Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Masruroh, Ibu Penjual Burjo Gerobak yang Bahagia Bisa Antarkan Anak Lulus Cumlaude di UNY

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
6 Maret 2024
A A
Masruroh, Ibu Penjual Burjo Gerobak yang Bahagia Bisa Antarkan Anak Lulus Cumlaude di UNY MOJOK.CO

Ilustrasi Masruroh, Ibu Penjual Burjo Gerobak yang Bahagia Bisa Antarkan Anak Lulus Cumlaude di UNY. (Agung P/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebahagiaan seorang ibu salah satunya adalah bisa mengantarkan anaknya menyelesaikan kuliah. Apalagi perjuangan tersebut harus dilalui sendirian setelah sang suami meninggal. Itulah yang penjual burjo gerobak, Masruroh (49) rasakan selama 9 tahun terakhir. 

Memutuskan pindah ke Yogyakarta untuk mencari nafkah

“Suami saya meninggal tahun 2015, warisannya ya ini,” kata Masruroh menunjuk sebuah gerobak kecil untuk jualan burjo. Saya menjumpainya tengah duduk termenung di belakang gerobak burjonya, Rabu (6/3/2024) pagi. 

Masruroh menceritakan, suaminya Saripin sudah berjualan burjo di kawasan tersebut sejak 1993. Ia dan suaminya pindah dari Serang Banten di tahun itu dan memutuskan Yogyakarta jadi tempat untuk membangun biduk rumah tangga dan tempat mencari nafkah. 

“Saya asli Cilegon, suami saya asli Brebes, dan memutuskan cari nafkah di Jogja,” kata Masruoh. Sejak awal jualan burjo, gerobak tak pernah ganti. Selalu, menggunakan gerobak yang sama, hanya bergeser tempatnya. Burjo gerobak itu oleh suaminya diberi nama Burjo Barokah.

“Saya pindah ke depan masjid karena di tempat sebelumnya dimintai biaya sewa, padahal saya jualan di pinggir jalan dan gerobak pasti saya bawa pulang. Akhirnya oleh takmir masjid boleh jualan di sini, kalau bayar sewa tempat saya nggak mampu,” katanya.

Antarkan anak lulus cumlaude UNY dari jualan burjo gerobak

Berbekal gerobak warisan suaminya itulah ia berjuang memberi nafkah dua anak perempuannya, Rizki Riyanti dan Dwi Lestari. “Anak sulung saya sudah menikah sudah beri cucu, sekarang ikut suami di Tegalpanggung. Anak bungsu saya minggu lalu baru wisuda di UNY,” katanya. 

Bubur kacang ijo dan ketan hitam Barokah milik Masruroh. Gerobak warisan suaminya yang sudah berusia 30 tahun lebih. (Agung P/Mojok.co)

Ia kemudian mengambil handphone dan menunjukkan foto keluarga saat anak bungsunya melakukan wisuda. Terlihat selempang bertuliskan cumlaude di dada anak bungsunya. 

“Lho, anak njenengan cumlaude, Bu?” tanya saya memastikan. 

“Cumlaude itu apa, Mas,” tanyanya polos. 

Saya kemudian menjelaskan kalau cumlaude itu artinya anaknya pinter. Tampak binar matanya terlihat bangga dengan pencapaian anaknya. Apalagi setahu saya Jurusan Akuntansi di UNY punya tingkat persaingan tinggi. 

“Saya bangga sama anak-anak saya, semua ya dari hasil jualan burjo ini,” kata Masruroh. Anak pertamanya dulu tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak boleh oleh almarhum suaminya. 

“Saat ini menikah, sudah kasih saya cucu. Suaminya itu aktif di sepak bola,” kata Masruroh. Saya mengecek nama suami anak pertamanya di Google. Nama Fandi Budiawan ternyata salah satu pengurus di Asprov PSSI DIY. 

Burjo gerobak yang punya pelanggan-pelanggan setia

Ketika asyik ngobrol, datang salah seorang pelanggannya setianya. Namanya Dinda (32), seorang pegawai di Poltekkes Yogyakarta. “Saya langganan sejak masih SD, sampai sekarang menikah dan punya anak, Mas,” katanya tertawa. 

Dinda mengatakan, suami dan anaknya bahkan sangat suka dengan burjo buatan bu Masruroh. “Anak saya kalau nggak burjo di sini itu nggak mau,” kata Dinda. 

Iklan

Menurut Dinda salah satu keistimewaan burjo Barokah adalah cita rasa dan teksturnya yang pulen. Selain itu tidak menggunakan pemanis buatan. “Deket sini ada burjo yang lebih murah, tapi nggak seenak milik Bu Masruroh,” kata Dinda pamit.

Bu Masruroh mengatakan, selama 30 tahun jualan burjo, ia memiliki pelanggan-pelanggan setia yang membeli burjo buatannya. Selepas Dinda pergi, pembeli lain berdatangan. Saya menunggu hingga suasana kembali sepi.

Masruroh dengan gerobak burjo yang sehari-hari ia gunakan untuk jualan.
Masruroh dengan gerobak yang sehari-hari ia gunakan untuk jualan. (Agung P/Mojok.co)

Menurut Masruroh karena anak bungsunya sudah lulus, praktis penghasilan dari jualan burjo bisa ia fokuskan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti bayar kontrakan rumah. “Belum diizinkan Allah punya rumah, masih ngontrak, tapi sudah bersyukur anak sudah lulus kuliah,” kata Masruroh.

Anak pertamanya juga sudah hidup nyaman dengan suaminya. Bahkan kerap memberi kejutan yang tidak disangka. “Misalnya, membelikan kulkas, tapi nggak bilang. Tiba-tiba dari toko datang menghubungi mau antar kulkas, saya tolak karena nggak membeli. Eh ternyata kejutan dari menantu dan anak saya,” kata Masruroh. 

Begitu juga saat menantu dan anak sulungnnya membelikan gerobak burjo yang baru. Namun, sayangnya gerobak itu tidak bisa ia pakai. “Terlalu tinggi, Mas, Masya Allah, aku kan pendek. Ya seperti itu kalau ngasih kejutan, karena nggak tahu ukuran gerobak malah jadi terlalu tinggi,” katanya tertawa. 

Baca halaman selanjutnya

Gerobak warisan suami yang memberi barokah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2024 oleh

Tags: bubur kacang ijoburjogerobak burjoinspiratiforang biasauny
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
UAD: Kampus Terbaik untuk “Mahasiswa Buangan” Seperti Saya MOJOK.CO
Esai

UNY Mengajarkan Kebebasan yang Gagal Saya Terjemahkan, sementara UAD Menyeret Saya Kembali ke Akal Sehat Menuju Kelulusan

16 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi

11 Februari 2026
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

11 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Terbaik Toyota dan Zenix Tetap Menyedihkan MOJOK.CO

Innova Reborn Mobil Terbaik Sepanjang Masa, Toyota Saja Tidak Rela Menyuntik Mati dan Zenix Tetap Saja Menyedihkan

10 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO

Usia 30 Harus Punya Rp100 Juta Pertama, Tapi Mustahil bagi Sandwich Generation yang Gajinya Pas-pasan dan Sudah Ludes di Tengah Bulan

10 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.