Saat mengayuh sepeda kargo dengan muatan buku seberat 40 kilogram, Edi Dimyati sering menjadi sorotan warga di sekitaran Jakarta Timur. Apalagi, baju yang dia pakai tampak mencolok dengan warna oranye dan model coverall. Tak pelak, pemuda lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) itu sering dikira petugas PLN, pekerja konstruksi, montir, sampai pegawai Pertamina.
Kenangan bersama Majalah Bobo dan komik karya Tatang S
Menepis dugaan di atas, Edi adalah pegiat literasi sekaligus pustakawan yang tinggal di kawasan pinggir Jakarta Timur. Ia berujar kecintaannya terhadap buku sudah ada sejak kecil. Melihat Edi yang tahan membaca buku berlama-lama, bikin orang tuanya langganan majalah Bobo tiap minggunya. Dari sana, Edi dapat menyerap berbagai pengetahuan umum baik berupa komik maupun kuis.
“Nah, biasanya di halaman tengah itu ada kuis pelajaran kelas 1-6 SD dan diselesaikan bersama-sama dengan orang tua. Jadi ada pendampingan juga,” kata Edi.
Lewat kebiasaan tersebut, Edi punya keinginan untuk membuat perpustakaan pribadi. Ide itu muncul saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Edi bahkan sering menyewakan buku-bukunya di sekolah. Selain berbagi ilmu, Edi juga dapat uang jajan dari sana.

“Dulu, yang paling banyak disewa itu seperti komik karya Tatang Suhenra,” ujar Edi mengenang masa kecilnya.
Keberadaan perpustakaan umum untuk mengakses buku gratis, kata Edi, dulu masih langka. Tak pelak, jasa sewanya pun diminati banyak orang. Bahkan, upahnya bisa ditabung kembali untuk membeli buku baru.
“Kalaupun ada, cuma satu dan itu jauh dari tempat tinggal saya di Kampung Melayu, Jakarta Timur atau saya harus pergi ke Gramedia Matraman yang sudah cukup populer,” ucap Edi.
Akses baca buku gratis di Jakarta Timur masih terbatas
Kebiasaan membaca itu tetap berlanjut saat Edi duduk di bangku SMA, Jakarta Timur. Bahkan, ia sering nongkrong di sebuah perpustakaan swasembada tempat pamannya bekerja. Dari situlah Edi berpikir, betapa nikmatnya bisa kerja di perpustakaan dan membaca buku secara gratis.
“Berkaca dari latar belakang paman saya yang kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, saya pun mengikuti jejaknya,” kata Edi yang akhirnya diterima di Universitas Padjadjaran (Unpad) tahun 1996.
Tapi sebetulnya, Jurusan Ilmu Perpustakaan adalah pilihan ketiganya. Edi yang tergolong siswa jurusan IPA itu awalnya memilih Jurusan Kimia dan Penerbangan di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, ia malah diterima di Jurusan Ilmu Perpustakaan Unpad yang notabenenya masuk peminatan IPS. Meski ada sedikit rasa kecewa, Edi tetap bersyukur karena jurusan itu masih dalam kategori ilmu yang ia sukai.
“Saat kuliah, saya kira cuma diajari menyampul buku, bikin label dan katalog, sama tata cara menata buku di rak. Eh ternyata dengan baca buku itu kami seperti memegang informasi penting dan mahal. Ketika orang masih bingung mau mencari informasi dan nggak ada, kami yang jual,” ujar Edi bangga.
“Oleh karena itu, bagi saya, tugas pustakawan ibarat mengurai benang kusut. Setelah terurai, kami merasa menang dan menjual informasi mahal yang akan dibeli orang,” jelas lulusan Unpad tahun 2001 itu yang kemudian kembali ke tempat tinggalnya di Jakarta Timur.
Buka perpustakaan dan les gratis di Jakarta Timur
Setelah lulus kuliah dari Unpad, Edi berharap bisa bekerja di media, karena ia yakin banyak lulusan dari Jurusan Ilmu Perpustakaan yang akan memadati bidang tersebut. Apalagi, mereka punya ilmu pengetahuan yang lebih banyak.
“Bahkan seandainya kalau saya diterima jadi office boy pun saya mau, asal kerjanya di media yang ada perpustakaannya. Yang penting, bisa mengakses buku secara gratis,” tegas Edi.
Tapi pada akhirnya, tepat di tahun 2010, Edi memilih jalan lain. Sesuatu yang jarang orang pikirkan sekaligus mimpi yang sebenarnya sudah ada sejak dia kecil, yakni membuat perpustakaan pribadi yang dapat diakses oleh umum.
Edi pun mendirikan Taman Baca Kampung Buku di rumahnya, Jalan Abdulrahman, Gang Rukun RT 15 RW No.56, Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, yang diapit oleh dua aliran sungai. Setidaknya, ada 4 ribu lebih buku bacaan mulai dari anak-anak hingga dewasa yang Edi sediakan.
“Mereka bisa baca di tempat atau meminjam secara gratis dengan jangka waktu 2 minggu. Nggak perlu pakai kartu anggota, nanti malah ribet,” jelas Edi yang tidak takut jika bukunya hilang tak kembali.
Selain meminjamkan buku secara gratis, Edi dan istrinya juga membuka ruang diskusi dan tempat belajar non formal tanpa biaya sepeser pun, “anak-anak biasanya ke sini sore saat weekdays,” kata Edi membeberkan fungsi ruangan di lantai 2.
Sesekali Edi juga jemput bola ke sekolah-sekolah untuk menanamkan budaya literasi ke para siswa. Kegiatan itu ia lakoni bersama sepeda yang ia sulap menjadi sepeda kargo baca pada tahun 2017. Sembari gowes dan membawa ratusan buku, Edi siap menghibur anak-anak dengan buku.
Mengalahkan kemalasan dalam diri
Tak bisa dipungkiri, sejak 2010 hingga sekarang, Edi pernah mengalami masa pasang surut, khususnya dalam menghadapi dirinya sendiri. Sesekali, Edi pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Bahkan ibunya pun bertanya-tanya untuk apa Edi melakukan semua ini?
Namun Edi tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa pendidikan seharusnya dapat diakses gratis oleh semua orang. Jangan sampai ada orang yang merasa terbebani untuk membeli buku bacaan karena mahal.
“Pemerintah mau meningkatkan minat baca, tapi buku-bukunya mahal karena pajak, harga kertas, dan faktor lainnya. Makanya sebagai pemustaka sekaligus pembaca, saya memberi pilihan lain bahwa mengakses buku bisa dilakukan dengan pergi ke perpustakaan atau ke tempat saya (Taman Baca Kampung Buku),”
“Walaupun tetap harus bayar ongkos perjalanan kalau pakai transportasi umum,” kelakar Edi.
Perlahan-lahan, masyarakat pun mulai mengenal Edi baik dari Taman Baca Kampung Buku miliknya di Jakarta Timur dan aktivitasnya menggunakan sepeda kargo bacanya dengan baju khas coverall-nya. Rumahnya pun mulai ramai dikunjungi masyarakat umum, tak terkecuali oleh emak-emak, teman dari ibunya yang sempat ragu dengan niatnya. Kini, Edi bisa tersenyum sumringah.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan