Magang menjadi jembatan menjajaki dunia kerja. Pengalaman awal ini tidak jarang dihargai dengan nominal tak seberapa, mengingat beban kerja pemagang yang tidak seberat pekerja full-time. Namun, di Jakarta, magang malah menerima gaji lebih besar dibanding saat di Jogja hingga bisa membeli barang mahal dan foya-foya.
Magang di Jakarta dapat gaji lebih tinggi dari kerja full-time di Jogja
Cerita ini datang dari Ruth (26). Perempuan asal Jogja ini meninggalkan kota kelahirannya untuk mengikuti magang di Jakarta, tepatnya di salah satu perusahaan multinasional.
Kesempatan magang tersebut didapatkan melalui program Magang Hub yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan. Program ini ditujukan untuk lulusan perguruan tinggi atau fresh graduate sebagai pelatihan kerja di industri.
Berbekal beberapa pengalaman kerja di Jogja, Ruth mendaftarkan diri dalam program magang. Ia kemudian diterima sebagai bagian salah satu perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) terkemuka, Nestle.
Kesempatan inilah yang mengantarkan perempuan lulusan salah satu PTN di Jogja ini untuk merasakan besaran gaji yang tidak pernah didapatkannya di Jogja. Dalam satu bulan, ia setidaknya mengantongi uang saku Rp5,4 juta setara Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2025.
Angka ini mengalami kenaikan pada 2026, menjadi Rp5,7 juta.
Besaran ini lebih tinggi daripada uang saku magang yang umumnya diberikan. Misal, program Magenta BUMN memberikan uang saku bervariasi sesuai penyelenggara, posisi, dan lokasi kerja, mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta. Dibandingkan dengan UMP Jogja, nilai ini lebih jauh lagi. Per 2026, UMP Jogja sebesar Rp2,4 juta.
“Aku awalnya 5,4 juta, terus pas UMR naik jadi ikutan naik ke 5,7,” kata Ruth kepada Mojok, Minggu (26/4/2026).
Dijumlahkan selama 6 bulan masa magang, perempuan ini kira-kira dapat menghasilkan Rp32,4 juta dengan perhitungan uang saku awal.
Pertama kali beli sepatu mahal dengan uang saku magang di Jakarta
Dengan penghasilan ini, Ruth bercerita, ia menggunakannya untuk membeli sepatu yang juga belum pernah dibelinya dengan gaji di Jogja.
Sebab selama ini, ia mengatakan masih menggunakan sepatu ala kadarnya dari hasil gaji di Jogja yang tak seberapa. Namun sayangnya, ada kualitas ada harga.
Menurut dia, sepatu dengan harga terbilang murah yang sebelumnya dibeli memiliki sol tipis yang membuatnya merasa tidak nyaman berjalan kaki. Padahal, lokasi magangnya terletak di area perkantoran yang mengharuskannya lebih banyak berjalan kaki.
“Aku beli sepatu karena di Jakarta tuh jujur aja banyak jalan beda kayak di Jogja. Aku turun dari drop off Grab masuk ke kantor aja itu juga agak jauh ya karena kantorku di gedung perkantoran,” kata dia.
“Pernah waktu itu aku masih pakai sepatu yang solnya tipis banget. Pulang pulang, kakiku kayak butuh refleksi dan kayak kapalan kakinya, padahal masih di kantor. Makanya, aku memutuskan beli sepatu,” kata dia menambahkan.
Maka dari itu, Ruth merelakan 20 persen dari UMP Jogja untuk membeli sepatu baru, yakni sekitar Rp500 ribu. Memang, dalam konversi gaji Jakarta, besaran tersebut hanya mencapai 8 persen.
Namun, Ruth mengaku, tidak terbiasa mengeluarkan uang dalam nominal tersebut untuk pembelian. Ini membuatnya merasa sepatu tersebut sebagai barang mewah, ataupun termahal yang pernah dibelinya sendiri.
“Kenapa harus sepatu yang itu? Soalnya aku ngubek-ngubek review buat orang plus size dan emang sepatu ini yang nyokong banget. Jujur shock sama harganya, tapi dari situ aku belajar ada harga ada kualitas,” kata dia.
Gaji besar bikin lebih bahagia karena bisa foya-foya
Selain memberikan dirinya kesempatan untuk membeli sepatu mahal dengan uang saku magang di Jakarta, Ruth juga mengakui bahwa dia merasa tidak terbebani dalam menghabiskan uang saku selama berada di Jakarta.
Dirinya menggunakan sebagian besar uang untuk mengeksplorasi makanan yang tidak ditemukan di Jogja, meski terkadang kembali lagi ke makanan Jogja.
“Karena aku sukanya makan, uang Magang Hub-ku, aku buat eksplor makanan di Jakarta yang nggak ada di Jogja. Walaupun, kadang aku balik makan makanan dari Jogja yang buka cabang di Jakarta,” kata dia.
Dia juga menggunakan uang saku yang diterima untuk jalan-jalan menyusuri Jakarta bersama pemagang lain. Ruth beralasan, untuk memperkuat ikatan atau bonding dengan teman-temannya.
“Tapi, akhir-akhir ini keluar karena aku pergi jalan-jalan sama teman-teman magangku. Bonding,” kata dia.
Barulah, sisa uang tersebut digunakan Ruth untuk kebutuhan lainnya, seperti cicilan. Ia berencana, melakukan pengaturan bujet untuk perawatan diri dan menabung ke depannya.
“Sisanya ya buat sehari-hari sama bayar cicilan,” kata dia.
“Kalau akhir-akhir ini sih baru mau beralih budgeting buat perawatan diri sama nabung. Sedang diusahakan pakai banget bagian nabungnya,” tambahnya.
Ruth bilang, ia ingin membeli barang lain yang bernilai “mahal” seperti iPhone ke depannya. Ia melihat bahwa ada nilai sosial yang dibawa ponsel berlogo apel tersebut, seperti yang digunakan teman-temannya.
Namun ia juga menyadari, harga iPhone membuat target pembelian tersebut menjadi prioritas kesekian untuk saat ini.
“Jujur banget pengin iPhone ya agar seperti teman-temanku, tapi kalau diliat-liat karena aku gak dikasih uang saku kayaknya iPhone akan jadi prioritas kesekian kalau udah jadi kartap (karyawan tetap) aja deh. iPhone juga menurutku sepenting itu karena rata-rata orang pakai iPhone dan abis foto-foto pakai airdrop,” tutup dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
