Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

Ilustrasi - Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Setelah menuntaskan pendidikan di University of Edinburgh, Skotlandia, Malika Rizqi Anindita memutuskan pulang ke Indonesia untuk membangun bisnis. Hasilnya, lahirlah sebuah brand tas kerja lokal dan keterlibatannya dalam pemberdayaan perempuan. 

***

Sejak SMP, Malika—sapaan akrabnya—memang sudah akrab dengan aktivitas berjualan di sela kesibukan mengerjakan tugas. Kebiasaan itu kemudian ia bawa hingga kuliah S1 Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogja. 

Di tengah kesibukan antara kuliah Teknik Sipil—yang berhubungan dengan konstruksi—dan aktivitas jualan, perempuan asal Bandung tersebut lantas mulai bertanya ke diri sendiri: jalan mana yang sebenarnya ingin ia pilih? Dari situlah, keseriusan untuk menggeluti dunia bisnis mulai tumbuh dalam diri Malika. 

Belajar bisnis hingga kuliah di University of Edinburgh Skotlandia

Keseriusan Malika untuk belajar bisnis ditunjukkan dengan upayanya melanjutkan pendidikan di bidang bisnis. 

Pada 2014, Malika mulai mencari-cari informasi soal beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Saat itu informasi tentang Beasiswa LPDP memang belum semudah sekarang.

Malika sendiri akhirnya mengetahui Beasiswa LPDP lewat cerita dari para senior yang lebih dulu berangkat studi ke luar negeri. Setelah mempelajari dan mendaftar, pada 2015 Malika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi magister program Entrepreneurship and Innovation di University of Edinburgh, Skotlandia.

Kuliah di University of Edinburgh, Skotlandia, benar-benar memenuhi ekspektasi Malika. Sebab, di sana, pendekatan belajar membuatnya memiliki cara pandang yang lebih luas. 

“Kalau di UK itu lebih ke critical thinking, banyak esai-esai. Sedangkan saya sebelumnya di Teknik Sipil benar-benar eksak, menghitung dengan rumus. Kalau bisnis tidak seperti itu. Jadi metode pembelajarannya berbeda,” tutur Malika seperti diungkapkan dalam laman resmi Beasiswa LPDP tentang para Awardee. 

Di University of Edinburgh, kata Malika, jawaban tidak selalu tentang benar atau salah. Mahasiswa justru dituntut mengembangkan argumen, menulis esai, mempertahankan analisis, dan membangun sudut pandang. Ia belajar melihat persoalan dari berbagai sisi. 

“Saya pun memahami bahwa bisnis bukan sekadar menjual produk, melainkan memahami manusia,” ungkap Malika. 

Pulang University of Edinburgh Skotlandia, rintis bisnis brand tas kerja

Selepas menuntaskan masa kuliah di University of Edinburgh, Skotlandia, Malika memang tidak langsung pulang ke Indonesia. Ia memilih mengikuti magang singkat selama tiga bulan di sebuah startup di Inggris, karena memang Kurikulum di kampusnya memang memberi kesempatan mahasiswa terjun langsung ke dunia usaha.

Pengalaman pertama menjajal dunia profesional di luar negeri tersebut tentu saja menjadi pengalaman berharga bagi Malika. 

Sepulang ke tanah air, cerita dimulai saat bertemu dengan sahabat lamanya sejak bangku SMP. Dari percakapan-percakapan sederhana, lahirlah gagasan membangun bisnis brand tas lokal bernama Yourkalle.

Malika Rizky Aninditha: Awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal ternama MOJOK.CO
Malika Rizky Aninditha: Awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal ternama. (Dok. LPDP)

Produk tersebut dipilih karena pengalaman sebagai reseller tas sejak masa kuliah memberinya perspektif yang unik tentang pasar. Malika melihat, tas laptop dan tas kerja di masa itu banyak dirancang untuk laki-laki. Pilihan untuk pelajar dan mahasiswa juga melimpah. Sementara pilihan untuk perempuan profesional jauh lebih terbatas.

“Saya melihat ada gap. Tas laptop sudah banyak untuk laki-laki, banyak untuk anak-anak kuliahan, tapi saat itu untuk wanita karier belum ada. Jadi saya melihat ada gap itu, lalu memutuskan untuk membangun Yourkalle,” ujarnya.

Dari situlah, lahir ide bisnis tas kerja lokal yang tetap stylish, fungsional, dan sesuai dengan kebutuhan perempuan modern.

Monday to Sunday, Work to Play, filosofi di balik bisnis tas kerja Malika

Membangun usaha dari nol ternyata jauh lebih sulit dibandingkan menemukan idenya. Malika dan tim harus berkeliling mencari penjahit yang mampu menghasilkan kualitas sesuai standar yang mereka inginkan. 

“Kita sampai blusukan ke gang-gang di Bandung. Karena ternyata mencari penjahit yang benar-benar bagus itu cukup sulit,” kata Malika sambil tertawa mengenang masa-masa awal tersebut.

Mereka tidak ingin sekadar membuat tas. Mereka ingin menciptakan produk lokal yang kuat dari segi fungsi sekaligus menarik secara estetika. Dari situlah lahir filosofi yang hingga kini menjadi identitas Yourkalle: Monday to Sunday, Work to Play.

“Kita pengen bikin tas yang memang bisa dipakai dari Senin sampai Minggu. Mulai dari kerja sampai main-main itu masih cukup stylish. Secara look bagus, tapi functional juga.” terang Malika. 

Salah satu produk unggulannya bahkan dapat berubah fungsi dari tote bag menjadi backpack dengan tali yang bisa disembunyikan. Detail-detail seperti itu, kata Malika, lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan.

Dan memang hal itu menjadi salah satu pelajaran paling berharga yang didapat ketika mendampingi startup di Inggris: yakni pentingnya mengenali pelanggan secara rinci.

“Cara marketingnya itu dia benar-benar mencari tahu siapa market-nya. Profiling sampai detail. Dan itu yang saya berusaha terapkan di Yourkalle,” ujarnya.

Pelaku lokal selalu ada dalam kerangka bisnis pikirannya. Material utama dari Indonesia. Penjahit juga 100 persen lokal. Dustbag diambil dari UMKM di Bandung. Packaging juga sepenuhnya lokal.

Produk Yourkalle pun saat ini sudah tersedia di e-commerce dan telah terjual ribuan.

Terlibat pemberdayaan perempuan

Tidak berhenti di urusan bisnis, Malika juga turut membagi ilmu dan pengalamannya untuk para perempuan. 

Di antaranya, ia membantu menyusun modul dan memberikan pelatihan bagi ibu-ibu di Desa Cililin yang tergabung dalam Digital Mama agar mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha mereka.

Menurut Malika, kesempatan semacam itu perlu dibuka agar semakin banyak perempuan memiliki akses yang sama terhadap perkembangan ekonomi digital. 

Selain itu, kepada para perempuan, Malika selalu menekankan pentingnya pendidikan formal. Sebab, salah satu manfaat terbesar pendidikan formal adalah pengetahuan dan struktur berpikir. 

“Semakin tinggi pendidikan perempuan itu dapat mensejahterakan keluarga, meningkatkan perekonomian juga.” tegasnya. 

Yang jelas, brand tas kerja lokal yang Malika rintis kemudian tumbuh, membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan jaringan UMKM, serta memberi pengetahuan baru bagi para perempuan dalam mengembangkan usaha.

Sumber: Beasiswa LPDP

BACA JUGA: Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Exit mobile version