Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Jadi Guru Honorer Bergaji Rp100 Ribu Tak Bikin Saya Lelah Mendidik Anak-anak Bangsa

Yemima Ken Suryandari oleh Yemima Ken Suryandari
8 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski sempat hanya dapat gaji Rp100 ribu, seorang guru honorer di Ciamis, Jawa Barat tetap tulus mengabdi sepenuh hati.

Menjadi guru adalah cita-cita Arianti (27) sejak SMA. Berawal dari keinginan sang ibu, serta latar belakang keluarga yang sebagian besar merupakan seorang guru, menjadi alasan Arianti mantap jadi seorang tenaga pendidik.

Impian itu akhirnya jadi kenyataan sejak Arianti lulus dari Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Setelah mendapat gelar Sarjana Pendidikan dan meraih predikat Cumlaude di tahun 2020, Arianti memilih untuk mengajar di salah satu TK yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ia mendaftar sebagai seorang guru honorer.

Sebelumnya, ia tak pernah sedikitpun membayangkan sebesar apa gaji guru honorer di TK.

Sempat terbesit minat untuk mengabdi jadi guru di wilayah 3T, namun harus ia urungkan. Sebab, Arianti ingin menuntaskan misi untuk meningkatkan kualitas mengajar di kampung halamannya terlebih dahulu. Meskipun berstatus sebagai guru honorer, tak lantas mengubah semangatnya untuk tetap menjadi seorang tenaga pendidik.

Tak kaget gaji guru honorer kecil

Gaji Arianti sebagai seorang guru honorer TK di Ciamis, Jawa Barat, jelas tidak sebanding dengan dedikasi yang ia berikan.

Ia harus mengajar mulai Senin hingga Sabtu dari pukul 08.00-10.00 WIB. Artinya, Arianti berkewajiban untuk mengajar selama 72 jam perbulannya.

“Nggak sebanding, sih, karena honorernya cuma dapat Rp100 ribu perbulan,” ujar guru honorer muda itu, saat saya ajak berbincang pada Selasa (1/10/2024) sore WIB.

Keadaan ini sebenarnya tak membuat Arianti kaget. Karena ia paham bagaimana umumnya kondisi guru muda yang masih berstatus honorer di kabupatennya.

Jadi guru honorer sepenuh hati

Alih-alih mengeluh karena mendapat gaji yang jauh di bawah UMK, Arianti tetap berpegang teguh pada prinsipnya: menjadi pendidik yang profesional untuk para anak didiknya.

Dedikasinya di bidang pendidikan ia tunjukkan melalui perannya sebagai seorang guru yang cakap bagi murid-muridnya. Selama kurang lebih empat tahun mengajar di TK, Arianti sadar betul menjadi guru adalah sebuah panggilan hati. Terlepas dari apapun kondisinya.

“Tantangan banget waktu menghadapi anak berkebutuhan khusus yang lagi tantrum. Ditambah orang tuanya tidak mengakui bahwa anaknya berkebutuhan khusus,” keluhnya.

Dengan sepenuh hati, ia tetap mengemban tugasnya sebagai wali kelas yang bertanggungjawab dengan menyamaratakan pembimbingan kepada anak berkebutuhan khusus, walaupun tanpa adanya dukungan yang mumpuni dari sekolah maupun tenaga profesional (psikolog).

Di sela-sela obrolan kami petang itu, saya sempat bertanya, “Apakah ada hal lain yang ingin dicapai setelah menjadi seorang guru TK?”

Arianti dengan bangga menjawab ia ingin menjadi bagian dari UNICEF Indonesia yang nantinya bisa mengabdikan dirinya pada negeri ini, terkhusus mengambil peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak usia dini di Indonesia.

Tugas tambahan yang ugal-ugalan

Arianti adalah guru honorer paling muda di TK tempatnya mengajar. Hal itu membuatnya kerap dibebani tugas yang nggak relate dengan kewajibannya mengajar.

“Karena aku yang paling muda dan biasanya yang paling muda itu disebutnya pintar IT, jadi disuruh ngerjain pengisian administrasi sekolah,” ungkap Arianti.

“Pengisian survey lingkungan belajar juga aku yang ngerjain. Padahal sebenernya ngerjain bareng-bareng tuh gampang, tapi ini numpahin tugasnya ke aku sendiri,” tambahnya.

Selain tugas administrasi sekolah, Arianti sering mengerjakan tugas yang seharusnya tidak ia kerjakan. Pembuatan SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) yang umumnya dikerjakan oleh guru PNS, juga dibebankan kepadanya.

Meski begitu, Arianti tak pernah mengeluhkan bebannya pada guru lain karena ia menganggap ini semua adalah bagian dari pengabdian.

Ikut PPG agar dapat gaji yang sesuai

Karena gaji yang hanya Rp100 ribu dan sulitnya guru honorer TK sepertinya menjadi PNS, Arianti akhirnya mendaftar Program Profesi Guru (PPG) agar memiliki sertifikat pendidik.

Beruntungnya ia lolos pada Agustus 2023 lalu. Dengan memiliki sertifikat pendidik, ia berharap bisa memperoleh gaji dan tunjangan profesi yang sesuai dengan kualifikasinya.

“Setelah PPG tetap jadi guru honorer, tapi nantinya dapat tunjangan sertifikasi. Nah, karena aku honorer, jadi yang diterima pas sertifikasi itu perbulannya Rp1,5 juta, cairnya per tiga bulan,” jelas Arianti.

Di samping profesinya sebagai seorang guru honorer di sebuah TK, Arianti juga membuka les privat bagi anak-anak SD. Lumayan untuk tambah-tambahan pemasukan.

“Sekali pertemuan kadang dibayar Rp100 ribu satu anak. Kalau les yang barengan, muridnya banyak, pada ngasih Rp5 ribu kadang Rp10 ribu,” terang ibu satu anak itu.

“Bukan cuma dari les, bisa dari yang lain rezeki mah,” sambungnya.

Meski dalam himpitan kesulitan, Arianti mengaku sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang guru. Mengajar baginya adalah sebuah kesenangan yang tak ternilai harganya.

Penulis: Yemima Ken Suryandari
Editor: Muchamad Aly Reza

Liputan ini diproduksi oleh mahasiswa Magang Jurnalistik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta periode September 2024.

BACA JUGA: Guru Honorer Temanggung Totalitas dan Serius Ngajar meski Gaji Nggak Sampai Rp500 Ribu, Malah Dimusuhi karena Dianggap Bikin Repot Guru PNS Bergaji Lebih Besar tapi Nggak Niat Ngajar

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2024 oleh

Tags: cara dafrar pppkgaji guru honorerguru honorer
Yemima Ken Suryandari

Yemima Ken Suryandari

Artikel Terkait

guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki MOJOK.CO
Esai

Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

23 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.