRL di akhir pekan justru membuat Dian menemukan makna—sesuatu yang bisa ia refleksikan di sepanjang jalan hingga saat tiba kembali di kosan.
“Makna yang kumaksud, aku akhirnya bisa merasakan kembali diriku sendiri yang bukan sebagai budak korporat. Tidak penuh keterburu-buruan,” kata Dian. Sebab begitulah ritme hidupnya di Jogja.
“Kemudian, kalau aku mau sering-sering ngeluh, kayak nggak pantes gitu pas lihat bahkan masih banyak orang yang harus bekerja di akhir pekan. Mereka semua pejuang,” sambungnya.
Selain itu, di KRL ia menyadari bahwa di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang membuat banyak orang menjadi tidak peduli satu sama lain, Dian kerap menemukan masih ada orang-orang yang terus berbuat baik. Menandakan stresnya pekerjaan tidak lantas merenggut nurani-manusiawi mereka.
“Ya solidaritas-solidaritas kecil. Kayak, orang ngalah tempat duduk pas lihat ada penumpang lain tampak kelelahan. Berbagi camilan dengan orang yang duduk di samping. Dan hal-hal sejenis,” beber Dian.
Pemandangan-pemandangan semacam itu hanya bisa Dian lihat secara utuh saat suasana KRL tengah agak lengang seperti di akhir pekan. Bagi Dian, melihat pemandangan semacam itu, entah kenapa, membuat energinya kembali dan menjadi bentuk me time terbaik. Sulit diterima. Tapi itulah pengalaman valid Dian sekaligus membuatnya tetap waras.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan