Alumnus S2 Kampus Terbaik IT, Rela Tinggalkan Karier Mapan demi Jadi Peternak Ayam di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

Pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO

ilustrasi - Dewi Apriani pilih resign dari dunia IT dan menjadi peternak di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebelum desas-desus soal perang dunia 3 menjadi nyata, Dewi Apriani (30) sudah mempersiapkan diri. Salah satunya beralih profesi dari pekerja kantoran di bidang IT menjadi peternak ayam di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor untuk slow living.

Waswas dengan isu perang dunia 3

Pada tahun 2016, saat Dewi masih berkecimpung di bidang IT, ia sempat berdiskusi dengan atasannya mengenai masa depan teknologi dan energi listrik. Topiknya bermula dari rumor yang menyebut manusia akan ditempeli Combined Heat and Power (CHP) di masa depan. 

CHP merupakan benda yang dapat menghasilkan energi listrik dan energi termal (panas) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Dalam percakapan tersebut, Dewi agak skeptis, kenapa pula orang perlu ditempeli CHP? 

Sampai ia pikir rumor tersebut hanyalah teori konspirasi. Nyatanya, fenomena ini, kata Dewi, benar-benar terjadi di sebuah negara sejak tahun 2023. CHP ini berfungsi untuk mengontrol penuh manusia guna mengurangi jumlah penduduk (depopulasi).

“Generasi lama dihilangkan, generasi baru dibentuk sejak dini untuk ‘ikut’ mereka,” kata Dewi saat dikonfirmasi Mojok, Senin (2/3/2026).

Pentingnya ketahanan pangan di masa perang

Dewi menjelaskan Indonesia adalah ancaman karena punya tanah yang subur, punya hutan sebagai paru-paru dunia sekaligus membantu keseimbangan iklim global. Tapi nyatanya, kata dia, Indonesia kini mengalami krisis iklim. Kesempatan inilah yang ditunggu oleh negara-negara maju untuk menyerang Indonesia di tengah krisis pendidikan, pemikiran, dan kelaparan.

“Sayangnya, respons dari kebanyakan kita dalam melihat isu perang dunia 3 ini adalah menyepelekan,” ucap alumnus S2 Sistem Informasi Universitas Gunadarma tersebut.

Diskusi Dewi bersama atasan kerjanya pun semakin dalam, hingga Dewi menyadari bahwa sektor pangan akan selalu menjadi kebutuhan dasar manusia yang tak tergantikan oleh mesin.

“Pada akhirnya saat krisis nanti, orang-orang akan saling berebut pangan dan akan lebih memilih menyimpan pangannya sendiri,” ujar Dewi.

Oleh karena itu, lanjutnya, manusia perlu belajar berkebun, beternak, hingga mempelajari sumber obat-obatan alami yang bisa tumbuh secara liar agar bisa bertahan hidup saat perang dunia 3 terjadi.

Belajar ternak secara mandiri

Berangkat dari diskusi panjang di atas, Dewi mulai mempelajari soal teknik beternak ayam selama 3 bulan, sebelum akhirnya resign di bidang IT. Salah satu alasannya memilih beternak ayam, karena selama ini bahan pangan untuk menopang keluarganya tak jauh dari telur dan daging sebagai sumber protein.

Pada akhirnya, pembelajaran soal beternak ayam itu merembet pada pembelajaran bertani. Misalnya, dengan memanfaatkan daun pepaya tua untuk dijadikan pakan ayam sementara daun mudanya bisa dijadikan tumisan, atau memanfaatkan daun pisang muda serta azolla sebagai pakan ternak alami.

Tak hanya itu, Dewi juga memanfaatkan sampah daun yang banyak berserakan di sekitar rumahnya untuk deep litter. Deep litter atau alas kandang dari sampah daun bisa mengurangi bau amonia pada ayam sera meminimalkan pembersihan kandang.

“Rasanya kayak nemu harta karun. Sampai aku mikir gimana caranya bisa bangun ekosistem ini biar bisa muter dan qadarullah aku nemu jalan dengan membangun DeW Farm,” kata Dewi yang pernah berkecimpung di dunia IT selama 8 tahun.

Cara slow living saat perang dunia 3

Pada akhirnya, DeW Farm yang mulanya didirikan Dewi sebagai pasokan pangan pribadi justru berpeluang sebagai ladang bisnis, karena hasil produksi yang meningkat. Dari yang mulanya 9 ekor ayam menjadi ratusan. 

Alhasil, kelebihan hasil produksinya itu ia jual ke orang-orang terdekatnya lewat WhatsApp.

“Ternyata banyak yang minat. Akhirnya orang tua dan keluarga ikut bergabung,” ucap Dewi.

Telur ayam kampung ia jual seharga Rp10 ribu per butir, telur fertil atau bibit seharga Rp5 ribu per butir, ayam pullet umur 4,5-5 bulan yang siap bertelur ia jual seharga Rp100 ribu per ekor.

Siapa sangka, DeW Farm kini membantu Dewi untuk slow living di desa usai resign di bidang IT. Kekhawatirannya terhadap perang dunia 3 juga tidak sia-sia, sebab perang antara negara-negara maju kini bisa jadi bukan lagi skenario fiksi. Dipicu oleh serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran yang kian memanas, serta kebijakan China yang menekan Jepang.

Sebagai perempuan atau ibu rumah tangga pemula yang ingin menjaga ketahanan pangan keluarga seperti dirinya, Dewi menyarankan untuk menanam kangkung, bayam, singkong, cabai, dan tomat. Sementara untuk beternak bisa dimulai dengan merawat 2 ayam jantan dan 7 betina ayam kampung asli.

“Segala sesuatu yang hidup tidak akan punah. Maka saya memilih fokus pada hal yang berkelanjutan: pangan,” kata Dewi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version