Bagi Gani (27), angka Rp5,2 juta di surat kontrak kerjanya pada tahun 2025 lalu terlihat seperti tiket menuju financial freedom. Saat itu, ia baru saja diterima bekerja sebagai staf gudang di sebuah perusahaan pengiriman di Jakarta.
Wajar saja Gani begitu kegirangan. Sejak lulus kuliah di Jogja pada tahun 2022, nasib karirnya tidak menentu. Ia banyak bekerja lepas (freelance) dengan penghasilan yang tidak pernah menyentuh Rp3 juta sebulan.
Ia bahkan sempat menyerah dan pulang kampung untuk menjadi staf honorer di kelurahan, di mana ia hanya diupah Rp900 ribu sebulan.
Maka, ketika tahu gajinya di Jakarta mencapai lima kali lipat dari upahnya di desa, bayangan Gani langsung melayang jauh. Di kepalanya, ia sudah bisa membayangkan hidup nyaman, makan enak, menabung banyak, dan membanggakan orang tua.
“Siapa coba yang tidak kaget diterima kerja dengan gaji 5 juta,” kata dia, Sabtu (14/3/2026).
Namun, euforia itu ternyata tak berumur panjang. Jakarta punya cara sendiri untuk menyadarkan para pendatang baru betapa keras dan mahalnya kota ini.
“Kalkulator” Jakarta jauh berbeda dengan di desa
Gani baru sadar bahwa angka Rp5,2 juta di Jakarta sama sekali bukan nominal yang besar. Pasalnya, gaji itu langsung menyusut drastis begitu dipotong biaya kos yang harganya Rp900 meski kamarnya sempit.
Belum lagi uang bensin untuk menembus macetnya jalanan, biaya makan tiga kali sehari yang harganya dua kali lipat lebih mahal dari Jogja, serta printilan kebutuhan sehari-hari lainnya.
“Paling hemat sehari habis 50 ribu, tapi itu sudah pencapaian luar biasa. Soalnya normalnya ya 70 kalau nggak 80 ribu,” ungkapnya. “Dikali 30 sudah berapa?”
Alih-alih menabung, untuk bisa bertahan hidup sampai akhir bulan saja sudah menjadi prestasi tersendiri bagi Gani.
Penderitaan paling terasa biasanya muncul di minggu ketiga. Sebab, Gani harus mentransfer uang agak banyak untuk kebutuhan orang tuanya di desa.
“Biasanya minggu ketiga itu sudah masuk mode bertahan hidup. Apa saja dimakan yang penting kenyang,” ujarnya sambil tertawa.
Pernah hidup dengan Rp60 ribu untuk seminggu
Pernah suatu ketika, persis seminggu sebelum tanggal gajian, ibunya menelepon mengabarkan bahwa atap dapur di rumahnya bocor parah dan butuh biaya perbaikan secepatnya.
Sebagai anak laki-laki yang dianggap sudah mapan di Jakarta, Gani merasa punya beban moral. Ia pun nekat menguras sisa saldonya dan mentransfer uang sebesar satu juta ke kampung, menyisakan uang tunai yang tak seberapa di dompetnya.
“Tapi tololnya, sebelum transfer aku nggak ngecek saldo dulu. Ternyata tinggal 60 ribuan,” kata Gani.
Akibat keputusannya itu, ia pun harus bertahan hidup selama tujuh hari di Jakarta hanya dengan uang Rp60 ribu. Agar tidak mati kelaparan, ia harus memutar otak.
Mislanya, sarapan tidak lagi masuk dalam jadwal hariannya. Untuk makan siang dan malam, Gani biasanya hanya membeli sebungkus mi instan yang ia rebus di magic com kosan, atau pergi ke warteg paling murah untuk membeli nasi putih dengan lauk sepotong tempe dan siraman kuah sayur gratisan.
Baca halaman selanjutnya…
Dapat gaji Rp5 juta di Jakarta, dianggap sultan di desa
Sialnya, penderitaan Gani di Jakarta berbanding terbalik dengan ekspektasi orang-orang di kampung halamannya. Di desa, kabar soal Gani yang kerja di Jakarta dengan gaji lima jutaan sudah menyebar.
Bagi orang desa yang standard kebutuhan hidupnya murah, lima juta adalah uang yang sangat besar. Gani kadung mendapat sematan “sultan” dan dianggap sudah sukses besar.
“Tanda kita dianggap sultan itu, kalau tiba-tiba ada tetangga WA, ‘bos, bisa pinjam seratus nggak?’ dan itu kejadian tiap hari,” kata dia.
Gani bukannya diam saja. Berkali-kali ia mencoba menjelaskan kepada kerabat dan tetangganya bahwa hidup di Jakarta itu keras. Gaji lima juta di ibu kota itu ibarat cuma numpang lewat. Sayangnya, penjelasan Gani sering kali dianggap angin lalu.
“Tapi ya namanya orang desa, tahunya lima juta ya uang besar. Tiap kali aku bilang lagi nggak pegang uang atau nggak bisa ngutangin atau nyumbang banyak pas ada acara, mereka nggak percaya. Ujung-ujungnya aku malah dituduh pelit.”
Padahal, motor saja tidak pernah ganti
Tuduhan pelit dan perbandingan status sosial itu paling terasa jika diukur dari barang bawaan. Ini menjadi kisah yang paling unik sekaligus menyebalkan bagi Gani.
Sejak masa kuliah di tahun 2021, Gani belum pernah mengganti sepeda motornya. Honda Vario miliknya sebenarnya sudah tidak terlalu prima. Tarikannya sering berat dan bodinya sudah banyak goresan.
“Aku bukannya tidak mau ganti motor yang lebih keren. Tapi dari mana duitnya?” jelasnya.
Kondisi ini sering dijadikan bahan gunjingan di kampung. Tetangga sering membanding-bandingkan Gani dengan anak-anak perantau lain yang bekerja di Solo atau Semarang. Perantau di kota-kota yang biaya hidupnya lebih murah itu, rata-rata pulang kampung setiap Lebaran membawa motor keluaran terbaru.
“Liat tuh si A, kerjanya cuma di Semarang tapi pulangnya bawa motor yang baru. Masa kamu yang kerjanya di Jakarta gajinya lima juta lebih, motornya masih butut begitu,” ungkapnya, mengingat salah satu celetuk seorang tetangga.
Gani hanya bisa mengelus dada mendengar sindiran itu. Ia tahu betul realitas di baliknya. Tak sedikit dari teman-teman perantaunya itu yang hidupnya sama susahnya, atau bahkan lebih susah darinya.
Namun, demi memuaskan gengsi di mata tetangga desa, mereka nekat mengambil cicilan motor yang ujung-ujungnya membuat mereka diteror pihak leasing atau terjerat pinjaman online (pinjol).
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
