Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Ilustrasi - Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua (Mojok.co/Ega Fansuri)

Konon, anak pertama itu istimewa. Akan tapi, keistimewaan anak pertama juga disertai beban yang berlipat ganda dengan kehadiran anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Anak pertama perempuan bahkan diharuskan menjadi orang tua ketiga, bahkan mengambil alih tanggung jawab sepenuhnya.

Derita anak sulung yang dianggap selalu bisa diandalkan

Maria (22) mengalami perasaan ini. Ia merupakan anak pertama dalam keluarga. Status ini membuatnya harus menjadi anak yang dapat diandalkan, terlebih setelah kehadiran satu lagi anggota keluarganya.

Sebab, Maria bilang, ia dianggap sebagai anak yang lebih dulu hadir dan belajar. Perempuan ini diekspektasikan untuk lebih mengetahui dan memahami segalanya, sehingga dapat meneruskannya kepada sang adik.

“Kamu yang bisa mama andelin sekarang,” kata Maria meniru ucapan ibunya, ketika menyampaikan kepada Mojok, Minggu (3/5/2026).

Dalam istilah psikologi, hal semacam ini dikenal dengan istilah parentification. Artinya, menempatkan anak pertama sebagai orang dewasa dalam keluarga. 

Terapis pernikahan dan keluarga di California, Annie Wright, menjelaskan, fenomena ini menuntut anak untuk mencapai taraf pendewasaan yang tak seharusnya. Ia menekankan, orang tua seharusnya memegang peranan tanggung jawab penuh dalam keluarga, tanpa mengalihkan sebagian atau seluruh beban kepada anak sulung, seperti mengurus saudara lainnya.

Parentification itu ketika anak diharapkan untuk memenuhi kebutuhan atau perkembangan yang nggak sesuai usianya,” kata dia, dikutip dari Business Insider.

Padahal, anak pertama perempuan masih perlu belajar dan merasa sendirian

Tuntutan ini memunculkan perasaan yang tidak seharusnya muncul pada usia anak, hanya karena statusnya sebagai anak pertama dalam keluarga. Maria bilang, ia juga merasa harus belajar banyak karena tuntutan ini.

Dalam situasi itu, Maria lebih banyak belajar sendiri.

Namun selanjutnya, Maria diminta untuk mengajari.

“Belajarnya juga mandiri. Banyak kali mandiri,” kata Maria.

Beban ini menjadi ekstra dengan tambahan statusnya bukan hanya sebagai anak pertama, tetapi anak perempuan pertama. Ekspektasi yang diterimanya meningkat drastis. Ia dibayangkan dapat lebih tahu dan memiliki jiwa keibuan.

Profesor Sosiologi di Inggris, Yang Hu, menjelaskan bahwa salah satu alasan tekanan ini menjadi lebih berat pada anak perempuan pertama adalah kondisi ibu sebagai perempuan pekerja. Alhasil, ibu tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, kemudian menyerahkan tanggung jawabnya kepada anak perempuan pertama karena ekspektasi gender.

Psikoterapis di salah satu organisasi di Inggris yang bernama NHS Foundation Trust, Paris Capleton, menjelaskan bahwa situasi ini akan menyulitkan anak perempuan pertama untuk meminta pertolongan, bahkan ketika membutuhkan. Inilah salah satunya yang disebut sebagai eldest daughter syndrome

Mereka merasa sendirian sebab mengira bahwa tidak ada yang dapat menolongnya. Padahal, kata dia, mereka hanya terbiasa tumbuh tanpa meminta tolong.

Khas anak pertama, mereka terbiasa melakukan segalanya sendiri.

“Orang mungkin memandang kamu dan berpikir kamu bijaksana atau sangat mandiri untuk usiamu, tanpa sadar kalau itu karena kamu dipaksa atau kehilangan masa kecilmu,” jelasnya, dikutip dari Business Insider. 

Dibebankan keharusan mampu meringankan tanggung jawab orang tua dalam keluarga

Salah satu dampak dari tekanan terhadap anak pertama adalah perasaan tanggung jawab yang berlebihan, bahkan sedari usia muda. Capleton menerangkan, tanggung jawab ini berkaitan dengan urusan rumah tangga.

Misal, keharusan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mengantar saudara kandung ke sekolah, memasak, hingga membersihkan rumah. Contoh lain, menyangkut emosional, seperti merawat orang tua dan saudara kandung, menjadi tempat bercerta di rumah, hingga menengahi konflik keluarga.

Apabila tidak dilakukan, bukan tidak mungkin perasaan bersalah akan muncul mengingat tanggung jawab sebagai anak sulung.

“Hal ini bisa menyebabkan perasaan sangat bersalah ketika kamu gagal memenuhi kebutuhan semua orang atau bertindak melawan apa yang diharapkan,” kata dia.

Menurut Maria, tuntutan semacam itu ada benarnya. Ia diharapkan dapat mengasuh sang adik, termasuk mengajarkan hal-hal yang tidak diberitahukan orang tuanya kepadanya.

“Nanti kalau adiknya sudah melalui fase yang sama, kita disuruh ngajarin. Padahal, dulu nggak ada yang ngajarin,” kata Maria.

Namun demikian, ia mengatakan berusaha menerima. Ia etap menyayangi keluarganya. Maria mencoba menempatkan, setidaknya, untuk memahami bahwa dirinya dan kedua orang tuanya hanya sama-sama sedang belajar dalam kehidupan pertama mereka.

“Tapi, despite everything, nggak pernah iri sama adik atau benci sama orang tua. Rasanya ngerti aja karena ya sama-sama belajar dalam hidup,” tutup dia.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version