Muda dan berbahaya. Rasa-rasanya label itu cocok untuk Alwi Farhan usai menyabet gelar juara Super 500 Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta.
***
Langit Jakarta tampak cerah di Minggu (25/1/2026) sore, secerah prestasi yang berhasil diukir pebulu tangkis Indonesia di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Teriakan nama “Alwi” tak henti-henti terdengar dari para penikmat bulu tangkis yang memadati Istora Senayan. Sementara di kompleks depan tampak kerumunan manusia saling mengekspresikan kegembiraan.
Minggu ini memang menjadi akhir pekan indah bagi para penikmat bulu tangkis nasional. Alwi Farhan, tunggal putra Indonesia, menyabet gelar juara Daihatsu Indonesia Masters 2026 usai menekuk lawannya wakil Thailand, Panitchapon Teeraratsakul, dengan skor telak 21-5, 21-6.
Kemenangan penting yang tak terbayangkan
Sejak Minggu siang, kompleks Istora Senayan memang sudah dipadati para penikmat bulu tangkis nasional. Kebanyakan dari kalangan Gen Z. Wajar, di partai final Daihatsu Indonesia Masters 2026, memang para Gen Z lah yang akan beraksi.
Di sektor tunggal putra ada nama Alwi Farhan. Sementara di sektor ganda putra ada pasangan Nikolaus Joaquin dan Raymond Indra. Alwi sendiri sebelumnya menyebut bahwa turnamen ini memang menjadi ajang unjuk gigi Gen Z sepertinya.
Alwi Farhan menjadi tulang punggung bagi tunggal putra Indonesia di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Ia melaju mulus hingga ke partai final. Dari lima pertandingan yang Alwi jalani, ia mencatatkan empat kemenangan straght games dan hanya satu rubber games.

- Babak 32 besar: Menang dengan skor 21-8, 21-13 atas wakil India Ayush Sehtty
- Babak 16 Besar: Menang dengan skor 15-21, 21-19, 21-16 atas wakil China Wang Zheng Xing
- Perempat Final: Menang dengan skor 22-20, 21-16 atas wakil Jepang Yushi Tanakan
- Semifinal: Menang dengan skor 21-11, 21-12 atas wakil Chinese Taipei Chi Yu Jen
- Final: Menang dengan skor telak 21-5, 21-6 atas wakil Thailand Panitchaphon Teeraratsakul.
“Saya tentu sangat bersyukur. Karena tidak pernah terbayangkan bagi saya, anak kecil dan Item dari Solo bisa naik podium di Istora,” ucap Alwi di sela ingar-bengar perayaan gelar juara.
Gelar juara ini tentu bernilai penting bagi sektor tunggal putra bulu tangkis Indonesia. Sebab sektor ini sempat puasa gelar dalam dua edisi terakhir. Terakhir kali wakil tuan rumah naik podium juara adalah pada Indonesia Masters 2023 melalui Jonatan Christie yang saat itu menundukkan Chico Aura Dwi Wardoyo di partai final.
Selain itu, gelar juara itu juga menjaga marwah Indonesia sebagai tuan rumah. Sebab, Alwi menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang meraih gelar juara. Karena di partai final sektor ganda putra, pasangan Raymond/Joaquin harus takluk dari pasangan Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 19-21, 13-21.
Tampil kurang fit, tapi Alwi menyerap energi suporter di Istora
Sejujurnya, Alwi Farhan tampil dalam kondisi tidak 100% fit. Namun, atmosfer Istora Senayan memberinya energi besar untuk tampil maksimal.
Gemuruh di tribun memang bikin “merinding” karena gemuruh sorak-sorai dari ribuan suporter. Tak henti-henti berteriak dan bernyanyi.
“Karena penonton semakin ramai, membuat tenaga saya seperti nggak ada habisnya dan membuat saya makin termotivasi,” ungkap Alwi.
Tak pelak jika sejak turun arena, ia langsung tampil trengginas dan mendominasi. Lawan di depannya seperti tidak diberi napas. Bertubi-tubi Alwi melayangkan serangan yang membuat lawan tak berdaya.
The authentic Alwi Farhan: tengil tapi…
Alwi langsung bersujud usai memastikan diri menjuarai Daihatsu Indonesia Masters 2026. Setelah itu, ia melakukan beberapa gerakan selebrasi.
Sebelum ini, selebrasi dan gestur Alwi tiap di lapangan memang terkesan tengil. Namun, itu tidak lebih dari mentalitas seorang atlet. Bukan ekspresi kesombongan.
Alwi menyebut gaya tengil itu tidak lah dibuat-buat/disengaja. The authentic Alwi Farhan ya begitu itu. Untuk menunjukkan betapa besar tekadnya untuk menyabet prestasi. Lebih penting dari itu, Alwi menegaskan bahwa apa yang ia raih bukan semata-mata dari dirinya sendiri.
“Alhamdulillah, saya bisa berada di sini atas izin Allah. Banyak perjuangan, rasa sakit, darah, dan air mata yang saya lalui untuk berdiri di podium tertinggi hari ini. Terima kasih kepada pelatih saya, Pak Hary, Koh Indra, Pak Agus, teman-teman, psikolog, serta PBSI dan seluruh tim pendukung yang membantu selama persiapan hingga turnamen ini. Gelar ini saya persembahkan untuk semuanya, terutama kedua orang tua saya,” ujar Alwi.
Terbuka dan siap belajar dari kritik
Alwi pun menyadari bahwa ia masih memiliki kekurangan. Sementara setelah gelar juara Daihatsu Indonesia Masters 2026 ini, bukan tidak mungkin banyak orang makin menaruh ekspektasi besar padanya.
Alwi bertekad memperjuangkan ekspektasi atas dirinya. Namun, ia menekankan bahwa ia sangat terbuka pada kritik.
“Saya akan berjuang keras apapun kondisinya, nggak akan pernah nyerah. Semoga Allah bantu saya, Allah paling tahu apa yg saya perjuangkan,” tutur Alwi.
“Semoga di perjalanan panjang ini saya selalu bisa stay humble. Bisa dengerin saran dan kritik. Jadi saya berterima kasih kepada yang mengkritik, karena saya bisa belajar dari kalian. Jika itu membuat saya lebih baik, why not? Saya terbuka,” sambungnya.
Keep doing, keep moving, dan pelajaran dari CR7
Alwi Farhan masih muda. Masih 20 tahun. Jalannya di kancah bulu tangkis masih panjang.
Oleh karena itu ia tidak mau terlena begitu saja dengan gelar juara Daihatsu Indonesia Masters 2026 yang baru saja ia raih. Tuntas dari satu turnamen, Alwi sudah mempersiapkan diri untuk turnamen berikutnya, dengan level yang mungkin lebih berat.
“Ke depan tentu mengejar turnamen level 750 dan 1000, seperti All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, hingga Olimpiade. Target jangka pendek sudah mulai dibidik dari sekarang agar bisa memantaskan diri tampil di Olimpiade,” kata Alwi.
Bekat juara Daihatsu Indonesia Masters 2026, tidak dimungkiri Alwi kini menjelma menjadi idola di kalangan Gen Z penikmat bulu tangkis. Maka, kepada para Gen Z/anak-anak muda Indonesia, ia punya pesan penting.
“Jangan takut mimpi, keep doing, keep working. Nggak ada yang tahu nanti bagaimana. Tapi kalau kita jatuh, bangan tabrak aja. Apa yang membedakan orang hebat seperti Cristiano Ronaldo (CR7) dengan orang biasa itu kenapa mentalitas yang berbeda,” pungkasnya, diiringi dengan teriakan-teriakan para suporter yang meneriakkan namanya, menanti tanda tangan dan foto bareng.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Para Loyalis Bulu Tangkis: Rela Menabung Demi ke Jakarta, Mengenang Cita-cita Masa Kecil untuk Rasakan Magisnya Istora atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan