ADVERTISEMENT

Healing Murah Keliling Ringroad Jogja Malam Hari Tidak Lagi Menenangkan, Banyak Klitih dan Balap Liar yang Meresahkan

Kelling Ringroad Jogja Malam Hari Tidak Lagi Aman, Banyak Klitih! MOJOK.CO

Dulu, memutari Ringroad Jogja pada malam hari menjadi cara sederhana untuk menenangkan pikiran.  Bagi sebagian orang, perjalanan itu menjadi ruang untuk meluapkan keresahan ketika tidak punya teman bercerita. Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah. 

***

Dias (25), freelancer illustrator asal Mlati, Sleman, pernah menjadikan Ringroad Jogja sebagai tempat untuk menenangkan diri. Ketika pekerjaan dan persoalan pribadi terasa menumpuk, ia memilih mengendarai motor sendirian ketimbang memendam semuanya di rumah.

“Dulu, saya sering healing dengan muter Ringroad malam hari naik motor sendirian, ngerasain angin malam terus berkeluh-kesah sambil menangis,” jelas Dias melalui pesan WhatsApp, Senin (12/10/2026).

Bagi Dias, kegiatan itu tidak membutuhkan banyak persiapan. Ia tidak harus membuat janji dengan teman, mencari tempat nongkrong, atau mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman.

“Mau ketemu teman pada sibuk, kafe pada rame dan mahal, terus yaudah beli bensin Rp20 ribu udah bisa keliling Ringroad,” ujar lelaki tersebut.

Cara Dias menghadapi keresahan mungkin sederhana, tetapi ia punya alasan untuk memilihnya. Ketika tidak menemukan ruang bercerita, perjalanan sendirian memberinya kesempatan untuk menjauh sejenak dari rutinitas.

Pengalaman serupa dialami Nikmah (27), perempuan asal Pleret, Bantul. Bedanya, ia memilih sepeda sebagai teman perjalanan. Mengayuh sepeda pada malam hari menjadi cara Nikmah menghabiskan waktu sekaligus melepaskan beban setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

“Kalau saya memang suka bersepeda, Kak. Saya healing-nya bersepeda. Dan bersepeda malam hari melewati Ringroad selalu menjadi favorit saya,” ujar Nikmah.

Healing murah meriah yang kini dihantui rasa takut oleh klitih

Bagi Dias dan Nikmah, Ringroad Jogja dahulu menawarkan kebebasan untuk menikmati jalanan tanpa harus memikirkan tujuan akhir. Mereka bisa berkendara atau bersepeda sambil membiarkan pikiran berjalan ke mana-mana.

Kini, keduanya justru mempertimbangkan risiko sebelum memutuskan keluar rumah pada malam hari. Kekhawatiran mereka berkaitan dengan kemungkinan bertemu pengendara yang melakukan aksi berbahaya, termasuk orang yang mereka sebut melakukan klitih.

“Sekarang serem, takut ada klitih kalau nggak ya orang ‘nyetting’ motor mereka dan digeber kencang,” ujar keduanya.

Istilah nyetting dalam cerita mereka merujuk pada aktivitas menggeber atau menguji motor dengan kecepatan tinggi. Namun, aktivitas tersebut tidak otomatis merupakan balap liar ataupun kejahatan jalanan. Risiko yang mereka rasakan tetap nyata sebagai pengalaman pengguna jalan, meskipun setiap kejadian perlu diperiksa berdasarkan fakta.

Keresahan terhadap kejahatan jalanan di Yogyakarta juga bukan persoalan yang sepenuhnya muncul dari percakapan media sosial. Pada Oktober 2024, RRI melaporkan bahwa Jogja Police Watch menilai kemunculan kasus kejahatan jalanan sepanjang tahun tersebut sebagai peringatan bagi kepolisian. Organisasi itu mendorong peningkatan patroli malam hingga dini hari, terutama di jalan sepi dengan penerangan minim.

Pada Desember 2025, Jogja Police Watch kembali mengingatkan pentingnya pengawasan di titik rawan, termasuk kawasan ring road. Mereka menyebut telah mencatat puluhan kasus kejahatan jalanan di DIY sepanjang tahun tersebut. 

Klitih dan balap liar bukan persoalan yang bisa dianggap remeh

Keresahan pengguna Ringroad Jogja juga berkaitan dengan aktivitas berkendara yang membahayakan. Pada Januari 2025, kecelakaan beruntun terjadi di kawasan Ringroad Utara, Condongcatur, Sleman. Pemberitaan Portal Jogja menyebut satu orang meninggal dunia dan tiga orang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Meski sejumlah laporan awal mengaitkan peristiwa itu dengan balap liar, Dirlantas Polda DIY menjelaskan kepada Radar Jogja bahwa para pengendara yang terlibat sedang menguji kecepatan motor. Perbedaan keterangan ini penting karena tidak setiap aksi kebut-kebutan bisa langsung dikategorikan sebagai balap liar.

Sementara itu, polisi juga pernah menindak aktivitas balap liar di Ringroad Barat. Polsek Gamping menggelar patroli malam dan razia di sepanjang Jalan Siliwangi, terutama di kawasan Simpang Empat Demak Ijo dan Nogotirto. Petugas menyasar aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban, termasuk penggunaan knalpot tidak standar.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keamanan dan keselamatan di ring road membutuhkan perhatian berkelanjutan. Meski polisi telah melakukan patroli dan penindakan, upaya tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh ruas jalan sudah bebas dari gangguan.

Bagi Dias dan Nikmah, persoalannya bukan sekadar apakah suatu kejadian memenuhi kategori hukum sebagai klitih atau balap liar. Mereka juga menghadapi rasa khawatir ketika harus berbagi jalan dengan pengendara yang bertindak sembrono.

Jalan rusak menambah kekhawatiran pengguna ringroad Jogja

Selain khawatir terhadap pengendara lain, Nikmah menyoroti kondisi jalan yang menurut pengalamannya turut mengurangi kenyamanan perjalanan. Ia menyebut sejumlah bagian Ringroad Barat dan Ringroad Selatan yang mengalami kerusakan.

“Udah suasana jalan sepi dan serem, masih saja beberapa jalan di Ringroad itu rusak, seperti di Ringroad Barat dan Ringroad Selatan itu,” imbuh Nikmah.

Kondisi jalan, perilaku pengendara, penerangan, dan pengawasan merupakan persoalan berbeda yang membutuhkan penanganan sesuai penyebabnya. Jalan rusak perlu pemeriksaan dan pemeliharaan, sedangkan aksi kebut-kebutan membutuhkan pengawasan serta penegakan aturan lalu lintas.

Namun, pengalaman Nikmah menunjukkan bahwa kenyamanan perjalanan tidak hanya ditentukan oleh ramai atau sepinya jalan. Pengguna juga membutuhkan kondisi jalan yang layak dan perilaku berkendara yang tidak membahayakan orang lain.

Ringroad Jogja pernah menjadi tempat meluapkan kesedihan kawula muda

Kini, Dias mengurangi kebiasaannya mengelilingi Ringroad Jogja pada malam hari. Ia lebih sering mencari tempat ngopi yang sepi ketika membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Sementara itu, Nikmah tetap bersepeda, tetapi mengubah waktu perjalanannya menjadi pagi atau sore selepas bekerja.

Perubahan kebiasaan mereka memperlihatkan bagaimana kekhawatiran terhadap lingkungan dapat mempengaruhi cara seseorang menikmati waktu luang. Aktivitas yang dahulu terasa murah, sederhana, dan mudah dilakukan kini membutuhkan pertimbangan tambahan.

Ringroad Jogja tentu tidak serta-merta menjadi tempat yang selalu berbahaya pada malam hari. Namun, pengalaman Dias dan Nikmah menunjukkan bahwa rasa aman bukan perkara sepele bagi pengguna jalan yang sekadar ingin beristirahat dari rutinitas.

Mereka tidak meminta jalanan menjadi tempat yang sunyi tanpa kendaraan. Mereka hanya ingin bisa berkendara atau bersepeda tanpa terus-menerus mengkhawatirkan pengendara yang membahayakan orang lain.

Pada akhirnya, healing murah tidak harus dilakukan dengan memutari ring road. Akan tetapi, orang yang memilih cara tersebut semestinya tetap bisa menikmati perjalanan dengan rasa aman. Jalan raya bukan hanya ruang bagi kendaraan yang ingin melaju kencang, melainkan juga ruang bersama bagi siapa pun yang hendak pulang, mencari udara segar, atau menenangkan pikiran setelah menjalani hari yang melelahkan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jalan Slamet Riyadi: Surga Nongkrong di Solo, tapi Tak Cocok Buat yang Punya Kesabaran Setipis Tisu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.