ADVERTISEMENT

Cat Sitter, Profesi Ideal Buat Menyambung Hidup di Tengah Sulitnya Cari Kerja bagi Sarjana

cat sitter, Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memiliki ijazah sarjana tidak selalu menjamin seseorang mudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak. Di tengah sulitnya bursa tenaga kerja hari ini, Anni (26) memilih jalan yang kerap dipandang sebelah mata oleh teman-temannya. Ia memutuskan menjadi cat sitter alias pengasuh kucing. 

Bagi sebagian orang, profesi ini dianggap tak sejalan dengan ekspektasi tinggi seorang sarjana. Namun, bagi Anni, pekerjaan ini justru menjadi sumber penghasilan sekaligus rutinitas yang menyenangkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mencari kerja tetap.

ADVERTISEMENT

Berawal dari rutinitas sebagai cat lovers

Pekerjaan menjadi cat sitter sebenarnya berawal dari kebiasaan Anni dua tahun lalu. Saat masih berstatus mahasiswa, ia kerap dititipi kucing peliharaan oleh tetangga kosnya. 

Jika ada penghuni kos yang harus pergi ke luar kota selama beberapa hari, Anni yang secara sukarela bertugas menjaga hewan-hewan tersebut. 

Sebagai pencinta kucing yang tidak bisa membawa peliharaannya dari kampung halaman ke tanah rantau, ia sama sekali tak keberatan. Mengurus hewan peliharaan milik tetangga justru menjadi hiburan tersendiri baginya di sela-sela rutinitas kuliah.

“Jadi dulu itu senang aja dititipin kucing, karena jadi ada temennya,” kata Annie, Selasa (3/11/2026).

Menjadi cat sitter karena setelah lulus kuliah susah cari kerja

Pikiran untuk menjadikan kebiasaan ini sebagai jasa berbayar baru muncul setelah ia lulus kuliah. Anni menghadapi kenyataan bahwa mencari pekerjaan tidaklah mudah. Banyak berkas lamarannya yang tak kunjung mendapat panggilan wawancara. 

Di saat yang sama, ia melihat jasa penitipan dan perawatan kucing sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Ia kemudian iseng membuat pamflet digital dan menyebarkannya di platform X (Twitter). 

“Ternyata, banyak pemilik kucing yang tertarik menggunakan jasaku,” jelas Anni.

Agar tidak kewalahan, Anni membatasi layanan hanya untuk klien yang berdomisili di sekitar Kabupaten Sleman. Ia memanfaatkan kamar kosnya yang terbilang luas untuk menampung beberapa kucing yang menginap. 

ADVERTISEMENT

Selain itu, ia juga menggunakan kandang-kandang tak terpakai milik teman kosnya yang sudah lulus dan pindah. Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, Anni bisa memulai jasa penitipan ini tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk membeli peralatan baru.

Upah sangat pas untuk beban kerja yang nggak berat-berat amat

Banyak yang mengira pekerjaan merawat kucing orang lain itu berat dan merepotkan. Seorang cat sitter harus memastikan asupan makanan hewan tercukupi tepat waktu, menjaga agar kucing tidak stres di lingkungan baru, hingga rutin membuang dan membersihkan kotorannya dari bak pasir. 

Namun bagi Anni, deretan tugas tersebut adalah hal lumrah yang biasa dilakukan oleh setiap pemilik hewan.

Tidak ada perbedaan perlakuan antara merawat kucing sendiri di rumah dengan merawat kucing milik orang lain. Perhatian dan perasaannya tetap sama. Ia mengaku selalu menikmati prosesnya. 

“Itu mah hari-hari para pemilik kucing. Kalau cuma nyerok kotoran nggak berat, jadi rutinan cat lovers,” jelasnya.

Terlebih lagi, selama menjalankan jasa penitipan ini, Anni beruntung karena belum pernah mendapat titipan kucing yang rewel atau bertingkah agresif. Semuanya bisa ia tangani dengan baik layaknya hewan peliharaan sendiri.

Menjadi cat sitter bisa buat menyambung hidup asal ditelateni

Dari segi ekonomi, profesi ini memberikan kompensasi yang sangat sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Anni mematok tarif inap sebesar Rp50 ribu per kucing untuk satu malam. 

Tarif ini murni hanya untuk jasa perawatan dan penyediaan tempat. Untuk urusan kebutuhan pokok hewan, pemilik kucing wajib membawa sendiri pakan, pasir, dan camilan hewan peliharaan mereka selama masa penitipan. 

Aturan ini memudahkan Anni karena ia tidak perlu menanggung risiko kucing yang tidak cocok dengan merek makanan tertentu.

Selain layanan menginap di kos, Anni juga melayani jasa kunjungan atau visit. Ia datang langsung ke rumah klien untuk mengurus kucing peliharaan yang ditinggal bepergian. Pekerjaannya meliputi mengisi mangkuk pakan dan air minum, membersihkan kotak pasir, serta merekam video untuk melaporkan kondisi terbaru kucing kepada pemiliknya. 

“Kalau untuk visit, aku matok tarif Rp20 ribu saja per visit ke rumah.”

Berkat ketekunannya, Anni bisa mendapatkan penghasilan hampir dua juta rupiah dalam satu bulan. Jumlah ini mungkin terbilang kecil jika diukur dengan ekspektasi gaji penuh waktu di sebuah perusahaan besar. 

Namun, untuk ukuran pekerjaan sampingan yang memiliki jam kerja fleksibel, bayaran tersebut sangat ia syukuri.

Saat ini, Anni memang belum menjadikan cat sitter sebagai pekerjaan utamanya. Ada kalanya ia menolak pesanan jika jadwalnya berbenturan dengan pekerjaannya yang lain, seperti saat ia mendapat proyek lepas untuk ikut sebuah event. 

Meski begitu, profesi ini terbukti cukup buat menyambung hidupnya di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Anni yakin, dengan tingginya jumlah pencinta kucing di Yogyakarta, jika profesi ini ia tekuni secara penuh waktu–oleh siapa saja–penghasilannya bisa menembus standard Upah Minimum Regional (UMR) setempat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 November 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.