Angga tak menampik, ada banyak pertanyaan yang ia terima ketika memutuskan kerja di Jogja untuk pertama kalinya di tahun 2021. Alasan utamanya karena ia pernah kerja di Jakarta.
Bagaimana pun, orang lain menganggap ibu kota adalah tempat terbaik untuk bekerja. Padahal, bagi Angga yang sudah pernah kerja di Jakarta selama satu tahun, ibu kota tak seindah itu. Memang benar UMR Jakarta merupakan yang paling tinggi di Indonesia, tapi rasanya materi itu tak cukup membuat Angga bahagia.
“Di Jakarta dulu aku mudah stres dan gampang capek karena harus bangun sangat pagi demi mengejar waktu agar tidak telat bekerja. Di sisi lain, pulangnya harus larut malam demi menghindari jam-jam macet di jalan,” kata Angga saat dihubungi Mojok, Kamis (26/3/2026).
Karena tidak sanggup menjalani rutinitas tersebut, Angga memilih jalan lain dengan mencari kerja di Jogja. Bagi Angga, Jogja lebih memberikan dia ketenangan. Ia tak perlu lagi buru-buru berangkat ke kantor atau harus pulang larut malam.
“Aku merasa Jogja sebagai kota yang pas melanjutkan hidup. Di Jogja, semua berjalan tidak begitu cepat dan suasananya tidak begitu ramai,” ujar Angga.
Hidup tenang tapi harus jauh dari ibu
Kini, 4 tahun sudah Angga menjadi pekerja di Jogja. Selama itu, ia mengaku jarang pulang ke Jakarta. Malahan, keluarganya yang selalu menjenguk Angga di Jogja saat Lebaran. Sekalian berlibur katanya.
Waktu itu, keluarga Angga memang tidak seperti orang-orang kebanyakan yang mempertanyakan keputusannya merantau ke Jogja alih-alih cari kerja di Jakarta. Orang tuanya senang-senang saja karena Angga akhirnya mendapatkan kerja kembali.
“Yang penting bisa bekerja dan menghasilkan dengan baik,” kata Angga.
Begitu pula dengan teman maupun saudara-saudaranya yang tidak pernah merendahkan keputusannya. Bahkan mereka cukup kaget sekaligus senang karena Angga bisa mendapat peluang kerja di Jogja.
“Paling mereka hanya menyinggung soal berapa penghasilannya? Apakah bisa menghidupi diri dan membantu keluarga?” ujarnya.
Pertanyaan terakhir soal keluarga itu membuat Angga merenung. Memang benar kesehatan mentalnya jadi terjaga dengan bekerja di Jogja, tapi ia tetap khawatir karena harus jauh dari keluarga, terutama saat memikirkan ibunya yang semakin menua.
“Apalagi ibuku hanya tinggal dengan adik yang sekarang masih kuliah, belum lulus,” kata Angga.
Semuanya berubah setelah 4 tahun kerja di Jogja
Oleh karena itu, tahun 2026 ini Angga memutuskan pulang ke Jakarta sekadar melepaskan rasa rindu dan kekhawatirannya, walaupun ia jengkel juga dengan perjalanan dari Jogja ke Jakarta yang lama dan macet. Namun, hal itu tak jadi soal jika mengingat ibu dan adiknya.
“Tahun ini aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga sendiri di rumah, karena kebetulan saudara-saudaraku rumahnya jauh. Banyak yang di Bandung. Apalagi, kakek-nenekku juga sudah tidak ada jadi nggak ada yang dikunjungi saat Lebaran kemarin,” tutur Angga.
Akhirnya, Angga hanya menghabiskan waktu di rumah bersama ibu dan adiknya. Sesekali rumahnya dikunjungi oleh beberapa saudara, tapi Angga cenderung menarik diri saat mereka mulai membahas topik tertentu.
Jauh dari respons pertama mereka yang mendukung karier Angga di Jogja, beberapa saudara Angga kini menanyakan hal-hal yang lebih spesifik hingga membuatnya tersinggung.
“Meskipun sebetulnya mereka nggak berniat menyindir secara langsung, tapi ada perasaan tidak enak karena membahas pencapaian dari saudara-saudara lain,” kata Angga.
Tak hanya paman dan tantenya, ibunya pun jadi ikut-ikutan membandingkan penghasilan Angga dengan saudara-saudaranya. Dengan nada meledek, ia mengapresiasi Angga yang bisa mudik ke Jakarta bahkan membantu kebutuhan keluarga saat Lebaran dengan gajinya yang kecil.
“Kayak penghasilanku sekarang ini tuh sama seperti penghasilan di Jakarta 20 tahun lalu, karena ibuku masih ngantor di kawasan Sudirman,” kata Angga tertawa saat mengingat candaan ibunya.
Kalau sudah begitu, Angga lebih memilih melarikan diri dengan bermain bersama keponakannya atau melakukan kegiatan lain. Yang penting saat ini, dia masih bersyukur masih bisa kumpul dengan keluarganya di Jakarta, serta bisa hidup tenang di Jogja.
“Tapi nggak tahu lagi ya nanti, kalau ada peluang yang lebih bagus ya bakal aku gas!” kelakar Angga.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
