ADVERTISEMENT

Numeron, Membawa Kebisingan Tulungagung ke Telinga Dunia

Numeron, Membawa Kebisingan Tulungagung ke Telinga Dunia.MOJOK.CO

Ada perasaan yang susah dipahami ketika saya menyaksikan penampilan Numeron tayang di saluran YouTube KEXP. Sebuah percampuran antara takjub, haru, dan kebanggaan yang merayap pelan hingga membuat bulu kuduk merinding. 

Bagi banyak musisi, KEXP bukan sekadar stasiun radio biasa. Ia adalah sebuah institusi kebudayaan yang mengarsipkan sejarah musik alternatif. 

ADVERTISEMENT

Mengudara sejak tahun 1972 dari Seattle, Washington, Amerika Serikat, KEXP telah mengukuhkan posisinya sebagai pelopor radio independen dan salah satu panggung tastemaker paling berpengaruh di dunia. 

Mereka memberikan kebebasan kurasi sepenuhnya kepada para disjoki tanpa intervensi label besar, menghasilkan sebuah ekosistem organik yang dengan los merayakan segala genre dan frekuensi.

Radar KEXP sebenarnya sudah cukup lama menangkap denyut kreatif kancah musik independen Indonesia. Nama-nama seperti LAIR, ALI, Thee Marloes, hingga Filastine & Nova telah lebih dulu mencicipi panggung ikonik tersebut. Memperkenalkan ragam bebunyian Nusantara dari kacamata funk, soul, hingga eksplorasi instrumen tradisional. 

Namun, pada 21 Oktober lalu, melalui kolaborasi strategis dengan AXEAN Festival, sejarah baru benar-benar diukir. Numeron, unit post black metal asal Tulungagung, hadir menginvasi saluran bergengsi tersebut. Mencatatkan diri sebagai band extreme metal pertama asal Indonesia yang sukses menembus batas itu.

Numeron.MOJOK.CO
Potret sang drummer Numeron, Agatha Tito. Baru-baru ini, mereka mencatatkan diri sebagai band extreme metal pertama asal Indonesia yang sukses menembus panggung KEXP. (tangkapan layar/YT KEXP)

KEXP secara khusus memboyong kru produksi dan jajaran kamera mereka ke Bali untuk merekam sesi kolaborasi bertajuk “Live on KEXP in Bali” ini. Menariknya, Numeron hadir tanpa sedikit pun niat untuk berkompromi dengan suasana tropis “yang-Bali-banget”. 

Ketika Bali secara internasional selalu diidentikkan dengan resor mewah, pantai berpasir putih, dan musik latar liburan yang menenangkan pikiran, kuintet ini justru datang membawa awan mendung dan kegelapan dari dimensi yang sepenuhnya berbeda.

Sesi ini direkam secara langsung di Locca Sea House pada 27 Agustus 2026. Latar tempat terbuka yang indah terasa sangat kontras dengan entitas musik mereka yang cadas dan intimidatif. 

Visual terbenamnya matahari Bali dan semilir angin laut berbenturan langsung dengan gempuran distorsi gitar yang bising. 

ADVERTISEMENT

Kontras audial dan visual yang ekstrem inilah yang justru menyentak penonton internasional, menarik leher mereka untuk melongok ke sudut lain dari lanskap musik berat Indonesia yang jauh dari hiruk-pikuk pariwisata.

Numeron.MOJOK.CO
Potret dua gitaris Numeron, Galih Prayogi dan Andro Amanusa. Numeron secara gamblang pernah mengakui bahwa genre yang mereka usung memang adalah blackgaze. Perpaduan beringas antara agresi black metal dan efek reverb shoegaze. (tangkapan layar/YT KEXP)

Secara formasi, kuartet maut ini digawangi oleh Luthfi Anshori pada vokal, Galih Prayogi dan Andro Amanusa di departemen gitar, Fatkurohhim Septianto pada cabikan bass, serta Agatha Tito Yohansah yang mengawal ritme di balik set drum. 

Numeron pamerkan kegelapan blackgaze di KEXP

Publik awam mungkin dengan mudah menyederhanakan musik mereka ke dalam payung besar extreme metal. Namun, bagi saya yang mendengar beberapa karya band ini, saya tak bisa memungkiri adanya pengaruh-pengaruh tebal dari raksasa post-black metal sejenis. 

Nuansa pekat dan sayatan melodinya mengingatkan saya pada karya-karya brilian Alcest asal Prancis yang juga sangat saya kagumi, hingga jalinan melodi melankolis ala Harakiri for the Sky dari Austria.

Numeron sendiri pun pernah secara gamblang mengakui bahwa genre yang mereka usung memang berakar pada blackgaze. Bayangkan perpaduan beringas antara agresi murni black metal dan rapatnya wall of sound berlapis efek reverb dari ranah shoegaze. 

Ciri utama musik mereka tidak sekadar mengandalkan kecepatan, tetapi membangun nuansa yang jauh lebih atmosferik, melankolis, dan kosmik. Fondasi musik mereka bertumpu pada interaksi tremolo picking yang sahut-menyahut antara kedua gitarisnya, menghasilkan sayatan yang agresif–tapi entah bagaimana terdengar rapuh dan kelam. 

Di saat yang sama, dentuman bass dan drum memberikan pijakan blast-beat yang sangat solid agar aransemen terus bergerak melintasi ketukan rumit tanpa sedikit pun kehilangan tenaganya.

Numeron.MOJOK.CO
Potret basis Numeron, Fatkurohhim Septianto Prasetyo. Video penampilan Numeron di KEXP menarik komentar pujian dari para pendengar global yang mungkin baru pertama kali mendengar nama Indonesia disebut dalam kancah blackgaze. (tangkapan layar/YT KEXP)

Saya sebenarnya sudah cukup lama mendengarkan Numeron. Meski tidak mengikuti langkah mereka sejak masa debut di tahun 2020, saya cukup lekat mengikuti perkembangan karya-karyanya. 

Menyaksikan set di KEXP ini, memori saya langsung terlempar pada euforia saat baru pertama kali menonton mereka secara langsung di sebuah konser di Madiun, Jawa Timur, pada 2025 lalu. Energi mentah yang saya saksikan malam itu, kini terekam sempurna dalam produksi kelas dunia.

Penampilan berdurasi nyaris tiga puluh menit di KEXP ini dibuka tanpa basa-basi lewat nomor “Triumph Of Death”, yang seketika menegaskan intensitas pertunjukan lewat tempo yang mencekik. 

Tanpa memberi ruang untuk bernapas, lagu kedua langsung menyusul. Ini adalah momen yang sangat personal bagi saya, karena “Cosmic Symphony” adalah lagu pertama yang bikin saya jatuh hati pada band ini. 

Sesuai judulnya yang mengawang dan megah, trek ini menghadirkan dimensi teatrikal yang dramatis lewat lengkingan vokal Luthfi yang menyayat. 

Numeron.MOJOK.CO
Potret Luthfi Anshori, sang vokalis Numeron. Selama hampir setengah jam, ia membawakan lima trek: “Triumph Of Death”, “Cosmic Symphony”, “The Lost Twin Observer”, “Blood In My Vein”, dan “My Eternity”–yang penuh raungan. (tangkapan layar/YT KEXP)

Agresi tersebut terus dipertahankan dan dieksplorasi lebih jauh melalui eksekusi tajam pada “The Lost Twin Observer” serta “Blood In My Vein”. Bagian-bagian yang lebih melodis sukses menyeimbangkan rentetan ritme bertempo tinggi, menciptakan dinamika emosional sebelum setlist diakhiri secara epik dan melelahkan lewat “My Eternity”.

Pujian lokal dan internasional

Tak butuh waktu lama bagi musikalitas mereka untuk memanen pujian dari penjuru dunia. Video tersebut dengan cepat menarik komentar antusias dari para pendengar global yang mungkin baru pertama kali mendengar nama Indonesia disebut dalam kancah blackgaze. 

Seorang penonton, misalnya, dengan takjub menulis, “Saya tidak familiar dengan band ini! Mereka luar biasa!!!!” Sementara pendengar lain memuji bobot materi dan presisi teknis mereka, bahkan membandingkan karakter vokal dan musik Numeron dengan nama-nama dedengkot dunia seperti Cradle of Filth.

Namun, dukungan emosional paling masif dan mengharukan tentu datang dari publik tuan rumah. Jawa Timur adalah tempatnya skena musik keras bertumbuh dan berakar dengan sangat kuat. Di setiap kotanya, skena bawah tanah ini hidup berdampingan. Mulai dari gigs kecil di studio hingga sirkuit panggung berkapasitas ratusan orang, banyak band-band bagus bermunculan. 

Tiap daerah seolah punya perayaannya sendiri dalam balutan festival musik bising yang digerakkan secara swadaya. Namun, dari rahim pergerakan yang sedemikian masif dan organik itu, saya sungguh tak pernah menduga bahwa dari sebuah kota bernama Tulungagung muncul band yang pada akhirnya menggebrak panggung sebesar KEXP.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Numeron (@numeron.id)

Ini adalah bukti bahwa karya yang solid akan menemukan jalannya. Musik itu sendiri yang kini memperkenalkan dari mana mereka berasal, menembus batas-batas benua tanpa harus bergantung pada lobi-lobi daftar putar radio konvensional, promosi label raksasa, atau modal kapital yang besar.

Tentu saja, secara teknis, menangkap energi mentah dan kebisingan dari band beraliran blackgaze secara live bukanlah perkara mudah. Instrumen yang sangat sarat dengan distorsi, ketukan drum yang ultra-rapat, serta vokal agresif rentan saling bertabrakan, berisiko membuat hasil rekaman terdengar keruh bak kaset rusak. 

Namun, di sinilah tim KEXP membuktikan kelas dan reputasi mereka. Sesi ini dipandu oleh pembawa acara Diana Ratsamee, dengan perekaman audio, mixing, dan mastering yang ditangani secara sangat presisi oleh Matt Ogaz. 

Febri Antonia turut berkontribusi sebagai guest audio engineer, sementara Agus Kardjo memastikan kenyamanan musisi di bagian monitor engineering.

Di ranah visual, bidikan lensa dari kuartet Jim Beckmann, Carlos Cruz, Luke Knecht, dan Ettie Wahl berhasil merangkum kegarangan itu ke dalam tata gambar yang estetis namun tetap dinamis, yang kemudian disunting dengan apik oleh Beckmann. 

Produksi tingkat tinggi ini berhasil memberi setiap instrumen ruangnya sendiri untuk bersuara jernih, sambil tetap mempertahankan intensitas liar dan tingkat kebisingan otentik yang membuat musik ini begitu dihormati penggemarnya.

Sesi KEXP sedari dulu dikenal tidak pernah memberikan ruang bagi pengalihan perhatian visual yang berlebihan. Tidak ada tata lampu panggung yang rumit, asap buatan, atau properti teatrikal. 

Para musisi hanya datang, menyandang instrumen mereka, berkeringat, dan membiarkan musikalitas berbicara dengan sendirinya. Numeron jelas memahami kultur dan tugas tersebut dengan amat sangat baik.

Bali mungkin akan selalu identik sebagai destinasi pelarian bagi para pengunjung yang mencari ketenangan liburan. Akan tetapi melalui distorsi yang memekakkan telinga dan ketukan drum yang presisi, Numeron telah menemukan cara yang jauh lebih beringas, gelap, dan bermartabat untuk membuat perjalanan musik itu berkesan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.