Di tengah dunia menyuruh kita pura-pura kuat, “Sway” justru berani menawarkan hal yang sebaliknya: tidak apa-apa untuk merasa hancur sejenak. Itu hal yang manusiawi.
***
“Lagu bosok.”
“Lagu ora mutu.”
“Kalah, wes. Kalah.”
Belakangan, komentar semacam ini sangat sering saya jumpai ketika sedang mampir ke video-video TikTok yang memutar potongan klip lagu “Sway” milik COLORCODE.
Uniknya, makian-makian itu sama sekali tidak menyiratkan kemuakan.
Alih-alih marah sebagaimana tone kalimat yang ditulis, umpatan tersebut hampir selalu diikuti dengan stiker atau gambar orang yang tengah menangis sesenggukan.
Bagi para pendengarnya, makian itu rupanya menjadi cara paling jujur untuk mengakui betapa ambyar-nya emosi mereka saat mendengar karya dari unit pop-punk asal Jogja ini.
“Bubar, bubar! Mlipir nangis.”
Menangisi “Sway”
Sisi emosional itu diamini oleh Ita (21), salah satu pendengar yang menjadikan “Sway” sebagai asupan wajib sehari-hari. Kepada saya, ia mengaku tak peduli jika harus dilabeli FOMO lantaran baru mengenal COLORCODE dari jalur lagu ini, yang tak sengaja mampir di FYP-nya.
Sialnya, “Sway” telanjur menarik Ita masuk terlalu dalam.
Rasa penasaran itu bahkan membuatnya rela memburu panggung live COLORCODE dari XT Square, acara CRSL Land, hingga puncaknya ke festival Soundrenaline Jogja, semata-mata demi mendengarkan “Sway” dilantunkan secara langsung.
“Seneng banget, di acara Soundrenaline kemarin lagu ‘Sway’ dibawain langsung sama adminnya (Sekar Agny),” kata Ita, menceritakan pengalamannya kepada saya.
Di kerumunan Soundrenaline yang sama, ada Puja (23) yang mengaku datang membawa lukanya sendiri. Sebagai pendengar setia sejak band ini belum merilis album penuh, Puja merasa “Sway” datang di momen yang kelewat pas dengan suasana batinnya.
Ia baru saja putus setelah dua tahun menjalin asmara. Kenangannya masih terus berkelebat, dan rasa sakitnya belum bergeser ke mana-mana.
Maka, saat COLORCODE membawakan “Sway” malam itu–ditambah kejutan kolaborasi bersama Sekar Agny, penyanyi perempuan aslinya–pertahanan batin Puja morat-marit.
Ia ikut bernyanyi lantang sambil membiarkan air matanya jatuh, tak peduli lagi dengan gengsi yang selalu memaksa bahwa “lelaki harus kuat”.
View this post on Instagram
Paradoks musik cengeng
Momen magis di panggung tersebut sebenarnya berakar dari konsep lagunya sendiri. Jika kita menengok album perdana COLORCODE bertajuk Constant Change (2026), “Sway” memang sengaja diciptakan sebagai sebuah “anomali”.
Di antara sebelas trek bertenaga tinggi yang dipenuhi distorsi gitar bising, “Sway” justru melucuti semua energi agresif itu. Hanya tersisa petikan gitar akustik yang sunyi dan vokal yang lirih.
Lagu ini terdengar begitu sepi, sangat menyerupai gambaran kamar kosong yang diceritakan di dalam liriknya.
Namun, melihat Puja yang menangis terisak di tengah kemeriahan festival, atau saat membaca ribuan komentar orang yang meratapi nasibnya di TikTok, kita mungkin sempat berpikir: buat apa repot-repot mendengarkan musik yang jelas-jelas hanya menyiksa batin?
Sekitar tahun 2011 lalu, seorang psikolog asal Ohio State University bernama David Huron memperkenalkan sebuah teori yang sangat menarik. Sad Music Paradox, namanya.
Secara alamiah, kata teori Huron, insting manusia selalu ingin berlari menghindari rasa sakit. Namun, anehnya, saat sedang patah hati, kita malah dengan sengaja mencari lagu-lagu sedih yang membuat kita semakin hancur.
Menurut Huron, saat telinga kita meresapi melodi sepi dari lagu sedih seperti “Sway”, otak kita sebenarnya sedang tertipu. Otak kita seolah kena prank. Ia telanjur mengira bahwa kita sedang tertimpa musibah atau kesedihan yang nyata dan mengancam.
Alhasil, sebagai bentuk pertolongan pertama, tubuh otomatis melepaskan hormon yang biasanya cuma keluar saat kita menangis tersedu-sedu atau stres berat. Namanya hormon prolaktin.
Hormon ini bekerja layaknya obat pereda nyeri; ia memberikan semacam pelukan hangat dari dalam tubuh agar mental kita terasa lebih tenang. Saat hormon ini mengalir deras, kita merasa nyaman. Perasaan leganya persis seperti sensasi yang kita rasakan setelah puas menangis panjang.
Karena aslinya kita tidak sedang tertimpa musibah sungguhan di dunia nyata, tubuh pun membatalkan produksi hormon stres. Alhasil, kita hanya menikmati efek nyamannya saja. Kita merasa terpuaskan dan lega tanpa harus menanggung trauma.
Di titik inilah, kesunyian aransemen akustik “Sway” membuat proses penyembuhan bekerja maksimal. Lagu ini seolah memaksa kita untuk duduk diam dan meresapi rasa sakit itu secara jujur, tanpa diberi celah sedikit pun untuk lari.
View this post on Instagram
Mengakui kalau hati sedang hancur bukanlah kelemahan
Mari jujur, lingkungan sekitar kita juga sering kali terlalu kejam pada orang yang kesulitan move on. Lingkungan kerap melabeli mereka, dan juga lagu-lagu yang mereka dengarkan, sebagai pihak yang “cengeng”.
Namun, kita lupa dengan konsep terkenal yang pernah diajarkan Elisabeth Kubler-Ross: lima tahap kedukaan (five stages of grief). Intinya, seseorang umumnya mengalami lima fase saat tengah berduka: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.
Bagi saya, apa yang dialami tokoh dalam lirik “Sway”–yang pada akhirnya juga mewakili perasaan Puja dan banyak orang lainnya–sebenarnya adalah representasi dari fase bargaining atau tawar-menawar, yang sangat wajar buat dilalui. Amat manusiawi.
Fase tawar-menawar adalah momen rapuh ketika pikiran kita berusaha keras berandai-andai demi menolak kenyataan yang pahit. Tokoh di dalam lagu “Sway” terus merawat harapan, ingin agar mantannya merasakan kesepian yang persis sama.
Ia seolah berusaha membekukan waktu, menganggap perpisahan yang padahal sudah berlalu lebih dari setahun itu seakan-akan baru terjadi kemarin sore.
Tersesat di fase ini sama sekali bukan tanda bahwa seseorang itu lemah. Kenyataannya, rasa kehilangan yang mutlak memang terlalu berat untuk ditelan mentah-mentah oleh otak kita dalam satu waktu.
Otak secara alami perlu menciptakan “peredam kejut” dengan cara menolak kenyataan tersebut sementara waktu. Berlama-lama di tahap tawar-menawar, kalau kata Kubler-Ross, justru memberi ruang bagi pikiran kita untuk beristirahat.
Kita sedang membiarkan mental pelan-pelan mencerna realitas yang pahit supaya diri kita tidak langsung hancur berantakan.
Kejujuran lagu “Sway” ini kemudian terasa makin menyayat saat liriknya menampilkan perang batin yang nyata antara logika dan perasaan. Dalam ranah psikologi, kondisi serba salah dan bertolak belakang ini biasa disebut sebagai disonansi kognitif.
Coba perhatikan satu penggalan lirik menjelang akhir lagu yang berbunyi: “And I know nothing ever stays the same” (Dan aku tahu tidak ada yang tetap sama).
Lewat baris ini, secara logika sang tokoh sadar sepenuhnya bahwa hubungannya sudah tamat. Ia paham betul tidak ada hal yang abadi.
Namun, realitasnya, manusia tidak hidup cuma bermodalkan logika. Ada kenangan yang sudah telanjur berakar dan tertanam kuat. Saat malam datang, ketika suasana menjadi semakin sepi dan otak mulai lelah memproses realitas, perasaan kembali mengambil alih kendali.
Alam bawah sadar sang tokoh langsung membantah keras logikanya.
“But I can’t lie / Some nights still screaming out your name” (Namun aku tak bisa berbohong / Beberapa malam masih meneriakkan namamu).
Pertarungan sengit antara akal sehat yang menyuruh melangkah maju dan hati yang masih memaksa menengok ke belakang inilah yang membuat narasi “Sway” terasa begitu nyata.
Lagu ini seolah membenarkan, sekaligus menepuk pundak kita, bahwa proses menyembuhkan luka batin itu memang tidak pernah berjalan lurus-lurus saja. Sangat wajar kalau di siang hari kita merasa sudah kuat, tapi saat malam tiba kita kembali menangis mengingat serpihan kenangan.
Menangis sesenggukan di tengah kerumunan penonton konser, seperti yang dilakukan Puja, bukanlah sebuah kekalahan. Lewat “Sway” yang sunyi, COLORCODE seolah sedang membangun sebuah ruangan aman bagi siapa saja yang lukanya masih basah.
Di tengah dunia yang terlalu berisik menyuruh kita untuk lekas sembuh dan pura-pura kuat, “Sway” justru berani menawarkan hal yang sebaliknya: tidak apa-apa untuk merasa hancur sejenak. Sebab kadang kala, satu-satunya jalan untuk bisa kembali utuh adalah dengan membiarkan diri kita luruh sepenuhnya di dalam keheningan, hingga hati kita perlahan-lahan belajar untuk merelakan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Numeron, Membawa Kebisingan Tulungagung ke Telinga Dunia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan