Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

ilustrasi - sulitnya jadi avoidant di usia 25. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Avoidant merupakan salah satu gaya keterikatan (attachment style) dalam psikologi yang diperkenalkan pertama kali oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth. Konsep ini membantu memahami hubungan antar manusia baik di keluarga, teman, maupun pasangan.

Dengan memahami perilaku diri sendiri atau orang lain, hubungan akan lebih sehat dan harmonis. Namun, orang yang berhubungan dengan tipe avoidant biasanya akan lebih kesulitan. Attachment style jenis ini sering kali dianggap menantang sebab cirinya yang membingungkan. 

Individu dengan gaya menghindar atau avoidant cenderung menjauh dari kedekatan emosional. Ketika ada orang yang mencoba mendekatinya, ia malah menghindar karena takut dengan keterikatan yang terlalu intim. Misalnya, menjaga jarak, sulit membuka perasaannya ke orang lain, atau menarik diri saat hubungannya sudah mulai serius.

Sikap menjauh bukan berarti ia tidak suka didekati. Terkadang, mereka hanya kesulitan dalam mengekspresikan emosi, membangun kepercayaan dalam hubungan, dan mengutamakan kemandirian. Makanya, banyak orang yang merasa lelah bahkan menyerah untuk berhubungan dengan avoidant.

John Bowlby dan Mary Ainsworth menjelaskan attachment style ini terbentuk dari pengalaman masa kecil lewat cara individu berinteraksi dengan orang tua atau pengasuh utama. Pengalaman itu pada akhirnya mempengaruhi cara mereka dalam membangun kedekatan, mengelola emosi, dan merespons kebutuhan orang lain.

Pikiran kontras di kepala avoidant

Sebagai avoidant, Izza berujar attachment style ini terbentuk dari pola asuh orang tuanya sejak kecil. Orang tuanya yang sibuk bekerja, seringkali menitipkan Izza ke tetangganya. Dari situlah orang tuanya berpesan, ‘jangan nakal, jangan merepotkan’.

Pada akhirnya, Izza pun takut meminta bantuan. Ketika sudah berani meminta tolong, ia malah berujung kecewa. Tanpa ia sadari, hidupnya jadi terbiasa mandiri atau harus bisa melakukannya semuanya sendiri. 

Menjelang usia 25, aku jadi nyaman kemana-mana sendiri dan bebas bisa melakukan apa saja. Nggak harus bergantung sama orang lain,” kata Izza saat dihubungi Mojok, Jumat (24/4/2026).

Walaupun sering terlihat sendiri, Izza mengaku bukan berarti tak punya teman. Justru dengan nongkrong atau pergi ke acara sendirian, Izza bisa berkenalan dan mendapatkan teman baru. Hanya saja, hubungan itu tidak terlalu “dalam”.

“Kadang aku nggak suka dan malah nggak nyaman dengan keintiman yang terjadi. Bukan karena mereka berbuat salah, tapi bagiku, kedekatan itu sendiri terasa asing dan bikin rentan,” kata Izza.

Avoidant sering disalahpahami orang lain

Sialnya, orang lain seringkali salah memahami kalau individu dengan avoidant attachment punya kepribadian tidak peduli, sulit berkomitmen, atau kurang responsif secara emosional. 

“Bahkan aku pernah dikatain sama temanku, karena dia merasa aku adalah teman dekatnya alias sahabat. Sedangkan aku merasa biasa saja sama dia, nggak yang bestie banget. Nah, waktu diajak keluar aku juga sering menolak dan lebih nyaman pergi sendiri,” ucap Izza.

Izza sendiri mafhum, walaupun merasa sedih. Bagaimana tidak, ia sendiri memahami kalau orang lain pasti jengkel semisal chat-nya dianggur selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tanpa ia sadar, ia pun menjadi pelaku ghosting.

Kalau sudah begitu, biasanya Izza akan membalas dengan seribu macam alasan kenapa tiba-tiba dirinya menghilang. Untungnya, Izza punya beberapa teman yang sudah memahami attachment style-nya. 

“Dan mereka biasanya maklum sih dengan sifatku yang avoidant. Suka nggak ada kabar sama sekali, terus tiba-tiba mucul dengan muka watados seakan-akan tidak terjadi apapun,” ujar Izza.

In this economy, avoidant makin takut menikah

Meski mewajari perilaku Izza, temannya sadar kalau avoidant tidak selamanya baik. Apalagi jika ada orang lain yang ingin mendekati Izza di usia menjelang 25. Izza sendiri bukannya tidak mau menikah, di sisi lain ia juga takut menjalin komitmen dengan orang lain. 

“Aku sempat mikir, kalau aku nggak pernah bisa bikin jalan relationship sama orang dan selalu gagal, kayaknya aku nggak bakal bisa nikah di masa depan. Lebih dari itu, aku lebih takut menikah sih,” ucapnya. 

Selain karena gayanya yang avoidant, Izza takut setelah melihat pengalaman dari orang-orang sekitarnya baik secara langsung maupun tidak. Misalnya, drama perselingkungan, perceraian, dibatasi dalam beraktivitas, kondisi ekonomi, dan sebagainya. 

“Sekarang prinsipku harus healing my self dulu baru bisa menjalani relationship sama orang,” kata Izza.

Lebih suka sendiri tapi bukan berarti tak peduli  

Saat ini, Izza lebih suka menikmati waktu sendiri karena merasa lebih aman kalau tidak dekat dengan siapa pun. Apalagi, dulu ia pernah punya pengalaman ditinggal atau ditolak tapi bukan berarti Izza nggak peduli dengan orang lain.

“Aku ingin terhubung sebenarnya, tapi juga takut dengan konsekuensi dari kedekatan itu sendiri. Jadi ada semacam antisipasi kalau aku nggak terlalu dekat, aku juga nggak akan terlalu terluka,” kata Izza.

Apa yang dirasakan Izza dijelaskan oleh Dosen Psikologi Andrea Prita Purnama Ratri sebagai bentuk pertahanan diri. Lewat artikel berjudul “Avoidant Attachment: Mengapa Ada Orang yang Takut Terlalu Dekat?”, Prita berujar orang avoidant cenderung membatasi kebebasan atau hubungan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan psikologis

“Ini sebagai bentuk pertahanan diri dari pengalaman kecewa atau perasaan emosi yang mengancam,” kata Prita dilansir dari laman resmi Binus University, Jumat (24/4/2026).

Oleh karena itu, kata Prita, orang avoidant cenderung menekan emosi, menghindari pembicaraan yang bersifat personal, dan mengelola masalah secara mandiri. Namun, penelitian terbaru menyebutkan bahwa orang dengan gaya avoidant dapat berubah.

Seiring berkembangnya waktu, orang dapat meningkatkan kesadaran diri, memiliki pengalaman relasi yang aman, serta mau mencoba untuk berkomunikasi secara terbuka dan suportif. Prita menegaskan relasi yang sehat juga tidak menuntut kedekatan berlebihan maupun jarak emosional yang ekstrem melainkan keseimbangan antara kemandirian dan keterhubungan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Ghosting: Antara Perih Korban dan Kepuasan Pelakunya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version