Meski sering diledek sebagai daerah pelosok, ngekos di Sewon, Bantul, justru menawarkan kenyamanan hidup. Biaya hidup murah, akses ke pusat Kota Jogja pun juga nggak jauh-jauh amat.
***
Bagi sebagian mahasiswa di Jogja, menyebut nama Bantul ibarat mengundang guyonan. Faris (22), seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) di Jogja, sudah kebal dengan hal itu.
Keputusannya ngekos di kawasan Sewon, Bantul, membuatnya kerap jadi sasaran empuk ledekan tongkrongan. Tempat tinggalnya sering dicap sebagai daerah antah berantah.
Stigma “keterbelakangan” seolah otomatis tersemat hanya karena ada kata Bantul di alamat kosnya. Apa pun berita miring, aneh, atau lucu soal Bantul, Faris pasti ikut kena roasting.
“Waktu kemarin ada berita orang-orang Bantul yang ketipu akun jualan iPhone itu, wah itu saya juga kena roasting, Mas,” ujar Faris, Selasa (15/9/2026).
Awalnya, Faris ngekos di Sewon sekadar ikut-ikutan kakak tingkat asal daerahnya yang menyewa kontrakan di sana. Jarak kos ke kampusnya sendiri sebetulnya agak jauh, sekitar 15-20 menit motoran.
Namun, setelah para seniornya lulus dan angkat kaki, Faris memilih menetap. Alasannya karena telanjur nyaman.
Dianggap tak ada tongkrongan
Karena dianggap tinggal di pelosok, Faris sering merasa dianaktirikan dalam urusan pergaulan. Kalau ada ajakan nongkrong, pendapat Faris nyaris tak pernah dimintai.
Keputusan selalu diambil sepihak oleh teman-temannya. Mereka selalu mengajak nongkrong di kafe-kafe Jogja kota atau sekalian meluncur ke utara di wilayah Sleman.
“Kayak udah dianggap, ‘dahlah, di Sewon pasti nggak tempat’ aja gitu,” kata Faris.
Faris mencoba menerka, dalam benak kawan-kawannya barangkali Sewon dipandang wilayah sepi yang minim hiburan. Jangankan acara-acara hiburan seperti gig musik akhir pekan, sekadar mal dan bioskop saja tidak ada di sana.
Memang, secara administratif, di Kabupaten Bantul tidak ada bangunan mal berdiri. Alhasil, kawasan Sewon dianggap cuma sebagai tempat orang rebahan dan tidur, bukan untuk bersosialisasi.
Padahal Sewon nggak jauh dari kota
Anggapan bahwa Sewon itu jauh dari mana-mana sering kali membuat Faris tersenyum geli. Setiap kali mengobrol dengan orang-orang yang indekos di Sleman atau pusat kota, Sewon selalu dibayangkan seperti beda dimensi ruang dan waktu.
Padahal, kalau mau fair, urusan akses geografis, kawasan ini justru sangat strategis.
Dari kos Faris, misalnya, cukup berkendara lima menit saja menyusuri Jalan Parangtritis, ia tahu-tahu sudah masuk Kecamatan Mergangsan, wilayah yang punya kampung turis Prawirotaman–dan secara administratif sudah masuk Kota Jogja.
Kampung Ramadhan Jogokariyan yang tersohor itu bahkan jauh lebih dekat dijangkau dari Sewon ketimbang dari Sleman.
“Bahkan nih kalau mau nonton bioskop, cuci mata ke mal, tinggal lurus terus ke arah kota nggak sampai setengah jam kok. Sewon tuh bukan Bantul yang ujung mepet Australia juga.”
Urusan tempat nongkrong pun tak kalah melimpah. Layaknya lanskap Jogja pada umumnya, di sepanjang jalan Sewon, terutama di sekitar kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, kedai kopi dan kafe bertebaran setiap beberapa ratus meter. Tempatnya pun asyik dan artsy.
Surga makanan dan kos Murah
Di balik rentetan ledekan teman-temannya, ada satu hal yang membuat Faris sadar bahwa ia menang banyak, yakni soal biaya hidup.
Kata dia, di Sewon, akses makanan masih sangat manusiawi. Mencari warung makan yang mematok harga sepuluh ribu rupiah untuk seporsi nasi lauk pauk plus segelas es teh bukanlah hal sulit.
Harga sewa kos-kosan pun sangat bersahabat. Faris kerap membandingkan tarif kamarnya dengan kos teman-temannya di Jogja kota atau Sleman. Untuk rentang harga yang sama, katakanlah Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan, fasilitas yang didapat di Sewon jauh lebih memadai.
Hal ini turut diamini oleh Trio. Alumnus ISI Jogja yang kini bekerja di sebuah perusahaan swasta di Solo ini masih ingat betul masa-masa keemasannya hidup di Sewon.
Bagi Trio, soal urusan perut dan atap untuk bernaung, tak ada tempat senyaman Sewon.
“Sejak saya masih kuliah dulu, ya Sewon itu surganya kuliner enak, murah, dan kos terjangkau,” kata alumnus ISI Jogja yang lulus pada 2016 ini.
Merayakan slow living dan warga yang hangat di Sewon
Lebih dari sekadar urusan kantong, Trio meromantisasi Sewon sebagai episentrum slow living yang ideal. Selama enam tahun merantau untuk kuliah di Jogja, ia menetap di sebuah kontrakan yang membaur langsung dengan perkampungan warga.
Di sanalah, di Sewon, ia merasakan betul definisi hidup yang tenteram.
Menurut Trio, warganya baik, tidak individualis, dan pemilik kontrakannya pun sangat mengayomi. Kehidupan bertetangganya begitu hidup.
Trio bercerita, beberapa kali dirinya jatuh sakit, warga sekitarlah yang pertama kali repot membantu. Saat tertimpa musibah, tetangga ikut turun tangan.
“Bahkan pernah, yang namanya roda ekonomi ya, keluarga saya itu lagi susah sehingga tak bisa membayar uang sewa kontrakan tepat waktu. Ditoleransi, katanya nggak masalah, kayak orang nggak nyari duit,” kata Trio.
Kedekatan yang organik itu membuat Trio merasa memiliki keluarga baru di tanah perantauan. Puncaknya terjadi ketika Trio akhirnya lulus kuliah dan harus pindah ke Solo untuk bekerja.
Di hari kepindahannya, Trio mendatangi rumah tetangganya di Sewon satu per satu, berpamitan sambil tak kuasa menahan air mata. Tinggal di daerah yang sering dihina itu ternyata memberinya kenangan paling hangat.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Alasan Saya Lebih Nyaman PP Satu Jam Solo-Jogja daripada Ngekos, karena Bikin Mental Lebih Sehat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
