Kanker dan usia senja tak membuat Tumirah menyerah dalam mencari nafkah dengan menjual mainan di Gembira Loka. Semangat lansia rentan ini menjadi cermin ketangguhan, yang kini didukung oleh kehadiran bantuan sosial (bansos) dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
***
Usianya tak lagi muda, kanker masih menggerogoti tubuhnya, sementara ia juga bukan berasal dari kalangan berpunya. Namun, kondisi itu tak membuat Tumirah berputus asa dan tetap menyusuri jalanan untuk menjajakan mainan anak di sekitar Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.
Hari-hari ramai seperti Sabtu, Minggu, libur sekolah, atau tanggal merah menjadi kesempatan Tumirah untuk mencari penghasilan di sekitar Gembira Loka. Sambil membawa beberapa jenis mainan, seperti ubur-ubur, kipas, dan kacamata, Tumirah bakal berjalan menyusuri kawasan di sekitar kebun binatang.
Lansia rentan asal Kotagede itu tidak menunggu di satu tempat, melainkan terus berjalan mengikuti keramaian, dari kawasan Bakpia Mutiara menuju Satria Nusantara, Ngguyangan hingga Rejowinangun sambil menentang barang dagangannya.
Sesekali, Tumirah bakal menawarkan barang dagangannya ke salah satu pengunjung. Untuk mainan ubur-ubur, Tumirah mematok harga Rp15 ribu, sedangkan untuk kacamata dia beri harga Rp10 ribu.
Karena itu, penghasilan Tumirah bergantung pada jumlah pengunjung yang datang. Di hari-hari ramai, ia bisa meraup keuntungan sebesar Rp400 ribu. Sebaliknya, jika suasana sepi, Tumirah hanya mendapat uang Rp30 ribu dari 2-3 mainan yang laku terjual dalam sehari.
Tentu saja, angka itu tak cukup untuk memboyong dirinya berobat melawan kanker. Namun, Tumirah terus menyalakan asa.
Semangat pantang menyerah lansia rentan

Sebelum berjualan di sekitar Gembira Loka, Tumirah pernah berjualan di dalam area parkir, tetapi kenaikan biaya tempat memaksanya berjualan di area luar. Saat pedagang lain memilih pindah dan jualan di tempat lain, lansia rentan itu memilih bertahan.
“Dulu, (harga sewa tempat) pertama Rp25 ribu atau Rp800 ribu setahun. Waktu itu saya masih ikut di dalam, tapi sekarang harganya sudah Rp1,5 juta. Akhirnya saya mengundurkan diri dan pilih dagang di luar, gratis walaupun hasilnya beda,” tutur Tumirah.
Tumirah sendiri adalah tengkulak yang memasok barang dagangannya dari toko mainan di daerah Gambiran. Jika stok mulai habis dan musim liburan tiba, ia akan kembali kulak.
“Ini sudah pada habis, nanti musim liburan kulak lagi. Kalau sekarang sedang nggak ada pengunjung,” katanya.
Rela bekerja apa saja untuk menyambung hidup
Namun, berjualan bukan satu-satunya cara Tumirah mengisi hari. Pekerjaan apapun, selagi halal dan bisa, akan ia jalani sepenuh hati. Tiap pagi misalnya, Tumirah bakal menyapu satu kampung untuk mendapat upah Rp250 ribu per bulan dari ketua RT.
Sesekali, Tumirah juga membantu berjualan di sebuah angkringan milik warga. Sebab baginya, kesibukan itu bukan semata perkara uang melainkan mencari kebahagiaan dalam hidup.
“Sudah biasa. Sebagai hiburan bisa bertemu teman-teman,” kata lansia rentan tersebut.

Tumirah bisa kembali menjalani rutinitas itu setelah kondisi kesehatannya membaik. Sebelumnya, kanker payudara yang dideritanya sempat membuatnya harus menghentikan banyak aktivitas. Pengobatan yang terlambat membuat kondisi Tumirah sempat memburuk. Terjadi limfedema atau pembengkakan besar pada lengan kanannya akibat kanker payudara.
“Kanker payudara sejak Covid-19. Kata Pak Dokter terlambat kemo. Saya tanya beliau, bisa sembuh apa tidak? Katanya suruh sabar,” ceritanya.
Bantuan berarti dari Pemda DIY untuk lansia rentan
Karena belum sembuh total, Tumirah melakukan senam sesekali untuk menjaga kondisi tubuhnya walaupun terkadang masih merasa tidak nyaman. Namun, setelah menjalani kemoterapi dan pengobatan, perlahan ia kembali dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
Untuk pengobatannya, Tumirah menyebut tidak perlu mengeluarkan biaya.
“Gratis pengobatan. Kemo seminggu sekali. Alhamdulillah pun saget ngge maem, saget mlampah. Sakniki pun saget. Pak Dokter minta sabar,” ungkapnya.
Di tengah perjuangannya untuk tetap aktif, ada pula bantuan yang membuat kebutuhan sehari-hari Tumirah sedikit lebih ringan. Ia merupakan salah satu penerima Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU).
Program dari Pemerintah Daerah DIY itu menyasar lansia rentan yang belum menerima bantuan sosial reguler, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menginisiasi melalui JSLU agar penerima manfaat mendapat bantuan sebesar Rp300 ribu tiap bulan guna memenuhi kebutuhan dasar lansia rentan.
Bantuan disalurkan secara non-tunai melalui sistem Raharja. Selanjutnya, uang tersebut bisa dipakai untuk berbelanja kebutuhan pokok di Warung Waluyo, yang dikelola oleh warga bekas penerima PKH dan telah mandiri.
Merasa cukup untuk bansos lansia rentan
Bagi Tumirah, bantuan itu menjadi tambahan yang berarti, terutama ketika penghasilan dari berjualan mainan tidak selalu bisa diandalkan. Ia menyebut kebutuhan yang diterimanya cukup lengkap.
“Cukup karena ditambahi tiap bulan dapat JSLU. Bantuan ada minyak, beras, minyak, komplit,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah bantuan JSLU yang diterimanya sudah cukup guna memenuhi kebutuhan lansia rentan, Tumirah menjawab tanpa banyak kata.
“Alhamdulillah, sudah cukup.”
Mungkin, memang itu cara Tumirah melihat hidupnya. Tidak banyak mengeluh, tidak berhenti ketika tubuhnya pernah membuatnya tak berdaya, dan kembali melakukan apa yang masih sanggup dikerjakan.
Di usia senjanya, Tumirah masih memilih berjalan, membawa mainan, menyapu, membantu di angkringan, dan sesekali melakukan senam untuk menjaga kondisinya. Di antara langkah-langkah kecil itu, JSLU menjadi salah satu penopang yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan dasar dan terus menjalani hari.
Sumber: Pemda DIY
BACA JUGA: Mak Wo dan Seporsi Pisang Goreng Antikorupsi di Kampoeng Mataraman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan