Menjadi staf kepala stasiun kereta api barangkali terdengar lebih nyaman, tetapi Rofiq Maskur (32) justru beralih sebagai petugas langsir KAI. Keputusan itu tak pernah dia sesali, meski harus kerja dengan rotasi tiga sif hingga cuaca ekstrem yang mengancam nyawa.
***
Hujan yang mulanya gerimis, tiba-tiba mengguyur deras Kota Jogja seiring dengan suara guntur yang bertalu-talu. Tak lama kemudian, suara petir langsung terdengar. Seolah ingin menyambar siapa saja yang berada di luar ruangan.
Rofiq Maskur selaku petugas langsir KAI yang sedang bertugas di lapangan sampai harus berlari kecil-kecil untuk mencari tempat berlindung. Jas hujan berwarna terang yang dia pakai pun seolah tak kuasa melindungi tubuh dan alat kerja yang dia bawa.
Meski sudah 15 tahun bekerja dan kerap mengalami kejadian serupa, Rofiq berujar satu-satunya cara menghadapi situasi tersebut adalah menghentikan pekerjaan sementara demi keselamatan diri. Maka dari itu, hujan ekstrem menjadi tantangan terberat bagi petugas lapangan seperti Rofiq.
Padahal kalau boleh jujur, jabatan staf kepala stasiun yang pernah dia emban dulu jauh lebih nyaman, ketimbang harus panas-panasan atau hujan-hujanan di lapangan sebagai petugas langsir.
Namun sejatinya, Rofiq memang menyukai tantangan. Di sisi lain, ia ingin menjadikan pekerjaannya lebih penuh makna, sesuai dengan karakter insan PT KAI, yakni CITAR (Commitment, Integrity, Teamwork, Accountability, Responsibility).
Menambatkan hati sebagai petugas langsir KAI
Menghadapi amukan cuaca ekstrem hanyalah satu dari sekian banyak tantangan karier yang harus dihadapi Rofiq sejak tahun 2011. Saat berusia 20 tahun, Rofiq nekat melamar kerja di KAI dengan modal ijazah SMA.
Berbekal ijazah itu, ia berhasil diterima di bidang operasional prasarana. Beberapa tahun kemudian, kinerja Rofiq dianggap baik sehingga dia naik jabatan menjadi staf kepala stasiun di Jogja.
Tak lama setelah itu, Rofiq tertarik menjadi petugas langsir usai mengetahui ada salah satu petugas yang pensiun di wilayah Daop 6 Yogyakarta. Bagi Rofiq sebenarnya, tugas langsir adalah pengalaman baru tapi ia mau untuk belajar.
Rofiq pun mulai belajar cara melayani dan memandu langsiran atas perintah Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) sebelum seleksi, hingga akhirnya lolos sebagai petugas langsir di Daop 6 Yogyakarta hingga sekarang.
“Saya juga belajar cara menyusun rangkaian kereta api yang akan berangkat, melepas rangkaian kereta api yang datang, hingga memindahkan sarana kereta api dari suatu jalur ke jalur lainnya,” tutur Rofiq kepada Mojok, Senin (28/9/2026).
Pekerjaan lapangan jauh lebih menantang
Meski sudah berpengalaman menjadi staf kepala stasiun, ritme kerja petugas langsir tetap menuntut kesehatan fisik ekstra. Rofiq pun harus memutar jam biologisnya untuk menyesuaikan diri dengan sistem tiga sif.
Saat pagi, Rofiq harus sudah siap dari pukul 06.00 WIB hingga 14.00 WIB; siang dari pukul 14.00 WIB hingga 22.00 WIB; dan malam dari pukul 22.00 WIB 06.00 WIB.
Dengan ritme tersebut, penting bagi Rofiq untuk mengatur pola makan serta istirahat yang cukup sebelum berdinas. Terlebih ketika kondisi cuaca ekstrem. Selain fisik yang sehat, Rofiq perlu melatih kefokusannya.
“Pekerjaan kami dituntut fokus dan penuh kehati-hatian, terutama saat bekerja di bawah guyuran hujan. Karena kegiatan kami harus naik turun sarana yang licin, serta alat komunikasi bisa terganggu saat hujan,” jelas laki-laki asal Yogyakarta tersebut.
Beruntung, Rofiq tak perlu menantang maut saat hujan ekstrem. Sesuai SOP KAI, petugas langsir justru wajib memprioritaskan keselamatan diri. Misalnya, dengan menepi sejenak saat cuaca mulai berbahaya, sembari memastikan alat kerja mereka tetap aman.
“Pernah suatu hari suara guntur yang keras terdengar, sehingga dengan sekejap tim di lapangan menghentikan sementara gerakan langsir. Kami pun memastikan alat komunikasi dan peralatan kerja tidak ada yang terganggu sehingga dapat melanjutkan kembali kegiatan langsirnya,” tutur Rofiq.
Peran besar petugas langsir di balik layar
Barangkali tak banyak mata yang menyadari peran penting petugas langsir seperti Rofiq. Meski begitu, hal itu tak menyurutkan tanggung jawab besar Rofiq dalam memastikan setiap pergerakan langsiran sarana kereta.
Tanpa arahan yang aman di jalur perpindahan, sebuah perjalanan kereta tak akan presisi dan tepat di jalur yang telah ditentukan. Guna membangkitkan semangat tersebut, Rofiq mengaku tak lupa untuk bersyukur setiap harinya, sekaligus memaknai tugasnya untuk memberi kenyamanan lebih pada penumpang.
Sebab bagi Rofiq, PT KAI adalah rumah keduanya yang memberikan ketenangan melalui jaminan kesehatan kerja yang baik. Lebih dari sekadar memberi kesejahteraan, Rofiq percaya PT KAI tidak pernah berhenti berinovasi untuk terus bertransformasi.
“Terima kasih PT KAI yang selalu mengutamakan kesejahteraan pekerjanya, di HUT ke-81 ini semoga PT KAI menjadi perusahaan negara yang semakin maju dan melayani masyarakat serta selalu meningkatkan kesejahteraan bagi insan PT KAI,” kata Rofiq.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Amunisi di Balik Kemenangan Tim Balai Yasa KAI Saat Tarik Lokomotif 84 Ton atau liputan Muchamad Aly Reza di rubrik Liputan
